KETIK, JAKARTA – Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) kembali menugaskan 132 dai terpilih untuk mengabdi di berbagai pelosok Indonesia pada 2026. Pengiriman tersebut menjadi bagian dari komitmen DDII memperkuat dakwah sekaligus menghadirkan pelayanan bagi masyarakat di wilayah yang memiliki keterbatasan akses.
Ketua Umum DDII Adian Husaini mengatakan generasi saat ini perlu meneruskan perjuangan dakwah pedalaman yang telah dirintis Mohammad Natsir.
Menurut Adian, aktivitas dakwah tidak semestinya berhenti pada penyampaian nilai-nilai keagamaan. Para dai juga perlu memberikan manfaat langsung melalui pelayanan dan pendampingan masyarakat.
“Dakwah tidak hanya menyampaikan nilai keagamaan, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata melalui kepedulian, pelayanan, dan pendampingan masyarakat,” kata Adian dalam acara Pelepasan Dai dan Tasyakur 55 Tahun Dakwah Pedalaman DDII di Jakarta, Sabtu, 15 Agustus 2026.
DDII menempatkan para dai di berbagai wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, air bersih, dan layanan dasar lainnya.
Karena itu, para dai tidak hanya bertugas mengaktifkan masjid dan majelis taklim. Mereka juga menjalankan kegiatan pendidikan, pembinaan keagamaan, pemberdayaan sosial, serta membantu menghubungkan masyarakat dengan berbagai layanan dasar.
Dai Dibekali Pendidikan dan Praktik Lapangan
Adian menjelaskan DDII membekali para dai dengan pendidikan sebelum mereka menjalankan tugas di lapangan.
Para dai menempuh pendidikan setingkat S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir. Mereka juga menjalani dua tahun pendidikan berasrama serta dua tahun praktik aktif di masjid dan majelis taklim.
"Para da'i diterjunkan setelah menjalani pendidikan setingkat S1 di STID Mohammad Natsir, termasuk dua tahun pendidikan berasrama dan dua tahun praktik aktif di masjid serta majelis taklim," jelasnya.
Setelah menjalani proses pendidikan tersebut, para dai mengikuti pendidikan lapangan dengan terjun langsung ke tengah masyarakat.
Pola tersebut membuat proses kaderisasi tidak hanya menekankan penguasaan ilmu keagamaan. Para dai juga dilatih membaca persoalan dan kebutuhan masyarakat secara langsung.
DDII kemudian mengarahkan para dai untuk menjalankan pendekatan dakwah berbasis pelayanan masyarakat. Model ini memperluas peran dai sebagai pendamping sekaligus penghubung masyarakat dengan berbagai kebutuhan dasar.
Dampingi Masyarakat di Bidang Kesehatan
Salah satu bentuk pelayanan yang melibatkan dai adalah program Nurhealth Connection. Program tersebut menyediakan layanan kesehatan berbasis telemedicine bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan.
Program tersebut melibatkan dokter yang bersiaga di Jakarta, tenaga kesehatan di lokasi penugasan, serta dai sebagai fasilitator lapangan.
Para dai membantu warga mengakses layanan telemedicine, memberikan edukasi kesehatan, dan mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan sejak dini.
Selain kesehatan, DDII juga menjalankan program penyediaan akses air bersih dan sanitasi. Hingga 2026, DDII mencatat telah membangun 395 sumur dan 30 fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).
Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa DDII mengembangkan dakwah yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan keagamaan, tetapi juga menyentuh kebutuhan sosial masyarakat.
Pengiriman 132 dai pada 2026 diharapkan dapat melanjutkan pola pengabdian tersebut sekaligus memperluas manfaat dakwah di berbagai wilayah Indonesia. (*)
