KETIK, KENDAL – Tanggal 2 Mei bukan sekadar torehan angka di kalender bagi Ahmad Mustofa, S.Pd. Baginya, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) adalah momen refleksi atas perjalanan panjang dua dekade mengabdi di baris terdepan kecerdasan bangsa. Di tengah hiruk-pikuk perubahan zaman, pria yang akrab disapa "Bang Tofa" ini tetap teguh berpijak pada prinsip: pendidikan harus membebaskan, bukan membelenggu.
Lahir di Kendal pada 30 Oktober 1987, pria asal Desa Tlogopayung, Kecamatan Plantungan ini bukanlah sosok pengajar yang hanya berdiam di balik meja kelas. Perjalanannya sebagai pendidik dimulai sejak usia sangat muda. Tercatat, ia telah mendedikasikan diri di MI NU 02 Nahdlatul Wathon Wonodadi pada kurun waktu 2006 hingga 2014, dan kini aktif mengabdi sebagai guru di MA Yanbu’ul Huda sejak tahun 2022.
Lulusan S1 Universitas Terbuka Semarang ini dikenal sebagai sosok yang multidimensi. Selain mentransfer ilmu di sekolah, Bang Tofa merupakan figur yang "kenyang" pengalaman organisasi. Jejak langkahnya tersebar luas, mulai dari organisasi keagamaan, kepemudaan, hingga terjun ke dunia politik dan kemasyarakatan.
Tak heran jika berbagai penghargaan prestisius pernah disandangnya. Sebut saja gelar Technopreneur Muda Pemula terbaik dari Disporapar Kendal tahun 2014, hingga penghargaan sebagai Pelopor Kebersihan Kabupaten Kendal terbaik tahun 2015. Pengalaman ini membuktikan bahwa baginya, mendidik adalah memberi teladan nyata melalui aksi sosial.
Selama 20 tahun mengajar, Bang Tofa tidak menutup mata terhadap realitas pahit di lapangan. Ia mencermati betul berbagai tantangan yang menghimpit dunia pendidikan saat ini.
"Kita masih menghadapi kesenjangan akses dan kualitas. Belum lagi beban administrasi guru yang sering kali lebih berat daripada jam mengajar itu sendiri," ungkapnya.
Ia juga menyoroti dampak teknologi yang menjadi pisau bermata dua. Distraksi digital dan kurikulum yang berubah terlalu cepat sering kali membuat pendidik maupun siswa terseok-seok. Masalah keterbatasan biaya pun masih menjadi momok yang membayangi impian anak bangsa.
Di Hardiknas 2026 ini, Bang Tofa membawa harapan besar. Ia memimpikan sistem pendidikan yang mampu mencetak siswa cerdas secara intelektual, namun tetap kokoh secara karakter dan siap menghadapi kerasnya dunia nyata.
"Pendidikan seharusnya membebaskan. Saya ingin murid-murid berani bertanya, tidak takut gagal, dan tumbuh menjadi pribadi yang utuh. Jangan sampai sekolah justru menjadi tempat yang membelenggu kreativitas mereka," tegas Bang Tofa.
Sosok Ahmad Mustofa adalah potret nyata bahwa pendidikan di Kabupaten Kendal digerakkan oleh hati yang tak pernah lelah belajar. Baginya, menjadi guru bukan hanya profesi, melainkan jalan hidup untuk memanusiakan manusia. (*)
