KETIK, SURABAYA – Di dalam bus TransJatim yang padat, seorang pramugara berjalan perlahan menyusuri lorong sempit. Di kanan kiri, penumpang berdiri rapat sambil berpegangan. Satu per satu, ia menagih pembayaran, mencetak struk kecil, lalu berpindah ke penumpang berikutnya. Proses itu terlihat sederhana, tapi di jam sibuk, justru menjadi tantangan.
Bagi banyak penumpang, sistem pembayaran TransJatim yang masih dilakukan secara manual dengan petugas mendatangi penumpang satu per satu menjadi pengalaman yang akrab, sekaligus memunculkan pertanyaan soal efektivitas.
Ilham Ramadhani, sala satu pengguna TransJatim, melihat persoalan ini dari sudut pandang lebih luas. Ia menjelaskan bahwa wacana pembayaran digital sepenuhnya memang terdengar praktis.
Penumpang, misalnya, cukup membayar melalui aplikasi, lalu menunjukkan bukti saat naik. Namun, menurutnya, pendekatan tersebut belum tentu cocok untuk semua kalangan.
“Penumpang TransJatim bukan hanya mereka yang paham teknologi. Masih banyak lanjut usia yang sangat terbantu dengan sistem manual seperti ini. Terlalu naif rasanya kalau semuanya harus mengikuti sistem digital,” jelas Ilham.
Menurut dia, sistem manual yang saat ini diterapkan melalui pramugara dan pramugari yang menarik pembayaran secara langsung masih cukup relevan, mengingat latar belakang penumpang yang beragam.
“Demografi penumpang TransJatim itu sangat bervariatif. Jadi akan sangat naif kalau hanya memprioritaskan satu golongan saja, padahal penggunanya sangat majemuk,” tambahnya.
Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan adanya inovasi, terutama saat kondisi bus dalam keadaan penuh dan padat. Dalam situasi tersebut, petugas sering kesulitan menjangkau seluruh penumpang untuk menarik pembayaran.
“Ketika bus sangat crowded dan pramugara atau pramugari kesulitan menjangkau penumpang, itu akan menjadi sebuah inovasi yang sangat berguna,” ujar Ilham.
Ia juga mencontohkan kemungkinan sistem pembayaran yang lebih terintegrasi, seperti yang diterapkan pada Surabaya Bus.
“Mungkin bisa tersentralisasi seperti Surabaya Bus, di mana pembayarannya di satu titik. Atau bisa juga di halte, meskipun itu perlu dipikirkan lagi karena jumlah halte TransJatim cukup banyak,” katanya.
Ia berpendapat, sistem pembayaran TransJatim saat ini memang berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, sistem manual dinilai paling sederhana dan mudah dijangkau oleh semua kalangan. Namun di sisi lain, kondisi lapangan yang sering padat menuntut adanya inovasi.
“Kalau dari saya, sistem ini masih bisa dilanjutkan karena paling merakyat. Penumpang tinggal duduk, petugas datang, lalu pembayaran selesai. Apalagi ini ramah untuk lansia. Tapi kalau ke depan ada inovasi yang lebih praktis untuk semua golongan, kenapa tidak,” tuturnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Isnaini Lu'lu' Atim Muthoharoh, pengguna TransJatim lainnya. Ia mengaku sistem pembayaran saat ini seringkali kurang efektif, terutama ketika bus penuh dan penumpang harus menunggu petugas datang.
“Itu juga jadi keresahan para penumpang. Belum lagi yang tujuannya singkat dari halte keberangkatan menuju halte terdekat. Pencetak struknya juga cukup lama,” ujar Isna.
Menurutnya, alternatif seperti penggunaan kartu elektronik atau sistem tap-in sebelum naik bus bisa menjadi solusi, seperti yang diterapkan di Transjakarta. Namun, ia juga menyadari bahwa kondisi halte TransJatim saat ini belum sepenuhnya mendukung.
“Haltenya banyak yang belum proper,” kata Isna.
Isna menambahkan, jika ingin mengadopsi sistem seperti Transjakarta, tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk pembangunannya. Sebagai langkah jangka pendek, ia menyarankan adanya perbaikan fasilitas halte, seperti penyediaan pintu pembatas khusus untuk penumpang naik dan turun.
“Harapannya, penumpang bisa tap-in kartu sebelum naik bus, sekaligus menghindari penumpang yang menyerobot antrean. Karena ini juga masih sering terjadi,” jelasnya.
Ia juga menilai bahwa sistem non-tunai tetap memungkinkan diterapkan, meskipun pengguna TransJatim cukup beragam, termasuk lansia. Menurutnya, kunci utamanya ada pada sosialisasi yang jelas dan fasilitas pendukung yang memadai.
“Di Jakarta pun banyak pengguna lansia, tapi sistemnya tetap bisa berjalan. Mungkin masih perlu sosialisasi jika memang diterapkan sistem non-tunai. Selain itu, bisa disiapkan tempat top up di terminal atau edukasi melalui poster di halte agar lebih mudah dipahami,” tambahnya.
Sementara itu, Rosalina Putri Adelia memiliki pandangan lebih praktis. Ia menilai sistem saat ini masih cukup efektif karena petugas bisa memastikan semua penumpang benar-benar membayar.
“Kalau nggak ditarik satu per satu, kadang ada yang ngaku sudah bayar padahal belum,” ujarnya.
Namun, ia juga mengakui bahwa dalam kondisi bus penuh, proses pembayaran bisa menjadi kurang nyaman. Ia pun mengusulkan alternatif pembayaran sebelum naik bus, seperti yang sudah diterapkan di Surabaya Bus.
“Kalau bisa bayar sebelum naik, dengan disediakan petugas di halte untuk peniketannya, mungkin akan lebih praktis. Jadi di dalam bus tidak perlu ribet lagi,” kata Rosa.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Riski Kurnia Rahmah yang menilai sistem pembayaran saat ini masih kurang efektif. Menurutnya, metode pembayaran seperti di Korea yang menggunakan sistem tap-in sebelum masuk bus bisa menjadi alternatif.
“Kalau di TransJatim kan petugas harus hafal siapa saja yang sudah bayar dan yang belum, jadi ada kemungkinan masih ada penumpang yang belum bayar. Kalau pakai sistem tap-in sebelum masuk, menurut saya lebih efektif,” ujar Riski.
Beragam pandangan tersebut menunjukkan bahwa sistem tiket TransJatim saat ini berada di persimpangan antara kemudahan dan kebutuhan. Di satu sisi, sistem manual dinilai masih paling “merakyat” dan inklusif bagi semua kalangan. Namun di sisi lain, kondisi lapangan terutama saat bus penuh menuntut adanya inovasi yang lebih praktis dan efisien. (*)
