Ketika NU Sibuk Memilih Pemimpin, Kiai Wahid Zaini Mengajarkan Cara Berkhidmat

27 Juni 2026 21:53 27 Jun 2026 21:53

Ponirin Mika, Al Ahmadi

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Ketika NU Sibuk Memilih Pemimpin, Kiai Wahid Zaini Mengajarkan Cara Berkhidmat

Oleh : Ponirin Mika

Kurang dari sebulan lagi, Nahdlatul Ulama akan menggelar Muktamar ke-35 pada 1–5 Agustus 2026, yang disebut sebagai muktamar pertama pada abad kedua perjalanan organisasi ini. Di tengah gegap gempita persiapan itu, ada baiknya kita berhenti sejenak dan menoleh ke belakang — bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk mencari cermin. Dan salah satu cermin paling jernih yang bisa kita tatap adalah sosok KH. Abdul Wahid Zaini, "Sang Mutiara dari Timur" yang hampir satu generasi mendedikasikan hidupnya untuk NU, pesantren, dan masyarakat. 

Muktamar ke-35 mengusung tema "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa." Tema itu terasa bukan sekadar slogan jika kita membacanya bersisian dengan rekam jejak Kiai Wahid. Sebab apa yang beliau lakukan selama puluhan tahun adalah persis itu: menjaga marwah NU bukan dengan pidato-pidato besar, melainkan dengan kerja nyata yang senyap namun mengakar. 

Salah satu hal yang paling relevan dari warisan Kiai Wahid adalah soal kaderisasi. Di era ketika perebutan posisi struktural kerap mewarnai muktamar, Kiai Wahid justru menunjukkan teladan yang berlawanan arus. Beliau beberapa kali didorong menempati jabatan tinggi, namun selalu menolak karena masih merasa punya tanggung jawab yang belum tuntas di pesantren dan NU akar rumput. Di tengah kontestasi menuju Muktamar ke-35 hari ini — di mana nama-nama calon ketua umum sudah ramai diperbincangkan — sikap Kiai Wahid ini terasa seperti tamparan lembut yang menyegarkan.

Lebih dari sekadar menolak jabatan, beliau aktif mencetak kader. Dari pintu LAKPESDAM yang ia rintis sebagai Direktur Wilayah Timur sejak 1984, lahir tokoh-tokoh muda NU seperti Tolkhah Hasan, Arifin Junaidi, dan Rosi Munir — nama-nama yang kemudian mewarnai intelektualisme NU. Inilah yang seharusnya menjadi agenda tersembunyi Muktamar ke-35: bukan hanya memilih pemimpin, tetapi memastikan sistem kaderisasi yang sehat agar NU tidak terus-menerus bergantung pada figur.

Ketika menjadi Ketua Umum RMI, Kiai Wahid menggagas Ma'had Aly — lembaga setingkat perguruan tinggi di pesantren — dengan satu visi yang progresif: agar pesantren bisa mengkaji teori-teori ilmiah di luar kitab kuning dan menjadi basis kaderisasi pemikir muda Islam. Gagasan ini lahir di era 1990-an, ketika internet belum ada dan globalisasi baru mengetuk pintu. Bayangkan betapa relevannya gagasan itu hari ini, ketika pesantren ditantang oleh kecerdasan buatan, perubahan iklim, dan disrupsi ekonomi digital.

Muktamar ke-35 diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat peran organisasi dalam memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Manfaat yang luas itu tidak mungkin lahir dari pesantren yang hanya memelihara tradisi tanpa membaca zaman. Kiai Wahid sudah menunjukkan jalannya: pesantren adalah laboratorium peradaban, bukan sekadar museum ulama salaf. 

Yang membedakan Kiai Wahid dari banyak tokoh NU lainnya adalah kemampuannya membumikan gagasan hingga ke level paling bawah. Ketika menjadi Direktur LAKPESDAM, ia tidak duduk di belakang meja dan mengirim instruksi. Ia turun langsung, mendampingi pengurus cabang, "lebur dengan mereka sampai tuntas." Ketika memimpin Nurul Jadid, ia tidak hanya membenahi kurikulum, tetapi mendirikan balai pengobatan, merintis agrobisnis, dan membangun panti asuhan.

Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengingatkan bahwa keberadaan seluruh pengurus PBNU semata-mata untuk berkhidmat kepada jam'iyah, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Pernyataan itu indah. Tetapi khidmat seperti apa yang dimaksud? Kiai Wahid sudah menjawabnya dengan tindakan, bukan pernyataan: khidmat yang menyentuh tanah, yang terasa langsung oleh petani, santri, dan warga miskin di sekitar pesantren.

Penetapan jadwal Muktamar ke-35 diharapkan menjadi titik awal untuk membuka lembaran baru dalam perjalanan organisasi. Lembaran baru yang paling bermakna bagi NU abad kedua barangkali bukan soal siapa yang memimpin, melainkan soal bagaimana cara memimpin. Dan di situlah warisan Kiai Wahid paling relevan: low profile namun berdampak besar, sistematis namun humanis, moderat namun tidak kehilangan nyali untuk berinovasi. 

NU kini adalah organisasi dengan lebih dari seratus juta anggota. Besarnya badan bisa menjadi kutukan jika tidak disertai kemampuan bergerak cepat dan menyentuh akar rumput. Kiai Wahid adalah bukti bahwa kebesaran NU bukan ditentukan oleh jumlah anggota, melainkan oleh kualitas khidmat yang diberikan kepada mereka.

Muktamar ke-35 tinggal menghitung hari. Semoga para peserta muktamar tidak hanya membawa kertas suara, tetapi juga membawa ingatan tentang sosok-sosok seperti Kiai Wahid Zaini — yang mengajarkan bahwa menjaga marwah NU adalah pekerjaan senyap, tekun, dan seumur hidup.

Wallahu a'lam bishawab.

*) Ponirin Mika adalah Kasubbag Humas dan Infokom PP. Nurul Jadid Paiton dan Ketua Lakpesdam MWCN Paiton, Probolinggo
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.
Tombol Google News

Tags:

Kiai Wahid Zaini Kh Abdul Wahid Zaini Muktamar Nu 2026 nahdlatul ulama Pbnu Indonesia Marwah Nu Kaderisasi Nu Lakpesdam NU RMI NU Ma’had Aly Pesantren Nurul Jadid KH Miftachul Akhyar Ponirin Mika Paiton Probolinggo Opini Keislaman Organisasi Nu Pendidikan Pesantren Budaya Khidmah Indonesia emas Info Nasional Berita Nasional