Alqassam Kasuba Pacu Transformasi Ekosistem Pariwisata Malut, Pemandu Wisata Didorong Tersertifikasi

9 Juni 2026 16:56 9 Jun 2026 16:56

Thumbnail Alqassam Kasuba  Pacu Transformasi Ekosistem Pariwisata Malut, Pemandu Wisata Didorong Tersertifikasi

Izzuddin AlQassam Kasuba Anggota DPR RI Dapil Maluku Utara (Foto: Mursal/Ketik.com)

KETIK, MALUKU UTARA – Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Daerah Pemilihan Maluku Utara, Izzudin Alqassam Kasuba, menaruh perhatian serius terhadap penguatan sumber daya manusia di sektor pariwisata Maluku Utara.

Perhatian itu terutama diarahkan kepada para pemandu wisata. Menurut Qassam, kualitas layanan, keselamatan wisatawan, hingga kesiapan destinasi sangat bergantung pada kapasitas SDM yang bekerja langsung di lapangan.

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran nasional, Qassam menyebut ruang pembangunan infrastruktur pariwisata melalui Kementerian Pariwisata saat ini cukup terbatas. Karena itu, Komisi VII DPR RI sebagai mitra kerja Kemenpar terus mendorong agar program penguatan SDM tetap berjalan, terutama untuk daerah-daerah potensial seperti Maluku Utara (Malut)

“Kita tetap bersuara kepada mitra kita yaitu Kemenpar RI, dan alhamdullah beberapa program bimbingan teknis dalam rangka pembangunan SDM di maluku utara terus berjalan, bahkan beberapa kali dilaksanakan di Halsel dan Kota Ternate, jadi kedepannya kegiatan yang sama juga akan dilaksanakan di Kabupaten/kota yang lain,” ujar Qasssam ketika ditemui di sela sela perayaan HUT Halmahera Selatan ke-23 Selasa 9 Juni 2026.

Politisi muda PKS itu mengatakan, peningkatan kapasitas pemandu wisata tidak hanya menyangkut pelayanan kepada wisatawan. Lebih dari itu, penguatan SDM juga berkaitan langsung dengan aspek keselamatan, mitigasi risiko, dan tata kelola destinasi yang lebih profesional.

Ia mencontohkan, musibah erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara yang sempat menelan korban jiwa menjadi pelajaran penting bagi sektor pariwisata Maluku Utara. Menurutnya, daerah dengan karakter alam yang kuat membutuhkan pemandu wisata yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sertifikasi yang memadai.

“Beberapa waktu lalu kita dilanda musibah meletusnya gunung dukono di Halut, bahkan ada korban jiwa. Ini merupakan salah satu dampak karena SDM pemandu wisata di maluku utara masih minim, jadi pada saat RDP saya sudah suarakan ke kementrian, sehingga akan dilakukan bimbingan teknis kepada pemandu wisata di maluku utara,” katanya.

Izzudin menilai, pemandu wisata di Maluku Utara sejatinya telah memiliki kemampuan dasar yang cukup baik. Namun, kemampuan itu perlu diperkuat melalui pelatihan resmi, edukasi keselamatan, mitigasi bencana, hingga sertifikasi yang terukur.

Dengan sertifikasi, kata dia, pemandu wisata tidak hanya bekerja berdasarkan pengalaman lapangan, tetapi juga memiliki standar kompetensi yang dapat diakui secara profesional.

Ia juga mendorong agar akses pendidikan tinggi pariwisata dapat dibuka lebih dekat bagi masyarakat Maluku Utara. Salah satunya melalui program kuliah di luar kampus utama atau pembukaan akses pendidikan vokasi pariwisata di daerah.

“Saya juga menyuarakan agar ada program kuliah di luar kampus utama dibuka juga di maluku utara, karena di maluku utara sendiri belum ada politikenik pariwisata. Ini sementara dikomunikasikan antara Kemenpar dan Kemendiknas, Insa Allah politeknik pariwisata bisa ada di maluku utara, sehingga lebih mempermudah pengembangan SDM sektor pariwisata,” tandasnya.

Izzudin menegaskan, Maluku Utara memiliki kekayaan wisata alam, budaya, bahari, hingga geopark yang sangat besar. Namun, seluruh potensi itu membutuhkan sentuhan SDM yang kuat, terlatih, dan tersertifikasi agar mampu naik kelas menjadi destinasi yang aman, nyaman, dan berdaya saing.

Tombol Google News

Tags:

Pariwisata Indonesia Izzuddin Alqassam Kasuba Pariwisata Maluku Utara