KETIK, SURABAYA – Abrisham Ahmad Rainadha, berhasil meraih medali perak pada ajang Internasional Mathematics Contest Singapore (IMCS) 2026 yang berlangsung pada 25-26 Juli 2026.
Prestasi ini disebut ayahnya Budiono sangat spesial. Pasalnya ia dan anaknya tidak menyangka bisa mendapatkan medali pada kejuaraan bergengsi tersebut. Hal ini dikarenakan Isham, sapaan Abrisham berangkat ke kejuaraan tersebut tanpa target yang muluk-muluk.
Siswa SMPN 6 Surabaya ini mengikuti kompetisi tersebut di kampus Singapore Management University (SMU) yang diikuti 673 peserta jenjang SD hingga SMP dari 8 negara.
Ia berhasil melangkah ke sana setelah lolos seleksi nasional yang diikuti ribuan peserta se-Indonesia, diselenggarakan oleh KPM, hingga akhirnya menyisakan 104 delegasi terbaik untuk mewakili Tanah Air—salah satunya Isham.
"Belajar seperti biasa, latihan soal-soal olimpiade internasional, sama ikut ekskul matematika di sekolah," kata Isham singkat, Rabu, 29 Juli 2026.
Kesederhanaan cara belajar itu rupanya berbanding lurus dengan konsistensi prestasinya. Ketertarikan Isham pada matematika mulai terbaca sejak duduk di kelas 4 SD. Ketika itu ia terpilih mewakili SDN Klampis Ngasem I Surabaya dalam seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kecamatan.
Sejak itu, satu demi satu kompetisi ia jajal: medali Perunggu di Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2025, medali Perunggu lagi di IMCS 2025, hingga medali emas American Mathematics Olympiad (AMO) 2025.
Isham tidak sendirian mengharumkan nama SMP Negeri 6 Surabaya di IMCS 2026. Rekan sekolahnya, Maleia Janeeta Hermawan, turut berlaga dan membawa pulang medali Perunggu. Keduanya sama-sama bagian dari Satya Askara, kelompok peneliti muda SMP Negeri 6 Surabaya yang rutin turun di berbagai kompetisi inovasi tingkat nasional bersama anggota-anggota lainnya.
Filosofi tanpa tekanan inilah yang menurut Budiono menjadi kunci anaknya tetap enjoy berkompetisi. "Saya dan mamanya tidak pasang target apapun, buat kami anak mau ikut kompetisi internasional dengan soal bahasa Inggris saja sudah bagus, artinya dia punya semangat untuk berjuang," ujarnya.
Baginya, hasil akhir bukan hal yang paling utama. "Menang kalah itu biasa, yang penting harus berusaha sungguh-sungguh," tambah Budiono.
Langkah Abrisham Ahmad Rainadha dan Maleia Janeeta Hermawan di IMCS 2026 menjadi contoh bahwa prestasi besar tak selalu lahir dari tekanan besar. Justru dukungan yang tenang dari keluarga, ditambah ekosistem sekolah yang mendorong minat anak berkembang secara alami, bisa mengantarkan pelajar Surabaya bersaing—dan menang—di panggung matematika internasional. (*)
