Pecco Bagnaia: “Saya Merasa Dipermalukan” Usai Kembali Terpuruk di Sprint Misano

13 September 2026 03:01 13 Sep 2026 03:01

Ika Setya Y., Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Pecco Bagnaia: “Saya Merasa Dipermalukan” Usai Kembali Terpuruk di Sprint Misano

Pecco Bagnaia tua hasil mengecewakan di GP Misano (Foto: Ducati Corse)

KETIK, JAKARTA – Francesco Bagnaia kembali menjalani Sabtu yang ingin segera ia lupakan. Tampil di hadapan publik Italia pada MotoGP San Marino 2026, rider Ducati Lenovo itu justru harus melewati Sprint Misano tanpa mampu mencetak poin.

Pecco memulai Sprint dari posisi ke-14 setelah kembali gagal menembus Q2. Posisi tersebut sudah menjadi tanda bahwa akhir pekannya di Misano tidak berjalan sesuai harapan. Apalagi, ia datang ke sirkuit yang pernah menjadi salah satu tempat terbaiknya bersama Ducati.

Namun, situasinya tidak membaik ketika balapan dimulai.

Bagnaia memang mencoba melakukan recovery dari barisan belakang, tetapi kecepatannya tidak cukup untuk membawa Ducati Desmosedici GP26 miliknya mendekati grup depan. Di saat Marc Marquez bertarung untuk kemenangan dan Jorge Martin mengamankan podium, Pecco justru kembali kesulitan menemukan ritme.

Pada akhirnya, ia gagal masuk zona poin dalam Sprint.

Hasil tersebut terasa semakin menyakitkan karena masalah yang dialami Bagnaia bukan sesuatu yang baru. Sepanjang musim 2026, rider Italia tersebut beberapa kali mengeluhkan kurangnya grip belakang dan kesulitan mendapatkan feeling yang ia butuhkan dari motor Ducati. Masalah itu kembali muncul di Misano.

Dilansir dari GPOne, Bagnaia tidak menyembunyikan rasa frustrasinya setelah Sprint.

“Saya mencoba untuk tetap positif, tetapi hasilnya tidak berubah. Semua orang sudah menemukan solusi, sementara kami kehabisan pilihan. Saya tidak senang dan saya merasa dipermalukan dengan apa yang terjadi.”

Bagnaia juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin melampiaskan frustrasi kepada orang-orang di dalam garasi.

“Kalau saya harus berteriak, saya akan melakukannya di atas motor, bukan di garasi,” ujar Pecco seperti dilansir GPOne.

Ucapan tersebut menggambarkan betapa pelik situasi yang sedang dihadapi juara dunia 2022 dan 2023 itu.

Ironisnya, Misano seharusnya menjadi salah satu kesempatan terbaik Bagnaia untuk bangkit. Ia bahkan masih memegang rekor lap MotoGP sebelumnya di sirkuit tersebut, dengan catatan 1 menit 30,031 detik yang dibuat pada 2024. Tahun ini, justru ia harus memulai Sprint dari posisi ke-14.

Di depan, Marc Marquez kembali menunjukkan performa luar biasa. Ia merebut holeshot dari Bezzecchi dan memimpin seluruh Sprint untuk mengamankan kemenangan ke-21 dalam sejarah Sprint MotoGP. Bezzecchi finis kedua dengan selisih 1,068 detik, sementara Jorge Martin melengkapi podium.

Kontras dengan performa rekan setimnya tersebut tentu semakin membuat situasi Bagnaia sulit diterima.

Terlebih, Ducati sendiri sudah dipastikan akan berpisah dengan Bagnaia pada akhir musim 2026. Dengan situasi tersebut, setiap akhir pekan yang buruk semakin memperbesar pertanyaan mengenai bagaimana Pecco akan mengakhiri periode panjangnya bersama tim pabrikan Ducati.

Namun Pecco belum menyerah.

Masih ada balapan utama pada Minggu. Dan jika ada satu hal yang sudah berkali-kali ditunjukkan Bagnaia sepanjang kariernya, itu adalah kemampuannya bangkit ketika berada dalam situasi sulit.

Masalahnya sekarang bukan sekadar seberapa cepat Pecco bisa membalap.

Ia harus menemukan kembali rasa percaya dirinya terhadap motor yang sedang ia kendarai.

Tombol Google News

Tags:

Francesco Bagnaia Ducati Corse MotoGP