KETIK, JAKARTA – Musim kemarau tak hanya identik dengan minimnya hujan, tetapi juga membuat suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin. Di Pulau Jawa, kondisi tersebut dikenal masyarakat sebagai fenomena bediding.
Prakirawan Cuaca BMKG, Henokhvita, menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh angin monsun Australia yang membawa massa udara kering. Kondisi tersebut membuat pembentukan awan berkurang sehingga panas dari permukaan Bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari.
"Dalang utamanya adalah monsun Australia. Angin musim yang kering ini menyapu uap air dan mengurangi pembentukan awan di langit kita," ujar Henokhvita.
Berdasarkan data BMKG selama 10 tahun terakhir, penurunan suhu mulai terasa pada Juni dan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus. Di Kabupaten Malang, suhu udara bahkan dapat turun hingga di bawah 19,5 derajat Celsius, lebih rendah dibandingkan Jakarta yang cenderung tetap hangat.
Selain itu, citra Land Surface Temperature (LST) malam dari sensor MODIS juga menunjukkan adanya pola zona dingin yang membentang mengikuti kawasan pegunungan di Pulau Jawa. Hal tersebut menegaskan pengaruh topografi dan elevasi terhadap penurunan suhu udara.
Di wilayah dataran tinggi, seperti Gunung Bromo, suhu yang sangat rendah dapat memicu terbentuknya embun upas, yakni embun yang membeku menjadi kristal es di permukaan tanaman.
"Data AWS BMKG mencatat suhu di Bromo menyentuh angka 3,9 derajat Celsius pada 11 Juni. Namun, Dieng juaranya. Suhunya hampir menyentuh titik beku, yakni 0,7 derajat Celsius," kata Henokhvita.
Melalui fenomena ini, BMKG mengajak masyarakat untuk lebih memahami karakteristik musim kemarau di Indonesia. Masyarakat juga diharapkan memperhatikan perubahan suhu udara di wilayah masing-masing, terutama pada malam hingga pagi hari yang umumnya terasa lebih dingin dibandingkan siang hari.
.png)