KETIK, SURABAYA – Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur (BPS Jatim) mencatat inflasi pada Juni 2026 mencapai 0,30 persen. Lonjakan inflasi ini salah satu penyebabnya adalah libur sekolah hingga penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jatim, Herum Fajarwati mengatakan saat libur sekolah, tingkat mobilitas masyarakat meningkat. Sehingga berdampak pada meningkatnya permintaan transportasi dan konsumsi masyarakat.
"Berbarengan dengan libur sekolah jadi pemicu terhadap terjadinya inflasi cukup banyak dipengaruhi sejumlah faktor, mulai penyesuaian harga BBM nonsubsidi meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur sekolah," katanya.
Sementara itu secara kumulatif, inflasi Jatim pada Januari-Juni 2026 (year to date) mencapai 1,74 persen. Sedangkan inflasi tahunan (year on year) berada di angka 3,36 persen.
BPS mencatat, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar yaitu 2,45 persen dan memberikan andil 0,31 persen terhadap inflasi Juni. Secara komoditas, bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar setelah mengalami kenaikan harga 7,31 persen dengan andil 0,17 persen. Posisi berikutnya ditempati angkutan udara 9,47 persen dengan andil 0,11 persen.
Harga kebutuhan pokok, seperti bawang merah, bawang putih, beras, daging sapi, wortel hingga emas perhiasan juga menyumbang inflasi Jatim berikutnya.
Sejumlah barang tersebut mengalami kenaikan harga karena terbatasnya pasokan di beberapa daerah, penyesuaian harga di tingkat produsen serta meningkatnya biaya distribusi.
BPS Jatim juga melaporkan tekanan inflasi tertahan dari turunnya harga komoditas pangan. Daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi terbesar, turun 6,31 persen dengan andil negatif 0,11 persen.
Penurunan harga juga terjadi untuk cabai rawit, cabai merah sawi hijau, telur ayam ras, udang basah dan bayam.
BPS menyebut hasil melimpah panen hortikultura serta tingginya stok ayam dan telur di tengah permintaan yang melemah menjadi faktor utama turunnya harga komoditas tersebut. (*)
.png)