KETIK, MALANG – Berangkat dari keresahan atas maraknya kasus pelecehan seksual terhadap perempuan di ruang publik, layanan transportasi khusus perempuan bernama S-Jek atau Salihah Ojek hadir di Kota Malang.
Inisiatif ini lahir dari pengalaman traumatis seorang perempuan yang menjadi korban pelecehan saat menggunakan jasa ojek online. Tragedi tersebut mendorong terciptanya layanan yang mengedepankan rasa aman, nyaman, dengan sistem dari dan untuk perempuan.
Aulia Cahaya Aisyiyah, pencetus Salihah Ojek, mengungkapkan bahwa kehadiran layanan ini bertujuan melindungi kaum perempuan dari oknum ojek yang memanfaatkan keadaan. Ia menceritakan pengalaman pahit rekan kajiannya yang menjadi korban pelecehan saat menumpang ojek daring.
"Aku lupa sih ada kegiatan apa tapi yang pasti waktu dia mau pulang, Itu yang biasanya aku antar jemput. Nah hari itu kok dulu aku gak bisa. Terus beliaunya ini order ojol. Karena memang laki-laki kan, kita gak bisa pilih ya. Temen aku kan bercadar ya. Ya seharusnya sih ridernya tuh segan gitu. Seharusnya, tapi ya gak tau ya Allahualam. Mungkin gimana ngelihat fisik daripada kawan saya ini, dilecehkan mbak di jalan itu," ungkap Aisyiyah.
Rasa bersalah karena tidak bisa mengantar sang teman saat itu memicu Aisyiyah untuk mendirikan ojek khusus perempuan. Awalnya, ia rutin mengantar rekannya tersebut, hingga sang teman menyarankan agar ia mulai menetapkan tarif secara profesional.
Momentum inilah yang meyakinkan Aisyiyah untuk membuka jasa ojek khusus perempuan di Malang Raya pada tahun 2018 dengan nama Salihajek. Selain membantu sesama perempuan, ia juga mulai mendapatkan profit meskipun belum seberapa. Layanan ini juga melayani penumpang anak-anak (laki-laki maksimal usia 12 tahun).
"Akhirnya teman saya itu, saya antar terus, tapi dia minta untuk ditarifin. Terus dari ide itulah dan dengan masalah ini, kayak mikir peluang ini, kayak gitu kan peluang ini. Apalagi waktu itu tahun segitu, memang komunitas muslimah lagi banyak banget," jelas owner S-Jek tersebut.
Dokumentasi driver S-Jek Malang ketika mengantar customer. (Foto: S-Jek Malang)
Meski awalnya hanya ditujukan bagi kalangan terbatas di komunitasnya, permintaan layanan ini terus melonjak drastis berkat promosi mulut ke mulut.
"Banyak banget luar biasa banyak dan tadinya itu mau saya, cuma di kalangan sendiri, kayak cuma teman-teman di komunitas karena memang saya sendirian kan, tidak mungkin tenaganya gak cukup, tapi kok makin hari makin lama, karena sama mereka kan disebar-sebarin, dari mulut ke mulut kan. Akhirnya yang bukan teman akhirnya kenal. Pakailah jasa saya," imbuhnya.
Transformasi Menjadi S-Jek
Sempat vakum pada 2019 akibat pandemi Covid-19, layanan ini kembali bangkit pada 2021 dengan nama Newsaljek, hingga kini dipatenkan menjadi S-Jek. Transformasi ini disambut hangat oleh masyarakat Malang. Saat ini, S-Jek telah didukung oleh tim sebanyak kurang lebih 29 orang.
Sesuai namanya, Aisyiyah mewajibkan para rider mengenakan pakaian syar'i sebagai representasi identitas "Salihah".
"Karena memang kita mengangkat nama salihah. Jadi semua aspeknya kita bikin syar'i. Penampilan ridernya harus syar'i, berarti ada syarat-syaratnya, pakainya harus syar'i. Syar'i disini tidak harus bercadar, tapi minimal yang benar-benar menutup, jilbabnya menutup dada, pakai rok, pakai kaos kaki, pakai masker. Wah pokoknya lengkap lah," tutur Aisyiyah.
Pelanggan S-Jek mayoritas terdiri dari ibu rumah tangga (IRT) dan mahasiswi. Di sisi lain, S-Jek juga membuka peluang ekonomi bagi mereka yang ingin mencari penghasilan tambahan dalam lingkungan kerja yang aman dan terjaga dari interaksi dengan lawan jenis.
Bagi Aisyiyah, S-Jek bukan sekadar bisnis mencari keuntungan materi, melainkan bentuk pengabdian agar bermanfaat bagi seluruh perempuan di Kota Malang.
"Saya bikin jasa ini adalah buat nolong. Buat nolong mereka perempuan-perempuan yang takut berkendara dengan laki-laki yang bukan mahram dia yang tidak dikenal. Jadi itu tujuan utamanya, sebetulnya saya tuh ngerasa kalau saya bisa nolong mereka ini tuh bermanfaat buat mereka Itu udah keuntungan besar," ujar Aisyiyah.
"Untuk profitnya ya namanya bisnis kita tetap ada cari tapi ya itu tadi, kita kembalikan ke niatnya. Saya sampai hari ini ada yang tau jasa saya dengan pakai jasa saya itu sudah, menurut saya itu udah keuntungan," tambahnya.
Meski profesi ini terkadang dipandang sebelah mata, ia tetap konsisten membangun semangat timnya untuk fokus pada nilai kebermanfaatan.
"Mungkin kita kerja dianggap sebelah mata. Ya sama sebagian orang statusnya enggak yang kerja yang mungkin mewah atau bagus. Kita mau kuatin itu dulu. Kita mau kuatin ke teman-teman bahwa kerjaan ini, meskipun mungkin sepele tapi kita banyak kasih manfaat ke orang," ucapnya.
Ke depan, Aisyiyah berharap S-Jek Malang dapat terus berkembang dengan manajemen yang lebih solid agar semakin dikenal luas sebagai penyedia layanan transportasi yang menjamin keamanan dan kenyamanan bagi perempuan, baik muslim maupun non-muslim, serta anak-anak.(*)
