Menyemai Harapan di Tanah Blorok: Delapan Tahun Perjuangan TK Pertiwi Al-Hidayah

2 Mei 2026 17:15 2 Mei 2026 17:15

Dian Wisnu A., Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Menyemai Harapan di Tanah Blorok: Delapan Tahun Perjuangan TK Pertiwi Al-Hidayah

Para guru TK Pertiwi Al-Hidayah, Desa Blorok, bersama anak-anak didik mereka yang mengenakan pakaian adat, merayakan Hari Pendidikan Nasional 2026. Delapan tahun sudah institusi ini menyemai benih karakter di tengah keterbatasan sarana dan kesejahteraan guru. (Foto: Dok. Sekolah/TK Pertiwi Al-Hidayah)

KETIK, KENDAL – Di sudut Desa Blorok, Kecamatan Brangsong, tawa anak-anak pecah di sebuah bangunan sederhana yang menjadi saksi bisu lahirnya harapan baru. Tanggal 2 Mei 2026 ini, saat bangsa merayakan Hari Pendidikan Nasional, TK Pertiwi Al-Hidayah genap melangkah dalam tahun kedelapannya sejak didirikan pada 2018 lalu.

​Lahirnya institusi ini bukan sekadar urusan administratif. Sejarah mencatat, TK ini berdiri atas inisiasi Bapak Sukri (Kepala SDN 2 Blorok saat itu) dan Ibu Prapti, yang kini menjabat sebagai Kepala Sekolah. Langkah ini diambil sebagai respons atas Peraturan Bupati yang mensyaratkan usia masuk SD minimal 6 tahun.

​"Kami mulai dengan musyawarah malam hari bersama Pak Lurah Subari saat itu, karena para pengurus hanya bisa berkumpul selepas kerja," kenang Ibu Prapti dalam sebuah perbincangan. Dengan modal awal iuran Rp125.000 dari 20 orang tua siswa pertama, mereka membeli alat permainan seadanya demi memastikan anak-anak Blorok mendapatkan hak pendidikan dini.

​Perjalanan tak selalu mulus. Baru dua tahun berjalan, pandemi COVID-19 menghantam pada Maret 2020. Jumlah siswa yang sempat stabil di angka 20, merosot drastis hingga menyisakan 9 anak saja. Namun, Ibu Prapti bersama tiga rekan sejawatnya—Bu Muna, Bu Rohayati, dan Bu Mahmudah—menolak menyerah.

​Kini, di tahun 2026, jumlah siswa telah kembali bangkit mencapai 35 anak. Meski legalitas dari Kemenkumham dan izin operasional Dinas Pendidikan sudah di tangan, tantangan baru tetap membayangi: kesejahteraan guru.

​Di balik senyum tulus saat mengajar, para guru di TK binaan Yayasan TP PKK Desa Blorok ini bertahan dengan honorarium yang jauh dari kata cukup. Dari empat tenaga pengajar, hanya satu yang berstatus PNS dan itu pun mendekati masa pensiun. Sisanya adalah Guru Tidak Tetap (GTT) murni yang mengandalkan bantuan operasional sekolah dan insentif APBD yang seringkali tidak menentu.

​"Harapan kami, guru-guru di tingkat TK—terutama yang di desa—mendapatkan perhatian lebih. Apalagi kuota P3K untuk guru TK di Kendal hingga saat ini belum tersedia," ungkap salah satu pengajar dalam diskusi tersebut.

​Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini menjadi momentum refleksi bagi TK Pertiwi Al-Hidayah. Di tengah keterbatasan kuota pengangkatan guru dan anggaran desa yang terbagi-bagi, dedikasi Ibu Prapti dan kawan-kawan tetap teguh. Mereka bukan hanya mengajar membaca dan menulis, tapi sedang merajut masa depan Kabupaten Kendal dari sebuah ruang kelas kecil di Blorok.

​Bagi mereka, setiap anak yang masuk ke jenjang SD dengan bekal karakter dan mental yang kuat adalah "juara" yang sebenarnya—seperti prestasi juara satu lomba membatik tingkat kecamatan yang pernah diraih anak didik mereka.

Tombol Google News

Tags:

Hardiknas 2026 Desa Blorok Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal