KETIK, BOGOR – Kebijakan yang membuka peluang bagi anak berusia 5,5 tahun untuk masuk sekolah dasar (SD) belakangan menjadi perbincangan publik. Menanggapi hal tersebut, pakar pengasuhan dan perkembangan anak dari IPB University, Prof Dwi Hastuti, menegaskan bahwa usia bukan satu-satunya indikator kesiapan anak memasuki pendidikan dasar.
Ia menilai usia enam tahun tetap menjadi batas yang lebih ideal karena sejalan dengan tahapan perkembangan anak secara umum.
Menurut Dwi, pemerintah menetapkan usia minimal enam tahun berdasarkan berbagai pertimbangan perkembangan. Pada rentang usia tersebut, anak biasanya mulai memasuki masa transisi dari kanak-kanak awal menuju usia sekolah dengan tingkat kematangan yang lebih baik, baik dari sisi berpikir, sosial, maupun emosional.
“Kalau ada anak usia 5,5 tahun yang sudah menunjukkan kematangan sosial, emosional, dan kemandirian yang baik, mungkin bisa menjadi pengecualian. Namun secara umum, anak usia 5,5 tahun masih banyak yang belum cukup matang untuk menghadapi tuntutan sekolah dasar,” ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa, 16 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa kesiapan masuk SD tidak dapat diukur hanya dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Orang tua dan pendidik perlu melihat perkembangan anak secara menyeluruh melalui enam aspek utama, yakni kognitif, fisik-motorik, sosial, emosional, moral-spiritual, serta bahasa.
Dari aspek kognitif, anak yang siap memasuki SD umumnya sudah mampu berpikir lebih konkret, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan mulai menunjukkan kemampuan berpikir kritis. Sementara itu, dari sisi fisik dan motorik, anak telah mampu melakukan berbagai aktivitas sehari-hari secara mandiri, mulai dari menggunakan toilet, mencuci tangan, hingga mengikuti instruksi sederhana dengan baik.
Dwi menekankan bahwa kematangan sosial dan emosional juga memegang peranan penting dalam menentukan kesiapan anak bersekolah. Anak yang telah siap biasanya mampu berbagi, bekerja sama, menunjukkan empati, menghargai orang lain, serta mengelola emosinya dengan lebih baik.
Kemampuan tersebut menjadi modal penting bagi anak untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru sekaligus mengikuti proses pembelajaran yang lebih terstruktur dibandingkan masa pendidikan sebelumnya.
Sebaliknya, ketika anak memasuki SD sebelum mencapai kesiapan perkembangan yang memadai, berbagai dampak negatif dapat muncul. Anak berpotensi mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran, kehilangan kepercayaan diri, hingga merasa tertinggal dibandingkan teman-teman sekelasnya.
Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi tekanan psikologis yang memicu stres, rasa minder, bahkan meningkatkan risiko anak menjadi korban perundungan di lingkungan sekolah.
“Yang perlu dibangun pada anak bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup seperti percaya diri, empati, kemampuan mengendalikan diri, dan toleransi. Fondasi inilah yang akan mendukung keberhasilan anak dalam jangka panjang,” jelasnya.
Karena itu, Dwi mengingatkan agar keputusan memasukkan anak ke SD tidak hanya berlandaskan faktor usia ataupun kemampuan akademik awal. Orang tua perlu memastikan bahwa anak telah siap secara menyeluruh dari berbagai aspek perkembangan.
Menurutnya, memberikan waktu yang cukup bagi anak untuk bertumbuh dan berkembang sesuai tahapannya jauh lebih penting dibandingkan mempercepat masuk sekolah.
“Lebih baik anak masuk SD ketika ia sudah matang, mandiri, dan percaya diri. Tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak cepat sekolah, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkembang secara optimal,” pungkasnya. (*)
.png)