KETIK, JAKARTA – Samsung Electronics diprediksi bakal merajai pasar smartphone global pada 2026 meski industri ponsel tengah menghadapi tekanan akibat krisis chip dan kenaikan harga komponen.
Prediksi tersebut disampaikan firma riset pasar global Counterpoint Research.
Samsung dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan di tengah tekanan karena didukung rantai pasok yang terintegrasi serta jaringan distribusi yang telah matang.
Selain Samsung, Apple juga diperkirakan mampu menghadapi kenaikan harga komponen. Sementara sejumlah produsen lain, termasuk Huawei Technologies asal China, diproyeksikan masih mampu mempertahankan pertumbuhan pasar smartphone.
Analis utama Counterpoint, Yang Wang, mengatakan kemampuan Samsung dalam menyediakan komponen internal menjadi salah satu faktor yang mendorong perusahaan tersebut kembali ke posisi teratas.
“Kembalinya Samsung ke posisi teratas dipengaruhi oleh kemampuan menyediakan komponen internal, portofolio yang luas, dan hubungan yang mapan dengan operator dan pengecer,” kata Yang Wang, dilansir Bloomberg.
Namun, kondisi berbeda diperkirakan akan dihadapi sejumlah produsen smartphone asal China. Counterpoint memperkirakan mereka bakal mengalami tekanan pengiriman yang lebih besar selama siklus penurunan industri smartphone global.
“Produsen ponsel pintar terkemuka China diperkirakan akan mengalami tekanan pengiriman yang jauh lebih besar. Konsolidasi industri yang semakin cepat terus menjadi skenario dasar Counterpoint selama siklus penurunan ini,” ujarnya.
Counterpoint memprediksi pengiriman smartphone global sepanjang 2026 akan mengalami penurunan hingga 14,3 persen.
Sementara pengiriman smartphone dari sejumlah merek asal China diperkirakan bisa merosot hingga 34 persen akibat melemahnya permintaan di segmen pasar yang sensitif terhadap harga.
Tekanan tersebut mulai mendorong sejumlah produsen mengubah strategi bisnis. OnePlus dikabarkan menghentikan peluncuran produk terbaru di pasar Amerika Utara hingga Eropa.
Sementara Xiaomi, vivo, dan HONOR mulai menata ulang portofolio produk dengan lebih fokus pada smartphone kelas premium.
Strategi tersebut dinilai dapat membantu produsen menutup kenaikan biaya produksi komponen yang terus meningkat.
Krisis chip dipicu meningkatnya kebutuhan semikonduktor untuk pusat data berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Perusahaan semikonduktor global kini lebih memprioritaskan kebutuhan industri AI, sehingga pasokan komponen untuk industri elektronik konsumen menjadi semakin terbatas.
Kondisi tersebut membuat harga komponen terus meningkat dan produsen smartphone terpaksa melakukan penyesuaian harga perangkat kepada konsumen.
Kenaikan harga diperkirakan paling terasa pada smartphone kelas entry-level hingga menengah yang selama ini menjadi penopang terbesar penjualan ponsel global.
Counterpoint memperkirakan kondisi tersebut belum akan membaik dalam waktu dekat.
Kelangkaan chip memori diprediksi masih berlangsung hingga 2027, sementara industri smartphone global harus menghadapi penurunan pengiriman sepanjang 2026.
Di tengah tekanan tersebut, Samsung diproyeksikan menjadi salah satu produsen yang paling siap bertahan dan kembali memimpin pasar smartphone dunia. (*)
.png)