KETIK, PROBOLINGGO – Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, terus mematangkan persiapan pelaksanaan Orientasi Santri Baru (OSABAR). Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar Training of Trainers (ToT) bagi para kakak asuh yang akan mendampingi santri baru selama menjalani masa orientasi di lingkungan pesantren.
Pelatihan tersebut digelar setelah seluruh rangkaian Penerimaan Santri Baru (PSB) selesai dilaksanakan. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan para pendamping agar mampu membantu proses adaptasi santri baru, baik dari sisi psikologis, sosial, maupun kehidupan sehari-hari di pesantren.
Panitia OSABAR menilai keberadaan kakak asuh memiliki peran strategis sebagai orang pertama yang akan mendampingi santri baru mengenal lingkungan pondok. Karena itu, mereka tidak hanya dituntut memahami teknis pelaksanaan orientasi, tetapi juga memiliki kemampuan berkomunikasi, menyelesaikan persoalan, serta membangun kedekatan emosional dengan para santri.
Pelatihan diikuti puluhan kakak asuh yang berasal dari berbagai wilayah atau daerah asal santri. Keterwakilan berbagai daerah tersebut diharapkan mampu mempermudah proses pendekatan kepada santri baru yang berasal dari latar belakang budaya dan karakter yang beragam.
Suasana pelatihan diawali dengan sesi ice breaking dan senam bersama. Kegiatan tersebut dirancang untuk membangun keakraban sekaligus memperkuat kerja sama antarpeserta sebelum memasuki sesi materi.
Pada sesi utama, panitia menghadirkan Ustazah Faridatul Nuraini sebagai pemateri. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa seorang kakak asuh harus mampu menjadi sosok teladan yang menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi santri baru.
"Kakak yang baik bukan yang ditakuti, tetapi yang paling dirindukan," ujar Ustazah Faridatul Nuraini di hadapan para peserta.
Menurutnya, pendekatan yang mengedepankan empati jauh lebih efektif dibandingkan pola pendampingan yang bersifat intimidatif. Kakak asuh diharapkan menjadi tempat bertanya, berbagi cerita, sekaligus memberikan solusi ketika santri mengalami kesulitan selama menjalani kehidupan di pesantren.
Ia menjelaskan, terdapat empat nilai utama yang harus dimiliki setiap kakak asuh, yakni amanah, empati, adil, dan sabar. Amanah diwujudkan melalui kesungguhan menjalankan tanggung jawab pendampingan. Empati diperlukan agar kakak asuh mampu memahami kondisi psikologis santri baru yang sedang beradaptasi dengan lingkungan baru.
Selain itu, sikap adil harus diterapkan dalam memperlakukan seluruh santri tanpa membedakan latar belakang maupun kemampuan mereka. Sementara kesabaran menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai karakter dan dinamika yang muncul selama masa orientasi.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga dibekali pemahaman mengenai berbagai persoalan yang umum dialami santri baru. Beberapa di antaranya adalah konflik antarsantri, tindakan perundungan (bullying), kecenderungan menarik diri dari lingkungan, kerinduan kepada keluarga (homesickness), hingga kesulitan mengatur waktu dalam menjalani aktivitas pesantren.
Untuk membantu mengatasi berbagai persoalan tersebut, pemateri memperkenalkan metode penyelesaian masalah yang dapat diterapkan oleh para kakak asuh. Tahapan tersebut meliputi Observe atau mengamati situasi secara objektif, Think dengan mempertimbangkan solusi yang tepat, Stop untuk mengendalikan reaksi emosional, Process dalam menentukan langkah penyelesaian, serta Educate melalui pembinaan kepada santri.
Materi tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga dikemas secara interaktif melalui diskusi dan studi kasus. Para peserta diberi kesempatan menganalisis berbagai situasi yang mungkin terjadi selama OSABAR, kemudian mendiskusikan langkah penyelesaian yang tepat bersama pemateri.
Melalui simulasi tersebut, para kakak asuh dilatih agar mampu mengambil keputusan secara bijaksana tanpa mengedepankan emosi ketika menghadapi santri yang melakukan pelanggaran ataupun mengalami kesulitan beradaptasi.
Menjelang penutupan kegiatan, seluruh peserta membacakan ikrar komitmen yang dipandu langsung oleh pemateri. Ikrar tersebut menjadi simbol kesiapan para kakak asuh untuk menjalankan amanah mendampingi santri baru dengan penuh keikhlasan, tanggung jawab, dan integritas.
Melalui pelaksanaan Training of Trainers ini, panitia berharap seluruh kakak asuh memiliki bekal yang memadai dalam mendampingi santri baru selama pelaksanaan OSABAR. Dengan pendampingan yang humanis dan edukatif, proses adaptasi di Pondok Pesantren Nurul Jadid diharapkan berlangsung lebih mudah sehingga para santri baru dapat merasa nyaman, percaya diri, dan siap memulai kehidupan sebagai bagian dari keluarga besar pesantren.
.png)