AS Tolak Proposal Damai Iran di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

11 Mei 2026 06:27 11 Mei 2026 06:27

M. Rifat, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail AS Tolak Proposal Damai Iran di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Salah satu sudut kota Teheran Iran dengan mural terkait perang. (Foto: Dok. WANA)

KETIK, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menolak proposal balasan dari Iran terkait upaya perdamaian untuk mengakhiri konflik bersenjata yang tengah berlangsung. Penolakan ini disampaikan Trump di tengah situasi keamanan Selat Hormuz yang masih fluktuatif, meskipun dua kapal komersial dilaporkan baru saja berhasil melintasi jalur logistik vital tersebut.

Melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu (10/5/2026), Trump menyebut jawaban Teheran "sama sekali tidak dapat diterima." Meski tidak merinci poin keberatannya, pernyataan ini merespons draf yang dikirimkan Iran sebagai tindak lanjut atas tawaran Washington sebelumnya.

Tuntutan Iran dan Sinyal Diplomasi

Berdasarkan laporan media pemerintah Iran dan kantor berita Tasnim, Teheran mengajukan sejumlah syarat utama dalam proposal mereka, di antaranya:

  • Penghentian perang segera di seluruh front, termasuk Lebanon.
  • Pencabutan blokade laut oleh Amerika Serikat.
  • Penghapusan sanksi ekonomi, khususnya izin kembali menjual minyak.
  • Jaminan keamanan agar tidak ada serangan lanjutan terhadap wilayah Iran.

Laporan dari The Wall Street Journal menambahkan bahwa Iran sempat menawarkan konsesi teknis berupa pengenceran sebagian uranium yang diperkaya tingkat tinggi dan pemindahan sisa stok ke negara ketiga sebagai langkah kompromi.

Kelonggaran di Selat Hormuz

Meski retorika politik memanas, terjadi perkembangan signifikan di jalur pelayaran. Untuk pertama kalinya sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, kapal pengangkut LNG milik QatarEnergy, Al Kharaitiyat, berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Pakistan dengan persetujuan Iran. Selain itu, sebuah kapal kargo berbendera Panama juga diizinkan lewat melalui jalur yang ditentukan militer Iran.

Langkah ini dinilai sebagai upaya "membangun kepercayaan" oleh Iran terhadap mediator seperti Pakistan dan Qatar. Namun, Iran tetap memperingatkan bahwa mereka akan membalas setiap pengerahan kapal perang internasional (termasuk dari Inggris dan Prancis) yang mencoba masuk ke area tersebut dengan dalih perlindungan pelayaran.

Tekanan Politik Domestik Trump

Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan besar untuk segera mengakhiri konflik. Lonjakan harga bahan bakar akibat krisis energi global mulai menggerus popularitasnya menjelang pemilu Kongres yang menyisakan waktu kurang dari enam bulan.

Pihak oposisi dari Partai Demokrat, dipimpin Senator Jack Reed, menuding situasi ini merupakan dampak dari kebijakan luar negeri Trump yang keliru. "Ini adalah situasi yang memburuk karena tindakan Donald Trump, dan sekarang dia kelabakan mencari jalan keluar," ujar Reed.

Sikap Keras Israel dan Iran

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan operasi militer belum akan berakhir sebelum ancaman nuklir dan rudal balistik Iran benar-benar tuntas. Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan dengan tegas bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan eksternal dan akan terus membela kepentingan nasional mereka secara agresif.

Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai kelanjutan meja perundingan, sementara risiko eskalasi tetap tinggi menyusul laporan terdeteksinya sejumlah drone asing di wilayah Teluk.(*)

Tombol Google News

Tags:

Perang Iran perang as Amerika Serikat Iran Vs As Selat Hormuz