KETIK, PACITAN – Sebuah kolam renang tua di kawasan Tamperan, Kelurahan Sidoharjo, Kabupaten Pacitan, masih menyisakan jejak aktivitas masa lalu meski sudah puluhan tahun tidak digunakan.
Fasilitas tersebut kini berada di balik pagar dan vegetasi yang mulai menutupi kawasan.
Kolam renang itu berada di tepi jalan yang menghubungkan Pantai Tamperan dengan Pantai Patok Kowang, tidak jauh dari kawasan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Tamperan.
Dari jalan utama, keberadaan kolam tidak begitu terlihat.
Pagar yang mengelilingi kawasan ditambah tumbuhan liar membuat lokasi tersebut tampak seperti bangunan lama yang sudah lama ditinggalkan.
Rumput liar tumbuh di sepanjang akses menuju lokasi.
Pada bagian atas pagar terdapat kawat berduri yang sebagian telah berkarat.
Meski kondisinya tidak terawat, bentuk kolam masih cukup jelas ketika dilihat dari bagian dalam kawasan.
Kolam Biru yang Tak Lagi Terisi Air
Kondisi kolam renang tua di kawasan Tamperan, Kelurahan Sidoharjo, Pacitan, yang disebut telah terbengkalai sejak sekitar dekade 2000-an. Dinding kolam masih terlihat, tetapi dipenuhi tanaman liar dan bagian fasilitasnya mulai rusak dimakan usia.
Akses menuju bagian dalam hanya berupa jalan setapak di antara pagar.
Di dalam kawasan, dinding kolam masih terlihat berwarna biru muda meski catnya telah memudar.
Bentuk kolam juga masih relatif utuh.
Tangga besi yang dahulu digunakan untuk turun ke dalam kolam masih terpasang di salah satu sisi.
Namun, kondisi tangga tersebut kini dipenuhi karat.
Tidak ada lagi air yang mengisi kolam. Dasarnya dipenuhi tanah, lumpur, dedaunan, serta tanaman liar.
Beberapa akar tanaman bahkan tumbuh masuk ke bagian kolam.
Sebuah pot bunga kosong terlihat berada di tengah kolam.
Di sekitarnya terdapat tanah dan dedaunan yang berserakan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kawasan itu sudah cukup lama tidak mendapatkan perawatan.
Bangunan Pendukung Ikut Terbengkalai
Tidak hanya kolam, bangunan yang berada di sisi selatan kawasan juga terlihat mengalami kerusakan.
Bangunan tersebut diduga dahulu digunakan sebagai fasilitas pendukung kolam renang.
Bentuknya menyerupai aula dan memiliki beberapa ruangan yang diperkirakan digunakan sebagai kamar mandi maupun tempat berganti pakaian.
Sejumlah kaca jendela telah pecah.
Cat pada dinding juga mengelupas di beberapa bagian.
Tumbuhan liar mulai tumbuh di sekitar bangunan.
Coretan dan gambar dengan bentuk abstrak terlihat pada sejumlah dinding.
Belum diketahui secara pasti kapan terakhir kali fasilitas tersebut digunakan secara aktif.
Warga Sebut Berawal dari Gudang Gaplek
Warga sekitar, Sumarti, saat ditemui dan memberikan keterangan mengenai keberadaan serta cerita yang berkembang tentang kolam renang tua di kawasan Tamperan, Kelurahan Sidoharjo, Pacitan, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Cerita mengenai sejarah kolam renang tersebut masih tersimpan dalam ingatan sebagian warga sekitar.
Warga setempat, Sumarti (59), yang tinggal sekitar 500 meter di sebelah barat kawasan kolam, mengaku telah puluhan tahun tinggal di sekitar lokasi sejak menikah.
Menurut cerita yang didengarnya dari para sesepuh, kawasan tersebut awalnya bukan digunakan sebagai kolam renang.
"Pada awalnya dulu katanya gudang gaplek. Tempat menyimpan ubi kayu yang sudah dikeringkan," kata Sumarti saat ditemui di rumahnya, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Bangunan tersebut kemudian disebut dialihfungsikan menjadi fasilitas kolam renang sekitar dekade 1950-an.
Namun, informasi mengenai tahun pembangunan tersebut belum diketahui secara pasti karena sumbernya berasal dari cerita yang diterima warga secara turun-temurun.
Jejak Korban Tenggelam
Seiring keberadaan kolam renang, berbagai cerita juga berkembang di masyarakat.
Salah satunya mengenai pengunjung yang disebut meninggal dunia akibat tenggelam.
Ada cerita yang menyebut jumlah korban mencapai belasan orang.
Namun, Sumarti mengatakan dirinya hanya mengetahui satu kejadian.
"Yang saya tahu pas sudah tinggal di sini. Ada satu bocah yang meninggal karena tenggelam. Saya sendiri tidak berani lewat situ kalau malam," ujarnya.
Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai identitas korban maupun waktu pasti kejadian tersebut.
Cerita Mistis di Sekitar Kolam
Bangunan yang disebut sebagai bekas mes di kawasan Tamperan, Kelurahan Sidoharjo, Pacitan, tampak tidak terawat dan dikelilingi rerumputan serta tanaman liar. Akses menuju bangunan berupa jalan setapak, sementara sebagian halaman digunakan sebagai tempat parkir kendaraan.
Selain cerita mengenai korban tenggelam, kawasan tersebut juga dikenal memiliki sejumlah cerita mistis yang berkembang di masyarakat.
Sumarti menceritakan pengalaman yang pernah disampaikan seseorang yang dikenal oleh keluarganya.
Menurut cerita tersebut, seorang anak pernah merasa seperti dipanggil seseorang ketika melintas di sekitar kawasan kolam, tepatnya di sekitar bekas mes aparat laut yang berada di sebelah utara.
Anak tersebut kemudian berlari setelah merasa dipanggil. Sepeda yang didorongnya disebut terasa lebih berat.
"Si anak bilang, katanya dipanggil oleh seorang nenek, 'Nang arep nyandi?' Tapi si anak tidak menghiraukan lalu lari, tapi sepedanya berat seperti ada yang menaiki," tutur Sumarti.
Ada pula cerita mengenai keberadaan kerajaan kera.
Menurut Sumarti, cerita tersebut sudah lama disampaikan para sesepuh kepada masyarakat sekitar.
Sebagian warga percaya pembangunan kolam dahulu mengganggu keberadaan makhluk yang dipercaya berada di kawasan tersebut.
"Kalau itu sudah lama tahu. Banyak orang yang sudah bilang ada penunggunya. Jadi banyak yang diseret tenggelam," ungkapnya.
Cerita tersebut kemudian semakin dikenal setelah lokasi itu pernah dikaitkan dengan kegiatan pengambilan gambar sebuah program televisi yang melibatkan seorang paranormal.
Dalam kegiatan tersebut, disebut ada gambar atau sketsa yang menggambarkan sosok raja kera.
"Iya, pas Tukul Arwana ke sini, saya juga lihat ada gambar keranya. Katanya itu penguasanya di sini," kata Sumarti.
Penyebab Kolam Renang Tutup
Di tengah berbagai cerita yang berkembang, alasan kolam tersebut berhenti digunakan justru disebut berkaitan dengan persoalan sumber air.
Sumarti mengatakan sumber mata air yang selama ini digunakan untuk mengisi kolam tidak lagi mengeluarkan air sekitar tahun 2000-an.
"Tidak tahu tepatnya kapan, sekitar tahun 2000-an, sumber mata air untuk kolam itu berhenti. Setelah itu akhirnya tutup. Jadi bukan karena ada korban yang meninggal maupun kabar mistisnya," ungkapnya.
Menurutnya, setelah sumber air berhenti, kegiatan di kawasan kolam perlahan menghilang.
"Akhirnya tutup dan sampai sekarang tidak digunakan. Dibiarkan gitu," katanya.
Dengan tidak adanya sumber air untuk mengisi kolam, fasilitas tersebut akhirnya berhenti beroperasi.
Setelah itu, kawasan semakin jarang digunakan hingga akhirnya terlihat seperti bangunan terbengkalai.
Harapan untuk Dimanfaatkan Kembali
Meski telah lama tidak digunakan, keberadaan kolam tersebut masih mendapat perhatian warga.
Sumarti berharap lokasi tersebut dapat dimanfaatkan kembali sehingga tidak dibiarkan kosong.
Menurutnya, pernah muncul informasi bahwa kawasan tersebut akan dimanfaatkan sebagai bangunan mes untuk aparat kepolisian laut.
"Pengennya ya begitu, dimanfaatkan lagi. Biar tidak menyeramkan. Katanya tahun ini mau dibangun. Tapi tidak tahu, sampai sekarang tidak ada," tutupnya.(*)
