Ludruk dan Reog Kian Bersinar di Surabaya, Dukungan Pemkot Jadi Kunci Pelestarian

21 April 2026 15:56 21 Apr 2026 15:56

Siska Nabilah Q. N., Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Ludruk dan Reog Kian Bersinar di Surabaya, Dukungan Pemkot Jadi Kunci Pelestarian

Pertunjukan Reog di Surabaya pada Senin, 21 April 2026. (Foto: Akun Resmi Pemkot Surabaya)

KETIK, SURABAYA – Eksistensi seni tradisi ludruk dan reog di Kota Surabaya terus menunjukkan perkembangan positif berkat dukungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui berbagai program dan fasilitas.

Hal ini diungkapkan oleh para pelaku seni pada Senin, 20 April 2026, sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya pemerintah dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal sekaligus menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap kesenian tradisional.

Pendiri Komunitas Ludruk Luntas, Robert Bayonet, menilai dukungan Pemkot melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) telah dirasakan langsung oleh para seniman, khususnya dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan kesenian.

“Selama ini yang diberikan cukup bagus terhadap seni tradisi, khususnya ludruk. Walaupun belum 100 persen, tapi cukup kami rasakan ketika membuat event atau melestarikan ludruk ke masyarakat,” ujar Robert.

Ia mencontohkan program “Ludruk Merdeka” yang digelar secara keliling ke 10 kampung sebagai salah satu bentuk dukungan nyata dari pemerintah dalam mendekatkan seni tradisi kepada masyarakat.

“Program Ludruk Merdeka itu keliling 10 kampung dan mendapat support dari pemerintah,” tuturnya.

Terkait akses fasilitas, Robert mengaku tidak mengalami kendala berarti selama mengikuti prosedur yang berlaku. Ia menyebut fasilitas seperti Gedung Nasional Indonesia (GNI) dan Balai Pemuda cukup mudah diakses untuk kegiatan latihan.

“Kita mau latihan di GNI maupun Balai Pemuda sebetulnya mudah, asalkan kita tahu prosedurnya,” ungkapnya.

Ia juga menyambut positif rencana transformasi Dewan Kesenian menjadi Dewan Kebudayaan Surabaya. Menurutnya, perubahan ini akan memperluas perhatian terhadap sektor budaya secara lebih menyeluruh.

“Bagus juga sebenarnya, karena cakupannya akan lebih luas,” katanya.

Robert menambahkan, perkembangan ludruk di Surabaya menunjukkan tren peningkatan, ditandai dengan bertambahnya kelompok seni setiap tahunnya. Ia berharap, ke depan perhatian terhadap seni tradisi bisa semakin intensif.

“Dari tahun ke tahun jumlah kelompok ludruk terus bertambah. Harapannya, dengan adanya Dewan Kebudayaan, perhatian terhadap seni tradisi bisa lebih dekat lagi,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Unit-Unit Reog Kota Surabaya (Purbaya), Budi Sutrisno, turut menyatakan dukungan terhadap rencana transformasi tersebut. Menurutnya, langkah ini akan berdampak positif bagi perkembangan kesenian reog dan seni tradisi lainnya.

“Kalau ini untuk kemajuan kesenian reog dan kesenian lainnya, kami sangat setuju,” ujar Mas Tris, sapaan akrabnya.

Ia berharap Pemkot Surabaya tidak hanya memberikan fasilitas, tetapi juga membuka ruang diskusi seperti sarasehan agar para pelaku seni memahami arah kebijakan pemerintah.

“Biar kami sebagai pelaku dan pelestari seni tahu arah kebijakan dari Pemkot Surabaya,” katanya.

Dalam hal fasilitasi, Mas Tris menilai hubungan antara komunitas reog dan Pemkot Surabaya selama ini berjalan baik. Berbagai kegiatan kesenian disebutnya hampir selalu mendapatkan dukungan dari pemerintah.

“Insyaallah kalau ada agenda kegiatan, pasti difasilitasi,” ungkapnya.

Ia juga melihat atmosfer perkembangan reog di Surabaya semakin meningkat, terutama dari rutinnya pertunjukan yang digelar setiap akhir pekan dan hari libur sebagai bagian dari daya tarik pariwisata.

“Atmosfer kesenian reog di Surabaya sangat meningkat. Hampir setiap minggu atau hari libur selalu ada penampilan untuk pariwisata,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

#BeritaApril infosurabaya Pemkot.Surabaya #LudrukDanReog #PertunjukanSeni