Kisah Guru Yasi yang Sukses Ajarkan Anak Tunarungu Pacitan Menari dengan Mata

2 Mei 2026 12:21 2 Mei 2026 12:21

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail Kisah Guru Yasi yang Sukses Ajarkan Anak Tunarungu Pacitan Menari dengan Mata

Guru SLB YKK Pacitan, Yasi Rahajeng Anindyajati (kiri) dan guru lain usai mendampingi sesi pengambilan video dua murid tarinya untuk Lomba FLS3N tingkat Provinsi di Alun-alun setempat, Kamis, 14 April 2026. (Foto: Yasi for Ketik.com)

KETIK, PACITAN – Tak ada musik. Tak ada hitungan. Namun gerakan tetap mengalir, hidup, dan penuh makna.

Di sebuah ruang kelas Sekolah Luar Biasa (SLB) di Pacitan, suasana terasa berbeda.

Hening bukan menjadi penghalang, justru menjadi ruang bagi bahasa lain untuk tumbuh.

Anak-anak berdiri menghadap cermin. Mata mereka fokus. Tubuh mereka bersiap mengikuti setiap gerakan yang akan dimulai.

Di depan kelas, sosok guru bernama Yasi Rahajeng Anindyajati (31) mengangkat tangan. Tatapannya fokus ke siswa dengan penuh hangat.

Ia memberi isyarat, lalu mulai menggerakkan tubuhnya perlahan.

Tak ada aba-aba suara. Tak ada denting musik bagi anak-anak.

Namun dalam hitungan yang tak terdengar, gerakan demi gerakan diikuti. Serempak. Selaras.

Anak-anak tunarungu itu menari.

Mereka tidak mendengar irama. Tapi mereka melihat ritme dari tubuh sang guru.

Dari tangan yang memberi tanda. Dari mata yang menjadi aba-aba.

Di ruang itulah, Yasi tidak sekadar mengajar. Ia sedang menerjemahkan dunia hening anak menjadi panggung yang hidup.

Perempuan asal Desa Bangunsari, Kecamatan Pacitan itu memilih jalan sebagai guru anak berkebutuhan khusus bukan tanpa alasan.

Ia melihat ada ruang yang belum sepenuhnya terisi. Ada anak-anak yang membutuhkan cara berbeda untuk dipahami.

Perjalanannya dimulai dari Surakarta sebagai Guru Pembimbing Khusus. Ia lalu melanjutkan pengabdian di Salatiga.

Hingga akhirnya, ia memutuskan pulang ke Pacitan.

Pada 2024, Yasi bergabung sebagai guru kelas di SLB Yayasan Keluarga Kependidikan (YKK) Pacitan, tempatnya mengabdikan diri saat ini.

Di sekolah itulah, ia menemukan banyak pelajaran baru.

Ia menyadari, tidak ada satu metode yang bisa digunakan untuk semua anak.

Setiap siswa memiliki dunia masing-masing. Cara memahami. Cara merespons. Cara berkembang.

Untuk anak dengan hambatan pendengaran, Yasi menggunakan komunikasi total.

Ia menggabungkan bahasa isyarat, gerak bibir, hingga ekspresi wajah.

Foto Guru SLB YKK Pacitan, Yasi Rahajeng Anindyajati saat memberikan instruksi dengan bahasa isyarat kepada siswa tunarungu dalam kegiatan pembelajaran di kelas. (Foto: Yesi for Ketik.com)Guru SLB YKK Pacitan, Yasi Rahajeng Anindyajati saat memberikan instruksi dengan bahasa isyarat kepada siswa tunarungu dalam kegiatan pembelajaran di kelas. (Foto: Yasi for Ketik.com)

Namun saat mengajar tari, ia menemukan pendekatan yang lebih sesuai bagi mereka, yakni visual dan imitasi.

Sebuah cermin besar menjadi alat utama.

Anak-anak berdiri menghadap bayangan mereka sendiri. Mereka memperhatikan setiap detail gerakan, lalu menirunya perlahan.

“Karena mereka tidak bisa mendengar hitungan, kami beri tanda lewat gerakan tangan untuk perpindahan gerakan atau tempo,” katanya kepada Ketik.com, Sabtu, 2 Mei 2026.

Di awal, semuanya tidak mudah. Ada yang ragu. Ada yang kaku. Ada yang bahkan enggan bergerak.

Namun waktu mengubah segalanya.

Gerakan mulai mengalir. Tubuh mulai lebih luwes. Kepercayaan diri tumbuh, pelan tapi pasti.

Tanpa suara, mereka belajar mendengar melalui mata.

Bagi Yasi, momen paling menggetarkan adalah saat anak-anak itu berdiri di atas panggung.

Di hadapan penonton yang menikmati musik, mereka menari tanpa pernah mendengarnya.

Namun gerakan mereka tetap selaras. Penuh ekspresi.

“Saat mereka berani tampil menari di panggung, bagi saya itu luar biasa. Mereka tidak mendengar musik, hanya mengandalkan isyarat visual,” katanya.

Kemenangan-kemenangan kecil juga lahir di dalam kelas.

Ia mengaku pernah mendampingi seorang siswa tunagrahita yang membutuhkan waktu berbulan-bulan hanya untuk bisa memegang pensil tanpa bantuan.

Hal sederhana, namun bagi siswa, itu adalah pencapaian besar.

“Tiap anak punya potensi, tinggal bagaimana kita menemukan cara yang tepat untuk mengembangkannya,” ucapnya.

Foto Caption foto: Guru SLB YKK Pacitan, Yasi Rahajeng Anindyajati saat memberikan instruksi dengan bahasa isyarat kepada siswa tunarungu dalam kegiatan pembelajaran di kelas.Yasi Rahajeng memberikan instruksi dengan bahasa isyarat kepada siswa tunarungu dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

Menjadi guru SLB bukan perkara mudah.

Tantangan datang dari beragamnya kebutuhan siswa. Tidak ada pendekatan yang bisa disamaratakan.

Untuk itu, Yasi menerapkan Program Pembelajaran Individual. Setiap anak mendapat metode yang disesuaikan dengan kemampuannya.

Perlahan, hasilnya mulai terlihat.

Beberapa siswa mampu mandiri dalam aktivitas sehari-hari.

Bahkan, ada yang berhasil meraih prestasi di ajang FLS3N, LKSN, hingga O2SN tingkat nasional.

Sekolah juga membuka jalan masa depan dengan menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan, memberi peluang bagi lulusan untuk bekerja.

Bagi Yasi, menjadi guru bukan tentang pengakuan.

Ini tentang menjadi jembatan ilmu dan pengetahuan.

“Hanya guru yang bisa menjadi jembatan agar anak menemukan potensi terbaiknya,” katanya.

Di momen Hari Pendidikan Nasional ini, ia berharap negara memberi ruang lebih bagi guru untuk benar-benar hadir bagi siswanya.

“Kalau guru bisa fokus ke anak tanpa terbebani administrasi, hasilnya akan lebih maksimal. Pendidikan itu kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat,” tuturnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

Yasi Rahajeng Guru Slb Pacitan SLB YKK PACITAN Anak Tunarungu Pendidikan Inklusi Pacitan Info Pacitan Berita pacitan