KETIK, SURABAYA – Dualisme kepengurusan Persatuan Catur Indonesia (Percasi) Kota Surabaya antara kubu Didik Edy Susilo dan kubu Budi Leksono belum menemukan titik terang.
Dalam keterangan persnya, Didik Edy Susilo mendesak Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Surabaya segera mengeluarkan rekomendasi agar segera dikukuhkan.
"Kami meminta KONI Surabaya segera mengeluDkan rekomendasi ke Pengprov Percasi Jatim. Tujuannya agar dapat SK Kepengurusan," kata salah satu formatur Muskotlub Percasi Surabaya, Soerdamadji, Minggu, 28 Juni 2026.
Lebih lanjut, muskotlub yang telah diselenggarakan pada 2024 itu merupakan forum tertinggi dan resmi berdasarkan rekomendasi dari Ketua KONI Surabaya dan Pengprov Percasi Jatim.
Namun hasil muskotlub terganjal masalah KONI Surabaya yang juga menerima kepengurusan Budi Leksono. Dimana kata kubu Didik tak memenuhi syarat, lantaran telah menjabat dua periode.
Berdasarkan Pasal 21.7 AS/ART Percasi dijelaskan, jabatan ketua kabupaten/kota baik secara berturut-turut atau tidak maksimal hanya dua periode, kecuali memang tidak ada calon.
"Pak Didik ini sudah mencalonkan sebagai ketua. Otomatis kalau sudah ada yang mencalonkan sebagai ketua. Otomatis tidak bisa yang 2 periode maju lagi," lanjut Soerdamadji.
Dengan persoalan ini, Didik mengaku miris. Dualisme kepengurusan Percasi Kota Surabaya ini dapat berimbas kepada pembinaan atlet dan organisasi. Terlebih Surabaya menjadi tuan rumah Porprov 2027.
"Menghadapi Porprov, kami bertanggungjawab menyiapkan atlet-atlet. Kami sayang sekali terhadap Kota Surabaya ini kalau masalah ini tidak segera selesai," ungkapnya.
Lebih lanjut Didik menuturkan, jika ia telah terpilih sebagai Ketua Percasi Kota Surabaya pada 2024. Namun hingga kini belum ada surat rekomendasi dari Ketua Umum KONI Surabaya, terkait keabsahan hasil muskotlub. Justru pihaknya mendengar rekomendasi diberikan kepada Budi Leksono hasil muskot lain yang dinilai cacat hukum.
"Kecurigaan saya ini ada tekanan politis. Maksud saya olahraga ya olahraga, politik ya politik, jangan begitu kasihan atletnya. Padahal Porprov butuh medali banyak," ujarnya.
Sementara itu hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan dari KONI Surabaya. Bagaimana langkah selanjutnya yang segera diambil. (*)
.png)