KETIK, PROBOLINGGO – Kejuaraan panjat tebing Wali Kota Cup 2026, resmi ditutup pada Sabtu 2 Mei 2026, di arena panjat tebing GOR A. Yani, Kota Probolinggo. Ajang kompetisi tersebut, sebelumnya diikuti ratusan atlet pelajar dari tingkat SD hingga SMP.
Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Probolinggo, Nur Fathur Rachman Efendi, mengatakan, event kali ini lebih menekankan pencarian bibit atlet usia dini.
“Wali kota Cup sebagai pintu masuk untuk melahirkan atlet yang bisa bersaing di level lebih tinggi,” katanya kepada ketik.com.
“Potensinya sudah ada. Tinggal bagaimana pembinaannya dibuat serius dan berkelanjutan,” imbuhnya. Disebutkan Nur Fathur, beberapa atlet panjat tebing asal Probolinggo, sebelumnya sukses di ajang luar daerah bahkan nasional.
Senada dikatakan Ketua KONI Kota Probolinggo, Zulfikar Imawan. Kata dia, keterlibatan pihak sekolah dan sponsor, membuat kegiatan berjalan lancar.
“Sekolah punya peran besar. Dari sanalah atlet-atlet ini muncul. Kalau pembinaan jalan terus, hasilnya pasti kelihatan,” ujarnya.
“Ini juga memperlihatkan jika pembinaan di tingkat sekolah mulai menunjukkan arah yang jelas. Tinggal bagaimana semua pihak menjaga ritmenya,” imbuh pria berkacamata minus itu.
Ia menegaskan, KONI akan terus mendorong event serupa agar tidak berhenti di satu tahun saja. “Konsistensi jauh lebih penting dibanding sekadar seremoni,” tutup pria akrab disapa Iwan, itu.
Dilain pihak, Ikhwan, salah satu orang tua atlet usia dini berharap, Pemerintah Kota Probolinggo, serius mendukung cabang olahraga dimaksud. Dia menilai keseriusan pembinaan harus diikuti dengan peningkatan sarana.
“Alat panjat tebing harus ditambah. Fasilitas itu kunci kalau ingin atlet berkembang cepat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mendorong prestasi. “Pemkot harus benar-benar serius mendukung, bukan hanya saat event saja, tapi juga pada pembinaan jangka panjang,” tambah pria juga anggota Polisi itu.
Senada disampaikan Erik, juga orang tua atlet panjat tebing usia dini. Menurutnya, di cabang panjat tebing, fasilitas utama bukan sekedar dinding panjat. Setidaknya ada tiga jenis yang wajib dimiliki.
Yakni dinding lead untuk jalur panjang, dinding speed standar 15 meter, dan bouldering untuk latihan teknik serta kekuatan.
Selain itu, peralatan dasar seperti tali, harness, carabiner, hingga sepatu khusus juga harus tersedia dalam jumlah cukup.
“Bukan hanya untuk atlet inti, tapi juga untuk pembinaan usia dini. Masalahnya, di banyak daerah, fasilitas ini masih terbatas. Dinding belum standar, alat kurang, dan ruang latihan fisik belum lengkap,” katanya.
“Alat panjat tebing harus ditambah. Fasilitas itu kunci kalau ingin atlet berkembang cepat,” ujarnya.
Menurut ASN di lingkungan Pemkab Probolinggo itu, latihan panjat tebing bukan hanya soal teknik di dinding. Atlet juga butuh fasilitas pendukung seperti hangboard, campus board, hingga ruang latihan fisik untuk melatih kekuatan jari, lengan, dan daya tahan tubuh.
“Kalau fasilitas lengkap, proses latihan jadi lebih terarah. Atlet tidak hanya mengandalkan bakat,” katanya. Ia juga menyinggung peran pemerintah daerah. Menurutnya, dukungan tidak cukup berhenti di pelaksanaan event.
“Pemkot harus serius. Bukan hanya saat lomba, tapi juga pada pembinaan jangka panjang. Di situlah prestasi dibentuk,” tegasnya. Keberadaan fasilitas yang memadai juga berpengaruh pada mental bertanding. Atlet yang terbiasa berlatih di sarana standar akan lebih siap saat turun di kompetisi resmi.
Data dihimpun di lapangan menyebutkan, MI Muhammadiyah 1 Kota Probolinggo, keluar sebagai juara umum. Utusan lembaga tersebut, mendominasi sejumlah kategori usia dini.(*)
