Pakar Kecerdasan Buatan: Pendidikan AI Sejak Dini Harus Utamakan Computational Thinking, Bukan Coding

7 November 2026 16:40 7 Nov 2026 16:40

Thumbnail Pakar Kecerdasan Buatan: Pendidikan AI Sejak Dini Harus Utamakan Computational Thinking, Bukan Coding

Ilustrasi kecerdasan buatan. (Pixabay)

KETIK, JAKARTA – Pendidikan kecerdasan buatan (AI) sejak dini sebaiknya tidak hanya berorientasi pada keterampilan menulis kode atau coding. Anak justru perlu mengembangkan computational thinking atau kemampuan berpikir komputasional sebagai dasar untuk memecahkan masalah secara logis dan sistematis.

Guru Besar Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika IPB University, Prof. Yeni Herdiyeni, menjelaskan bahwa kemampuan berpikir komputasional melatih seseorang mengenali pola, menyusun langkah penyelesaian, dan memecahkan persoalan.

Sementara itu, coding merupakan salah satu bentuk penerapan kemampuan berpikir komputasional, bukan keseluruhan dari keterampilan tersebut.

“Computational thinking itu melatih kemampuan otak manusia untuk memecahkan masalah, berpikir logis, dan mengenali pola. Sedangkan coding hanyalah implementasi dari kemampuan itu,” jelasnya.

Menurut perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Kecerdasan Buatan IPB University ini, pengenalan teknologi perlu tetap menempatkan kemampuan manusia sebagai pusat. Ia menekankan pentingnya pendekatan human-centered, yakni pemanfaatan teknologi yang mendukung kebutuhan dan kemampuan manusia, bukan menggantikan seluruh proses berpikir.

Prinsip tersebut juga berlaku ketika anak menggunakan ChatGPT untuk belajar. AI dapat membantu mengeksplorasi pengetahuan, tetapi anak tetap perlu memahami persoalan dan menyusun jawaban sendiri.

“Kalau ada tugas sekolah, sebaiknya tetap ajari anak berpikir dan mencari jawaban sendiri. ChatGPT bisa dipakai untuk membantu, tapi bukan untuk menggantikan proses belajar,” katanya.

Yeni menilai teknologi AI dapat menjadi sumber belajar yang bermanfaat apabila digunakan secara bijak dan disertai pendampingan. Namun, pemanfaatannya harus berjalan seiring dengan pengembangan kemampuan berpikir dan etika penggunaan teknologi.

“Teknologi seperti ChatGPT bisa jadi sumber belajar yang luar biasa bila digunakan dengan bijak. Tapi tanpa bimbingan, bisa berubah menjadi jebakan digital,” ujarnya.

Penguatan kemampuan berpikir komputasional juga penting untuk membantu anak menghadapi risiko penggunaan AI, termasuk ketergantungan pada jawaban instan yang dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis. Anak pun perlu dibekali kemampuan memeriksa informasi karena ChatGPT masih dapat menghasilkan jawaban yang bias atau tidak sesuai fakta. (*)

Tombol Google News

Tags:

computational thinking Pendidikan Ai Coding IPB University Yeni Herdiyeni Kecerdasan Buatan Pendidikan Anak Artificial Intelligence Akal Imitatif