KETIK, MALANG – Kepemimpinan perempuan tidak hanya diukur dari posisi yang diduduki, tetapi juga dari kontribusi, keberanian, dan manfaat yang dihadirkan bagi masyarakat. Semangat kontribusi dan peran perempuan tercermin dalam penyelenggaraan The Sixth Fatima al-Fihriya Awards di Gedung Negara Grahadi, Surabaya pada Jumat, 6 Oktober 2026.
Di kesempatan tersebut, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., bersama bersama Ketua Umum Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU), Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, Lc., M.A., dipercayai untuk mendampingi President Association de Soutien au Programme Med 21, Mr. Larbi Benattia, dalam prosesi penganugerahan penghargaan kepada lima perempuan inspiratif dunia.
Terdapat Lima tokoh perempuan yang menerima The Sixth Fatima al-Fihriya Awards, yakni Khofifah Indar Parawansa dari Indonesia untuk kategori Kepemimpinan Perempuan dan Pemberdayaan Sosial; Sinta Nuriyah Wahid dari Indonesia untuk kategori Advokasi Kemanusiaan dan Kesetaraan Gender; Halimah Yacob dari Singapura untuk kategori Kepemimpinan Perempuan, Keadilan Sosial, dan Tata Kelola; Bassima Hakkaoui dari Maroko untuk kategori Pemberdayaan Perempuan dan Kebijakan Sosial; serta Neziha Labidi dari Tunisia untuk kategori Hak Perempuan dan Anak serta Pembangunan Keluarga.
Penganugerahan ini sebagai bentuk apresiasi atas kiprah perempuan dalam memberikan kontribusi nyata dalam bidang kepemimpinan, pemberdayaan sosial, advokasi kemanusiaan, kesetaraan gender, hingga perlindungan perempuan dan anak.
Lebih dari sekadar seremoni penghargaan, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan tokoh-tokoh perempuan lintas negara yang memiliki rekam jejak dalam mendorong perubahan dan memperjuangkan kehidupan masyarakat yang lebih berkeadilan.
Sejumlah tokoh nasional dan internasional turut hadir dalam momentum tersebut, di antaranya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Hj. Arifatul Choiri Fauzi, S.Ag., M.Si., Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Muhammad Anis Matta, pejabat vertikal serta tamu dari berbagai negara dari Asia hingga Afrika.
Prof. Ilfi Nur Diana mengungkapkan bahwa Sintia Nuriyah Wahid menjadi sosok inspiratifnya dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan kesetaraan.
"Salah satu sosok yang memberikan makna tersendiri dalam penganugerahan tersebut adalah Sinta Nuriyah Wahid, Istri Presiden Republik Indonesia ke-4. Kiprahnya dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan kesetaraan telah menjadi teladan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu harus diwujudkan melalui jabatan formal," ujarnya.
Menurutnya, Sintia Nuriyah Wahid selalu menyuarakan hak kelompok rentan dan membangun ruang kebersamaan lintas latar belakang menunjukkan bahwa kepedulian dan keberanian membela martabat manusia merupakan bagian penting dari kepemimpinan.
Sementara itu, penghargaan kepada Khofifah Indar Parawansa merefleksikan kontribusi perempuan dalam kepemimpinan pemerintahan dan pemberdayaan sosial. Bersama para penerima lainnya, kelima tokoh tersebut membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas untuk mengambil peran strategis dalam berbagai bidang kehidupan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Ilfi juga menerima buku berjudul Muslimat NU Menjawab Perubahan Zaman yang diserahkan langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Hj. Arifatul Choiri Fauzi, S.Ag., M.Si.
Penyerahan buku tersebut menjadi salah satu momen penting yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan perjuangan perempuan dalam merespons dinamika perubahan zaman.
Bagi Prof. Ilfi Nur Diana, penguatan kapasitas perempuan melalui pendidikan, pengetahuan, dan perluasan kesempatan untuk berkontribusi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun masyarakat yang maju.
Perempuan perlu mendapatkan ruang yang setara untuk mengembangkan potensi, menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, dan menghadirkan perubahan di berbagai sektor kehidupan.
Keterlibatan Prof. Ilfi Nur Diana dalam forum internasional ini juga memiliki relevansi dengan perjalanan kepemimpinannya.
Sebagai rektor perempuan pertama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Ilfi Nur Diana menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas untuk memimpin institusi pendidikan tinggi, mengelola perubahan, membangun kolaborasi, serta membawa lembaga menuju reputasi yang lebih luas.(*)
