KETIK, MALANG – Pusat Studi dan Pengembangan Wawasan Kebangsaan (Pusdipwasbang) Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) membekali mahasiswa dengan wawasan kebangsaan melalui studi lapangan. Pembekalan tersebut dilakukan dengan mengunjungi Candi Penataran dan Rumah Bung Karno.
Kepala Pusdipwasbang Unitri, Agustinus Ghunu menjelaskan kegiatan dikemas dalam Blitar Educational Trip (BET) pada Sabtu 20 Juni 2026. Kegiatan juga sebagai peringatan Hari Lahir Pancasila, Hari Lahir Bung Karno, dan wafatnya Bung Karno yang serentak terjadi di bulan Juni.
Mengusung tema “Merawat Sejarah, Meneguhkan Nasionalisme”, implementasi pembelajaran lapangan, seminar, dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dilebur menjadi satu untuk membekali mahasiswa dengan wawasan kebangsaan.
"Mahasiswa tidak hanya mempelajari sejarah melalui buku, tetapi juga menghayati langsung jejak perjuangan bangsa di tempat-tempat bersejarah," ujarnya.
Melalui pembelajaran langsung, mahasiswa diajak berkeliling ke Candi Penataran, Museum Bung Karno, Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Makam Bung Karno, dan Istana Gebang. Selain itu, mahasiswa menyaksikan film sejarah perjuangan Bung Karno sebagai Proklamator dan Presiden Pertama RI. Setelahnya, mahasiswa diminta membuat artikel ilmiah populer, dokumentasi, video edukatif, dan publikasi melalui berbagai platform media sosial.
"Dari pengalaman tersebut diharapkan tumbuh kesadaran untuk merawat sejarah, memperkuat nasionalisme, menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila, sekaligus membentuk karakter dan jiwa kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan bangsa dan negara," lanjutnya.
Keterlibatan mahasiswa dalam Blitar Educational Trip diharapkan dapat mewujudkan pendidikan, penelitian berbasis pembelajaran, pengabdian, literasi sejarah, penguatan karakter kebangsaan yang terintegrasi.
Menurutnya, penguatan karakter kebangsaan dan nasionalisme anak muda harus dilakukan secara berkelanjutan. Dengan demikian sejarah perjalanan bangsa dan nilai-nilai perjuangan tidak mudah dilupakan.
"Penguatan karakter kebangsaan dan nasionalisme generasi muda harus terus dilaksanakan agar mereka tetap mengingat dan tidak meninggalkan sejarah perjalanan bangsa ini. Sejarah bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi fondasi untuk membangun masa depan bangsa," tuturnya.
Tak hanya itu, kegiatan tersebut juga implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan memadukan pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi dituntut mampu mengembangkan soft skills mahasiswa melalui budaya literasi.
"Kreativitas dan inovasi mahasiswa tidak boleh dibatasi oleh ruang maupun persoalan administratif, tetapi harus difasilitasi dan diarahkan agar mampu meningkatkan kapasitas, kompetensi, serta daya saing mereka sebagai generasi penerus bangsa," tegasnya.(*)
.png)