KETIK, JAKARTA – Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menilai adanya anggapan bahwa seluruh lembaga swadaya masyarakat (LSM), pengamat, maupun jurnalis merupakan “antek asing” merupakan kesimpulan yang berlebihan.
Hasan mengatakan, istilah londo ireng yang disampaikan Presiden harus dipahami secara utuh dan tidak ditarik menjadi kesimpulan bahwa semua kelompok LSM, maupun jurnalis memiliki keterkaitan dengan kepentingan asing.
“Kontra flow yang dilakukan adalah bahwa semua LSM, semua pengamat, semua jurnalis adalah antek asing. Nah, ini yang menurut saya agak-agak maksa,” kata Hasan dalam unggahan di akun Youtube pribadinya @HasanNasbi yang dikutip pada Rabu, 29 Juli 2026.
Menurut dia, istilah londo ireng memiliki makna sebagai sebutan lain bagi pihak-pihak yang bekerja untuk kepentingan asing.
Namun, ia menegaskan istilah tersebut tidak bisa digeneralisasi kepada semua profesi atau kelompok tertentu.
“Londo ireng itu ya bahasa lain untuk antek-antek asing. Tapi hari ini londo ireng itu sudah pintar, mereka memakai baju sebagai wartawan, pengamat maupun LSM,” ujarnya.
Hasan menyebut pernyataan Presiden tersebut sebenarnya sudah disampaikan secara jelas dan tidak bermakna menyasar seluruh kalangan.
Ia kemudian memberikan analogi terkait anggapan bahwa orang dekat Presiden dapat menjadi pejabat. Menurut Hasan, logika tersebut tidak bisa dibalik menjadi kesimpulan bahwa semua pejabat merupakan orang dekat Presiden.
Oleh karena itu, adanya anggapan bahwa seluruh lembaga swadaya masyarakat, pengamat, maupun jurnalis merupakan “antek asing” merupakan kesimpulan yang berlebihan.
“Kalau ada pernyataan, misalnya enak ya orang dekat Presiden karena orang dekat Presiden sekarang jadi pejabat. Kalau dibalik, benar tidak apakah semua pejabat itu adalah orang dekat Presiden?” ujar Hasan.
“Kalau orang dekat Presiden bisa jadi pejabat, tapi apakah semua pejabat adalah orang dekat Presiden?” pungkasnya. (*)
