KETIK, MALANG – Kepala SMA Negeri 9 Malang, Wawan Pramunadi, mulai merancang sembilan pilar utama sebagai arah pengembangan sekolah setelah resmi dilantik sekitar sebulan lalu. Untuk merealisasikan program tersebut, ia telah membentuk tim khusus yang bekerja secara struktural.
Pilar pertama yang menjadi fokus adalah penguatan wawasan global. Melalui program ini, sekolah akan memberikan layanan bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
"Yang pertama itu Global. Jadi nanti isinya layanan. Gunanya memfasilitasi siswa yang mau melanjutkan pendidikannya ke luar negeri," ujar Wawan.
Menurutnya, SMA Negeri 9 Malang harus mampu mencetak lulusan yang tidak hanya berprestasi di tingkat nasional, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional. Dukungan ekonomi sebagian besar orang tua siswa dinilai menjadi peluang untuk mendorong akses pendidikan ke luar negeri.
Pilar kedua adalah pendidikan inklusif yang memberikan kesempatan belajar yang sama bagi seluruh siswa, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus.
"Terus inklusi. Semua siswa harus setara, semua siswa harus mendapatkan hak yang sama dan kesempatan yang sama," jelasnya, Kamis, 16 Juli 2026.
Pilar ketiga yaitu Bahagia. Ia mengatakan sekolah juga berupaya membangun kedekatan emosional dengan siswa sejak mereka memasuki lingkungan sekolah.
"Ketika jam-jam anak-anak masuk gerbang sekolah, saya cek raut wajahnya. Apakah terlihat senang atau sedih. Dari sana kami tau mereka belajar dengan kondisi demikian. Maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami support dengan dukungan psikologis awal. Panggil namanya, tanyakan keadaannya," ucap pria bergelar Magister Pendidikan tersebut.
Selain itu, Wawan juga mengembangkan konsep Sekolah Alam sebagai pilar keempat agar pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, melainkan juga melalui pengalaman langsung di lingkungan sekitar.
Pilar kelima berfokus pada ketahanan energi. Salah satu program yang disiapkan adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) dengan memanfaatkan aliran sungai di sekitar sekolah.
"Anak-anak nanti akan diajari ketahanan energi melalui sekolah alam. Minimal sudah membuat PLTMH, Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro lewat memanfaatkan sungai di sekitar sekolah," jelasnya.
Sementara itu, pilar keenam menitikberatkan pada ketahanan pangan melalui program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP). Siswa akan dibekali keterampilan bercocok tanam, seperti menanam pisang, ubi, tomat, dan berbagai komoditas lainnya.
Pada pilar ketujuh, sekolah akan menghadirkan mata pelajaran kewirausahaan sebagai bekal menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.
"Kita tidak tahu nasib anak-anak ke depan. Tiba-tiba semula ekonominya di atas kemudian drop, kewirausahaan ini menjadi solusi siswa nanti untuk bangkit semangat lagi untuk berwirausaha," jelasnya.
Adapun pilar kedelapan menempatkan sekolah sebagai konselor bagi siswa dengan memperkuat dukungan emosional agar tercipta lingkungan belajar yang nyaman dan layak seperti keluarga.
Untuk pilar kesembilan, Wawan menyiapkan program pembinaan prestasi melalui konsep Ber-3 yang terdiri atas Berproses, Beristiqomah, dan Berserah.
"Kami punya program Ber-3, jadi Ber-nya ada tiga. Apa saja itu? Berproses, Beristiqomah, dan Berserah. Itu harus jalan semuanya," sebut Wawan.
Sebagai implementasi program tersebut, pihak sekolah tengah merancang kelas prestasi yang berfokus pada bidang sains dan riset sebagai wadah pembinaan calon peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN).
"Untuk itu saya sedang merencanakan adanya kelas prestasi, yaitu kelas sains dan riset. Kalau di sekolah lain namanya kelas persiapan OSN," ungkapnya.
Ia menambahkan, keberhasilan yang diraih siswa nantinya merupakan hasil dari proses yang dijalani secara konsisten. Menurutnya, prestasi dan medali hanyalah bonus dari usaha yang telah dilakukan.(*)
.png)