KETIK, GRESIK – Strategi agroforestri berbasis tanaman porang mulai diterapkan di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, sebagai upaya mengurangi konflik antara masyarakat dengan babi kutil Bawean (Sus verrucosus blouchi), satwa endemik yang berstatus terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Program tersebut dijalankan Yayasan Bhakti Bhumi Naraya (Binaya Foundation) bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melalui pengembangan demplot agroforestri porang yang diharapkan mampu melindungi lahan pertanian sekaligus menjaga kelestarian habitat satwa liar.
Selama beberapa tahun terakhir, babi kutil Bawean kerap memasuki lahan pertanian warga untuk mencari pakan. Berdasarkan hasil survei, tanaman padi menjadi komoditas yang paling banyak mengalami kerusakan akibat serangan satwa tersebut dengan persentase mencapai 55,8 persen.
Selain padi, kerusakan juga terjadi pada tanaman singkong, ubi jalar, jagung, pisang, kelapa, kacang tanah, hingga bayam.
Sebagai solusi, Binaya mengembangkan sistem agroforestri menggunakan tanaman porang (Amorphophallus muelleri). Tanaman ini dipilih karena mengandung senyawa yang tidak dapat dicerna babi kutil sehingga tidak menjadi sumber pakan satwa tersebut. Di sisi lain, porang juga memiliki nilai ekonomi yang dapat meningkatkan pendapatan petani.
Sebanyak 50 peserta yang terdiri atas tiga gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Desa Telukjatidawang, Dekatagung, dan Sukaoneng, serta personel Masyarakat Mitra Polisi Hutan (MMP) RKW 09 Gresik-Bawean mengikuti sosialisasi dan praktik lapangan.
Perwakilan Binaya, Riefvandha Gadhienk O., S.Hut., mengatakan agroforestri merupakan sistem pemanfaatan lahan yang mengintegrasikan tanaman kehutanan dengan tanaman semusim sehingga mampu memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat.
Praktisi budidaya porang asal Desa Balikterus, Sadiman, mengaku masyarakat Bawean sebelumnya menganggap porang sebagai tanaman liar yang tidak memiliki nilai.
"Dulu warga mengira porang hanya gulma yang mengganggu lahan. Sekarang justru menjadi komoditas bernilai ekonomi. Tahun 2018 harganya sekitar Rp6.000 per kilogram, sedangkan pada 2026 umbi basah sudah mencapai Rp12.500 per kilogram. Jika diolah menjadi porang kering, nilainya jauh lebih tinggi," ujarnya.
Sebagai bagian dari program tersebut, Binaya menanam 420 bibit katak porang pada lahan percontohan milik petani di bawah tegakan pohon jati. Organisasi itu juga menyalurkan 120 bibit sengon, 60 bibit sukun, dan 720 bibit porang kepada tiga Gapoktan peserta program.
Petani setempat, Faruq, berharap budidaya porang dapat menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat yang selama ini mengalami kerugian akibat serangan babi kutil.
"Harapan kami, demplot ini bisa menjadi contoh sehingga petani tetap memperoleh penghasilan tanpa harus mengganggu hutan yang menjadi habitat babi kutil," katanya.
Senada, warga Bawean, Fera, berharap program agroforestri tersebut dapat terus berlanjut agar kelestarian alam Pulau Bawean dan keberadaan babi kutil sebagai satwa langka tetap terjaga.
.png)