KETIK, MALANG – Siapa di sini yang belum mengunjungi wisata viral yang ada di Batu ini? Yap, Mikutopia! Wisata yang berdiri sejak 14 Maret 2026 ini tak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga melibatkan warga sekitar dalam berbagai aspek operasionalnya.
Ambil contoh ibu-ibu rumah tangga di sekitar wisata ini. Awalnya, mereka hanya berprofesi sebagai petani biasa. Namun, setelah Mikutopia hadir, mereka kini bisa membuka warung di area luar wisata.
Sebab, food court hanya tersedia di dalam area Mikutopia, sehingga warung-warung milik warga ini justru kebagian berkah dari para driver bus maupun pengunjung yang sudah telanjur keluar dari lokasi wisata.
Selain itu, yang paling menarik, sebanyak 90% tenaga kerja Mikutopia berasal dari warga sekitar. “Iya, saya asli sini juga,” ungkap Annisa Indraningtyas, Tim Marketing Mikutopia, saat diwawancarai tim Ketik pada 24 Juli 2026.
Tak berhenti di situ, wisata yang satu kepemilikan dengan Santerra De Florest ini juga menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) melalui produk merchandise hasil kolaborasi bersama.
Lokasinya yang berada di tengah permukiman warga membuktikan bahwa Mikutopia tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh bersama masyarakat sekitarnya.
Kepedulian terhadap warga juga terlihat saat momen-momen tertentu, misalnya ketika area parkir Mikutopia penuh. Pengelola akan memanfaatkan rest area di sekitar lokasi yang dilengkapi dengan layanan shuttle.
Meski pengelolaan shuttle ini berada di luar kewenangan Mikutopia, kebijakan tersebut turut membuka peluang bagi warga pemilik kendaraan pribadi yang sebelumnya jarang digunakan.
Tak hanya soal ekonomi, Mikutopia juga memberdayakan warga lewat sisi edukasi. Salah satunya melalui program edukasi jamur yang dikelola komunitas bernama Sahabat Mikutopia.
Komunitas ini beranggotakan para petani jamur lokal yang diajak bekerja sama karena Mikutopia sendiri tidak memiliki dasar keahlian dalam budi daya jamur. Dengan menggandeng para petani yang sudah berpengalaman, edukasi jamur di Mikutopia pun bisa berjalan lebih autentik dan aplikatif.
Melalui berbagai kolaborasi ini, Mikutopia membuktikan bahwa kehadiran sebuah wisata tak melulu soal keuntungan bisnis semata, tetapi juga bagaimana ia mampu tumbuh berdampingan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat di sekitarnya.(*)
