KETIK, SAMPANG – Aktivis asal Sampang, Rofi, melontarkan kritik tajam terhadap operasional SPPG Sampang Tambelangan Banjarbillah yang dinilai sarat persoalan, mulai dari dugaan pemecatan sepihak relawan hingga minimnya transparansi terkait mitra pengelola.
Rofi mengungkapkan adanya laporan bahwa sejumlah relawan diduga diberhentikan secara sepihak oleh pihak mitra SPPG setelah menagih hak gaji mereka. Ia menilai tindakan tersebut tidak hanya melanggar prinsip keadilan kerja, tetapi juga mencerminkan lemahnya tata kelola internal.
“Kalau benar ada relawan diberhentikan hanya karena menuntut haknya, ini sangat memprihatinkan. Ini bukan sekadar persoalan administratif, tetapi menyangkut etika dan perlindungan tenaga kerja,” ujarnya kepada jurnalis Ketik.com, Senin, 4 Mei 2026.
Selain itu, ia juga menyoroti mundurnya Kepala SPPG, Lailatul Fitria, yang dinilai menambah tanda tanya besar terkait kondisi internal lembaga tersebut. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai alasan pengunduran diri tersebut.
Isu lain yang mencuat adalah dugaan keterlibatan seorang oknum yang dikenal sebagai Lora Hisan sebagai mitra SPPG. Namun, identitas dan peran pasti pihak mitra belum pernah disampaikan secara terbuka kepada publik.
Rofi juga mempertanyakan yayasan yang menaungi SPPG Sampang Tambelangan Banjarbillah. Menurutnya, ketiadaan informasi tersebut memperkuat dugaan bahwa pengelolaan lembaga tidak dilakukan secara transparan.
“Publik berhak tahu SPPG ini berada di bawah yayasan apa, siapa mitranya, dan bagaimana sistem pengelolaannya. Jangan sampai ada yang ditutup-tutupi,” tegasnya.
Tak hanya itu, aspek teknis pelaksanaan program juga turut disorot. Ia juga menerima laporan bahwa ada menu MBG untuk kategori B3 yang dibungkus menggunakan kertas, yang dinilai tidak memenuhi standar kelayakan, terutama jika berkaitan dengan keamanan dan higienitas.
Upaya konfirmasi kepada pihak mitra SPPG hingga berita ini diturunkan belum membuahkan hasil. Pihak yang diduga sebagai mitra tidak memberikan respons atas sejumlah pertanyaan yang diajukan.
Sementara itu, Satgas MBG Kabupaten Sampang juga dinilai tidak transparan. Rofi yang dikenal aktivis ulung dan pemerhati MBG di Sampang itu menduga terdapat upaya menyembunyikan identitas mitra SPPG Sampang Tambelangan Banjarbillah dari publik.
“Satgas seharusnya menjadi garda depan dalam memastikan transparansi dan akuntabilitas, bukan justru terkesan menutup-nutupi,” ujarnya.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak SPPG, mitra terkait, maupun Satgas MBG Kabupaten Sampang mengenai berbagai dugaan tersebut. Kasus ini pun memunculkan desakan agar dilakukan audit menyeluruh terhadap operasional SPPG guna memastikan tidak adanya pelanggaran yang merugikan masyarakat maupun relawan. (*)
