KETIK, MALANG – Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof Widodo, buka suara terkait wacana penghapusan program studi (prodi) yang tidak relevan degan kebutuhan industri dan ekonomi. Pasalnya penutupan prodi tidak dapat dilakukan hanya demi memenuhi kebutuhan industri.
Respons itu muncul setelah adanya wacana dari Kemendiktisaintek untuk menghapus program studi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri dan ekonomi. Prof Widodo menegaskan, program studi tidak dapat serta merta dikaitkan dengan kebutuhan industri, namun harus memperhatikan pengembangan pengetahuan dan teknologi masa depan.
"Bahwa program studi itu tidak serta-merta hanya dikaitkan pada kebutuhan industri, tetapi juga dikaitkan dengan kebutuhan pengembangan pengetahuan dan teknologi masa depan. Nah, itu ya poinnya," jelasnya, Kamis, 30 April 2026.
Menurutnya, ilmu-ilmu dasar yang dimiliki oleh beberapa prodi mampu menjadi penyokong ekosistem riset dan perkembangan ilmu pengetahuan. Prodi dengan disiplin ilmu dasar akan tetap dipertahankan sebagai fondasi utama bagi pengembangan teknologi dan inovasi ilmu pengetahuan di masa depan
"Kadang-kadang ada program studi yang sangat basic, mungkin industri di Indonesia belum begitu bisa menyerap. Tetapi pengetahuan itu harus tumbuh dan berkembang karena dia sangat basic. Itu tetap kita pertahankan untuk mendukung pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang lain," tegasnya.
Untuk itu, ia menilai tidak ada prodi yang terancam dihapus apabila wacana kebijakan tersebut diterapkan. Terlebih berdasarkan survei yang dilakukan, sebanyak 85 persen lulusan UB dapat terserap ke dunia kerja secara tepat waktu.
"Saya kira sementara masih aman ya kalau di UB karena monitoring kita dengan melihat potensi lapangan pekerjaan dan lulusan masih oke. Bahkan Universitas Brawijaya ini kemarin masih 10 besar, bahwa alumni kita bisa terserap di lapangan pekerjaan," lanjutnya.
Kendati demikian, ia menilai bahwa penghapusan prodi merupakan hal yang lumrah dilakukan perguruan tinggi. Setiap kampus memiliki kebijakan untuk monitoring dan evaluasi kurikulum, termasuk memantau penyerapan alumni masing-masing.
"Itu menjadi bagian penting untuk melakukan reposisi ya program studi, baik menutup maupun membuka atau mentransformasi. Tetapi bahwa untuk menutup itu tidak hanya didasarkan pada kebutuhan industri semata, tetapi kita juga melihat kebutuhan pengembangan keilmuan," ucap Prof Widodo. (*)
