KETIK, SURABAYA – Di tengah derasnya arus konten digital yang terus bersaing merebut perhatian publik, nama Anas Fikry dan Risky Adelia Regina Putri justru mencuri hati jutaan warganet bukan karena kehebohan semata, melainkan karena kejujuran. Pasangan suami istri yang aktif di TikTok melalui akun @anas_fikry dan @adellliiyyaaaa ini membangun eksistensi digitalnya lewat konten kehidupan rumah tangga yang sederhana, hangat, dan menghibur—dibalut dengan semangat berbagi yang tak berhenti di layar.
Anas Fikry lahir di Sampang, Jawa Timur, pada tahun 1996. Ia menikahi Risky Adelia Regina Putri, perempuan kelahiran Bondowoso tahun 2005. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai seorang putri bernama Alena Nazwa, yang lahir pada 2025 dan bahkan telah hadir di dunia digital lewat akun @alena_nazwa25. Kehadiran sang buah hati turut menggeser cara pandang Anas dalam berkarya.
"Kelahiran putri kami, Alena Nazwa, benar-benar mengubah perspektif kami tentang konten dan kehidupan secara umum. Sebagai orang tua, tentu ada tanggung jawab yang lebih besar untuk memastikan bahwa setiap konten yang kami bagikan mencerminkan nilai-nilai yang baik dan positif untuk keluarga Indonesia," ungkap Anas.
Konten yang mereka sajikan tidak mengandalkan drama atau sensasi. Anas menjelaskan bahwa pendekatan autentik adalah fondasi utama yang mereka pegang sejak awal. "Konten yang kami buat memang sederhana, hanya tentang kehidupan sehari-hari pasangan suami istri. Tapi kami sadar bahwa banyak orang yang merindukan kebersamaan dan kehangatan seperti itu. Itu sebabnya kami selalu berusaha menghadirkan momen-momen autentik tanpa dibuat-buat, karena kejujuran adalah kunci untuk terhubung dengan penonton," tuturnya.
Konsistensi menjadi strategi utama pasangan ini dalam mempertahankan loyalitas audiens. Anas menegaskan bahwa angka bukanlah satu-satunya tolok ukur keberhasilan.
"Konsistensi adalah rahasia kami dalam membangun audiens yang setia. Tidak peduli berapa banyak view atau like yang kami dapatkan, kami selalu upload konten secara teratur dan menjaga kualitasnya. Audiens bukan hanya tentang angka, tetapi tentang komunitas yang benar-benar peduli dengan apa yang kami bagikan," jelasnya.
Popularitas yang mereka raih tidak berhenti sebagai kapital personal. Anas dan Risky aktif menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, mulai dari fakir miskin hingga warga yang memerlukan uluran tangan—dan kegiatan tersebut bukan sekadar konten tambahan.
"Kegiatan sosial yang kami lakukan adalah bagian integral dari perjalanan kami, bukan hanya sekadar konten tambahan. Ketika kami melihat masyarakat yang membutuhkan, kami merasa terpanggil untuk membantu. Popularitas di media sosial harus bermakna, harus ada dampak nyata bagi kehidupan orang-orang sekitar kita," kata Anas.
Pandangan itu senada dengan apa yang disampaikan Risky. "Kami ingin dikenal bukan hanya karena konten yang viral, tetapi juga karena manfaat yang bisa kami berikan kepada orang lain. Kehadiran keluarga kecil kami menjadi penyemangat untuk terus berkarya, bekerja, dan berbagi kepada sesama," ujar Risky.
Ia juga berharap platform digital bisa bergeser menjadi ruang yang lebih bermakna. "Kami berharap media sosial dapat menjadi ruang yang lebih positif. Tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi tempat untuk menebarkan semangat kepedulian dan saling menguatkan," tambahnya.
Di luar dunia konten, Anas dan Risky juga mengembangkan usaha skincare dengan merek Allface. Bagi Anas, langkah ini adalah bentuk keseriusan mereka sebagai pelaku ekonomi kreatif yang tidak hanya mengandalkan algoritma.
"Bisnis skincare Allface yang kami jalankan bersama-sama adalah wujud nyata dari semangat berwirausaha kami. Kami tidak ingin hanya dilihat sebagai kreator konten yang bergantung pada algoritma, tetapi juga sebagai pelaku bisnis yang serius membangun produk berkualitas untuk masyarakat," tegasnya.
Latar belakang daerah yang mereka miliki justru menjadi kekuatan, bukan keterbatasan. "Di Sampang, tempat saya lahir, dan di Bondowoso tempat istri saya berasal, kami melihat banyak potensi yang belum tersentuh. Melalui platform digital, kami ingin menunjukkan bahwa dari daerah manapun, kita bisa bersinar dan berkontribusi untuk yang lebih luas. Semangat lokal dengan jangkauan global adalah moto kami," ujar Anas.
Anas menutup pernyataannya dengan visi jangka panjang yang melampaui angka pengikut. "Bagi kami, media sosial bukan hanya tempat untuk mencari hiburan atau berbagi konten, tetapi juga menjadi sarana untuk menyebarkan hal-hal positif. Jika apa yang kami lakukan bisa membuat orang tersenyum, terhibur, dan sekaligus menginspirasi untuk saling membantu, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami," tuturnya.
Ia juga menyampaikan, "Kami percaya bahwa rezeki yang kami dapatkan tidak hanya untuk dinikmati sendiri. Selama masih diberikan kemampuan, kami ingin terus berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan. Semoga apa yang kami lakukan bisa menjadi motivasi bahwa sekecil apa pun kebaikan, akan selalu memiliki arti bagi orang lain."
Cita-cita Anas ke depan pun merentang lebih jauh dari sekadar hiburan. "Ke depannya, saya ingin Anas Fikry tidak hanya dikenal sebagai content creator yang lucu dan menghibur, tetapi juga sebagai seseorang yang mampu menginspirasi orang lain untuk berbuat baik. Jika konten kami bisa memotivasi seribu orang untuk membantu satu orang yang membutuhkan, maka tujuan kami sudah tercapai," pungkasnya.
Perjalanan Anas Fikry dan Risky Adelia Regina Putri membuktikan bahwa di era digital ini, konten yang paling tahan lama bukan yang paling ramai, melainkan yang paling jujur dan paling peduli.
.png)