Tami: Meracik Bahasa, Menyeduh Kopi, dan Menemukan Senja di Bacan

24 Juli 2026 07:32 24 Jul 2026 07:32

Thumbnail Tami: Meracik Bahasa, Menyeduh Kopi, dan Menemukan Senja di Bacan

Ilustrasi Rahma Tami Hasna Mudia, Barista Jebolan Abcd Lab Bandung (Sumber: Falanesia)

KETIK, LABUHA – Senja turun perlahan di Bacan. Cahaya keemasan memantul di permukaan laut, sementara langit berangsur berubah warna. Pada waktu seperti itu, Rahma Tami Hasna Mudia biasanya menemukan satu alasan sederhana untuk menikmati kehidupannya di Halmahera Selatan.

“Di sini paling enak lihat sunset,” katanya sambil tersenyum.

Kalimat itu terdengar ringan. Namun, bagi perempuan kelahiran 2001 tersebut, senja Bacan seperti menjadi sesuatu yang lain dari perjalanan yang telah membawanya melintasi beberapa kota: tumbuh di Ternate, menempuh pendidikan menengah di Jakarta, kuliah dan belajar kopi di Bandung, lalu bekerja sebagai barista di Bacan.

Tami tidak saja meracik kopi. Dia merupakan sarjana Bahasa Inggris dari Universitas Pasundan. Di luar aktivitasnya, ia juga sering menjadi vokalis Multifersy Band, grup musik besutan Hamid, pemilik Stereck Coffee di Bacan.

Pada kesempatan tertentu, Tami turut menyajikan kopi dalam kegiatan di Kantor Bupati Halmahera Selatan. Bahkan itu menjadi tugasnya di hampir setiap jam kantor. Hari-harinya pun bergerak di antara percakapan dengan pelanggan, aroma biji kopi, alunan musik, dan kehidupan Bacan yang menurutnya berjalan lebih tenang.

Bahasa, kopi, dan musik mungkin terlihat sebagai tiga dunia berbeda. Namun, di tangan Tami, ketiganya menjadi cara untuk berkomunikasi dan menghadirkan suasana bagi orang lain.

Bahasa yang Disukai Sejak Kecil

Tami merupakan warga Ternate, Maluku Utara. Ia lahir dari pasangan Burhan Muhammad dan Mardia Abas.

Ketertarikannya terhadap bahasa Inggris tumbuh sejak kecil. Saat masih duduk di kelas lima sekolah dasar, ia mulai menyukai pelajaran tersebut. Bahasa Inggris baginya tidak hanya menjadi mata pelajaran yang harus dipelajari untuk mendapatkan nilai.

Bahasa itu membuka rasa ingin tahunya terhadap dunia yang lebih luas.

“Dari kelas lima SD saya sudah suka bahasa Inggris,” tutur Tami saat bercerita lepas, Kamis, 23 Juli 2026.

Kegemaran tersebut terus dibawanya hingga remaja. Tami kemudian menempuh pendidikan di SMA Pelita 3 Jakarta Timur. Tinggal jauh dari Ternate memberinya pengalaman bertemu dengan lingkungan, kebiasaan, dan karakter masyarakat yang berbeda.

Jakarta memperkenalkannya pada kehidupan kota yang cepat. Hampir setiap orang bergerak bersama kepentingan dan waktunya masing-masing. Di tengah ritme tersebut, Tami tetap menjaga ketertarikannya terhadap bahasa.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Pasundan, Bandung, dengan mengambil bidang Bahasa Inggris. Pilihan itu menjadi kelanjutan dari kegemaran yang telah tumbuh sejak masa sekolah dasar. Namun, selama berada di Bandung, Tami tidak hanya berhadapan dengan buku, tugas kuliah, dan materi akademik. Di kota tersebut, ia juga mendalami dunia lain yang sebelumnya telah menarik perhatiannya: kopi.

Berawal dari Manual Brew

Tami mulai menyukai kopi pada 2018. Ketertarikannya tidak berhenti pada kebiasaan meminum kopi untuk menemani aktivitas. Ia mulai mengenal karakter biji, metode penyeduhan, serta cara menghasilkan rasa yang berbeda dari bahan yang sama.

Metode manual brew menjadi salah satu yang paling disukainya.

Dalam penyeduhan manual, kopi diproses dengan kehati-hatian. Takaran biji, tingkat kehalusan gilingan, suhu air, durasi penyeduhan, hingga cara menuangkan air dapat memengaruhi rasa akhir.

“Awalnya memang karena suka kopi. Saya paling suka kopi manual brew. Mulai benar-benar suka kopi sejak 2018,” ujarnya.

Minat itu semakin berkembang setelah melihat perjalanan kakak laki-lakinya di dunia kopi. Sang kakak memiliki Rotasi Coffee Lab, sebuah kedai kopi di Ternate yang dibangun sejak awal 2021.

Kakaknya tidak hanya mengelola usaha tersebut. Ia juga pernah memberikan pelatihan kepada sejumlah barista di Ternate.

Dari sana, Tami melihat bahwa menjadi barista membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan kedisiplinan. Seorang barista tidak cukup hanya mampu mengoperasikan mesin atau menuangkan susu ke dalam cangkir. Ia perlu memahami bahan, alat, teknik penyeduhan, kebersihan, pelayanan, serta konsistensi rasa.

“Kakak saya dulu memberikan pelatihan kepada barista-barista di Ternate. Dari situ saya terinspirasi ingin menjadi barista,” katanya.

Kekaguman itu kemudian berubah menjadi keputusan.

Pada 2021, Tami mengikuti pendidikan barista di ABCD Lab, Bandung. Pengalaman tersebut memperkuat pemahamannya mengenai kopi sekaligus memberinya bekal untuk menekuni profesi itu secara lebih serius.

Kopi yang sebelumnya hadir sebagai kesukaan pribadi perlahan menjadi bidang yang ingin ia jalani.

Di balik secangkir kopi, Tami menemukan rangkaian proses yang panjang. Ada petani yang merawat tanaman, pekerja yang memetik buah matang, pengolah yang menjaga mutu biji, penyangrai yang menentukan profil rasa, hingga barista yang menyajikannya kepada pelanggan.

Pada tahap terakhir itulah Tami mengambil peran.

Ia bertugas memastikan perjalanan panjang sebuah biji kopi berakhir dalam sajian yang layak dinikmati.

Sarjana Bahasa Inggris di Balik Meja Bar

Latar belakang pendidikan Bahasa Inggris dan pekerjaannya sebagai barista sekilas tampak tidak memiliki hubungan langsung. Namun, Tami tidak melihat keduanya sebagai jalan yang saling bertentangan.

Pendidikan membentuk cara seseorang berpikir, berkomunikasi, dan memahami lingkungan. Kemampuan itu tetap dibutuhkan ketika seseorang berdiri di balik meja bar.

Seorang barista harus mampu mendengarkan permintaan pelanggan, menjelaskan pilihan menu, memahami selera, serta memberikan pelayanan yang baik. Ketepatan berkomunikasi sama pentingnya dengan keterampilan meracik minuman.

Pengetahuan Bahasa Inggris juga membantu Tami memahami istilah dan berbagai referensi mengenai kopi. Sebagian literatur, panduan, serta perkembangan industri kopi tersedia dalam bahasa tersebut.

Karena itu, gelar sarjana tidak ia tinggalkan saat mengenakan apron barista. Pendidikan itu tetap hadir dalam cara Tami berkomunikasi dan mempelajari pekerjaannya.

Ia hanya menggunakan ruang yang berbeda untuk menerapkan pengetahuan yang dimiliki.

Panggilan Menuju Bacan

Perjalanan profesional kemudian membawa Tami ke Bacan. Ia datang setelah dihubungi seorang rekan yang membutuhkan tenaganya sebagai barista.

Keputusan tersebut kembali membawanya meninggalkan Ternate. Setelah pernah tinggal di Jakarta dan Bandung, ia kini memasuki lingkungan dengan ritme kehidupan yang berbeda.

Di Bacan, Tami bekerja sebagai barista dengan penghasilan sekitar Rp3 juta per bulan. Ia juga mendapatkan tambahan pendapatan dari aktivitasnya bersama Stereck Coffee.

Bekerja di Bacan memberinya lebih dari sekadar penghasilan. Ia menemukan suasana yang membuatnya merasa nyaman.

“Yang paling berkesan di Bacan karena slow living,” tuturnya.

Bagi Tami, kehidupan yang berjalan lambat bukan berarti masyarakat kehilangan semangat atau tidak produktif. Ia memaknainya sebagai kesempatan menjalani hari tanpa terus-menerus merasa dikejar waktu.

Setelah merasakan kehidupan Jakarta dan Bandung yang padat, ketenangan Bacan menghadirkan pengalaman berbeda. Ia dapat bekerja, berbincang, menikmati makanan, serta menyaksikan matahari tenggelam tanpa tergesa-gesa.

Di kota besar, orang sering menilai hari berdasarkan banyaknya pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Di Bacan, Tami menemukan bahwa kehidupan juga dapat dinikmati melalui hal-hal sederhana.

“Saya senang sekali di Bacan. Yang paling bikin senang itu makanannya,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan secara spontan. Di tengah pembicaraan tentang pendidikan, profesi, dan perjalanan antarkota, makanan justru menjadi salah satu hal yang membuatnya betah.

Kebahagiaan, bagi Tami, rupanya tidak selalu membutuhkan alasan yang rumit.

Asmara Sebagai Sistem Pendukung

Saat pembicaraan beralih pada urusan asmara, Tami menanggapinya dengan santai. Tidak ada kisah dramatis atau jawaban yang dibuat berlebihan.

“Urusan asmara biasa saja, jadi support system saja,” ujarnya.

Jawaban itu menunjukkan bahwa ia memandang hubungan sebagai bagian yang semestinya memberikan dukungan, bukan menjadi beban bagi perjalanan seseorang.

Bagi anak muda yang sedang membangun karier, dukungan dapat hadir melalui banyak hal: mendengarkan cerita setelah bekerja, memberi semangat ketika lelah, atau memahami pilihan hidup yang sedang dijalani.

Tami tidak menjadikan persoalan asmara sebagai pusat dari seluruh perjalanannya. Ia memilih membiarkannya berjalan wajar, sementara perhatian utamanya tetap diarahkan pada pekerjaan dan kehidupan yang sedang dibangun.

Dari Meja Bar ke Panggung Musik

Selain meracik kopi, Tami juga mempunyai ruang lain untuk mengekspresikan dirinya. Ia sering tampil sebagai vokalis Multifersy Band, grup musik yang dibentuk Hamid, pemilik Stereck Coffee.

Ketika menjadi barista, kedua tangannya sibuk mengukur takaran, menggiling biji, menyeduh, dan menyajikan minuman. Ketika berada di atas panggung, suaranya mengambil alih tugas untuk menghidupkan suasana.

Kopi dan musik kemudian bertemu dalam lingkungan yang sama.

Pengunjung kedai tidak selalu datang hanya untuk membeli minuman. Sebagian datang untuk beristirahat, bertemu teman, menyelesaikan pekerjaan, atau sekadar mencari tempat agar tidak larut sendirian dalam kesibukan.

Dalam suasana seperti itu, kopi dan lagu dapat menjadi teman yang menyenangkan.

Tami melayani pengunjung melalui dua cara. Ia menyuguhkan rasa lewat kopi, lalu menyampaikan emosi melalui musik.

Latar belakang Bahasa Inggris turut mendukung aktivitasnya sebagai vokalis. Kata-kata yang dahulu dipelajari melalui buku dan ruang kuliah kini dapat hadir dalam lirik serta lagu yang dibawakannya.

Musik memberinya kesempatan berbicara kepada orang lain tanpa harus selalu melakukan percakapan secara langsung.

Menyajikan Kopi di Kantor Bupati

Keterampilan Tami sebagai barista juga membawanya menyajikan kopi dalam kegiatan di Kantor Bupati Halmahera Selatan.

Pengalaman tersebut menempatkan kopi dalam ruang yang berbeda dari suasana kedai. Di kantor pemerintahan, secangkir kopi dapat menemani rapat, pertemuan, penerimaan tamu, maupun pembicaraan mengenai pekerjaan.

Namun, di mana pun kopi disajikan, prinsip pelayanan tetap sama.

Setiap cangkir harus dipersiapkan dengan baik. Setiap orang yang dilayani patut mendapatkan keramahan yang setara.

Seorang barista tidak selalu mengetahui persoalan yang sedang dibawa pelanggan ketika datang. Ia mungkin hanya melihat seseorang memesan kopi, duduk, kemudian terdiam.

Dalam keadaan seperti itu, sapaan yang hangat dan sajian yang dibuat dengan sungguh-sungguh dapat menjadi bentuk pelayanan yang bermakna.

Bacan yang Memberinya Ruang

Bacan perlahan tidak lagi sekadar menjadi tempat Tami bekerja. Daerah ini memberinya ruang untuk mengenali kehidupan dengan cara yang lebih tenang.

Ia datang karena dipanggil seorang rekan. Namun, kenyamanan yang ditemukannya membuat Bacan meninggalkan kesan tersendiri.

Di sini, Tami dapat menjalani profesi sebagai barista, bernyanyi bersama Multifersy Band, menikmati makanan, bertemu orang-orang baru, serta memandang senja yang menjadi salah satu hal favoritnya.

Bacan memang tidak menawarkan kesibukan seperti Jakarta atau suasana perkotaan seperti Bandung. Namun, daerah ini memiliki keakraban dan ketenangan yang membuat waktu terasa lebih ramah.

Di tempat tersebut, kehidupan tidak semata-mata berisi rutinitas bangun, bekerja, dan pulang. Ada kesempatan untuk memperhatikan aroma kopi yang baru diseduh, mendengar percakapan pengunjung, menikmati sebuah lagu, atau sekadar melihat perubahan warna langit.

Tami menemukan bahwa bergerak maju tidak selalu berarti harus berlari.

Terkadang, seseorang justru dapat memahami arah hidupnya ketika bersedia memperlambat langkah.

Perjalanan yang Masih Panjang

Kisah Rahma Tami Hasna Mudia masih terus berjalan. Pada usia yang relatif muda, ia telah melewati sejumlah pengalaman yang membentuk caranya melihat kehidupan.

Ia membawa kecintaan terhadap bahasa Inggris sejak kelas lima sekolah dasar hingga bangku Universitas Pasundan. Ketertarikannya terhadap kopi sejak 2018 kemudian dikembangkan melalui pendidikan barista di Bandung.

Ia belajar dari perjalanan kakaknya di Ternate, lalu membawa keterampilannya ke Bacan.

Kisah Tami memperlihatkan bahwa pendidikan tidak harus membatasi seseorang pada satu jenis pekerjaan. Seorang sarjana Bahasa Inggris dapat memilih menjadi barista tanpa kehilangan nilai dari ilmu yang telah dipelajari.

Pengetahuan dapat hidup dalam berbagai bentuk.

Pada diri Tami, pendidikan tercermin dalam cara berkomunikasi, belajar, dan memberikan pelayanan. Kopi memberinya ruang untuk berkarya, sedangkan musik menjadi tempat untuk mengekspresikan perasaan.

Setiap cangkir yang disajikannya mungkin tidak menceritakan seluruh perjalanan dari Ternate, Jakarta, Bandung, hingga Bacan. Namun, ketelitian di balik setiap seduhan menyimpan pengalaman yang telah membentuknya.

Ada orang tua yang menjadi tempatnya bertumbuh.

Ada kakak yang menginspirasi.

Ada keberanian meninggalkan daerah asal.

Ada pendidikan yang terus digunakan.

Ada pekerjaan yang dijalani dengan kesungguhan.

Ada lagu yang dinyanyikan.

Dan ada senja Bacan yang selalu menyenangkan untuk dipandang.

Kelak, Tami mungkin akan kembali ke Ternate, membuka kedai sendiri, atau melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Masa depan selalu menyediakan kemungkinan yang belum dapat dipastikan.

Namun, saat ini ia memilih menikmati kehidupannya di Bacan—menyeduh kopi, bernyanyi, mengenal orang-orang baru, dan menjalani hari dalam tempo yang lebih tenang.

Ketika sore berakhir dan matahari perlahan tenggelam di cakrawala, Tami kembali memandang langit.

“Di sini paling enak lihat sunset,” katanya.

Barangkali bukan hanya senja Bacan yang sedang ia nikmati. Tanpa banyak disadari, Tami juga sedang menikmati satu bagian penting dari perjalanan hidupnya: masa ketika seorang perempuan muda mulai menemukan irama langkahnya sendiri.

Tombol Google News

Tags:

Rahma Tami Hasna Mudia Kopi Dan Barista Senja Bacan pulau bacan Sunset Bacan Halmahera Selatan Maluku Utara