Resort Jaga Alam, Bom Ikan Ancam Surga Bahari Halmahera Selatan

29 Juli 2026 18:15 29 Jul 2026 18:15

Thumbnail Resort Jaga Alam, Bom Ikan Ancam Surga Bahari Halmahera Selatan

Kepala Disparbudekraf Halmahera Selatan Ali Dano Hasan saat diwawancara Rabu 29 Juli 2026 (Foto: Bhasten For Ketik.com)

KETIK, HALMAHERA SELATAN – Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Disparbudekraf) Kabupaten Halmahera Selatan, Ali Dano Hasan, menegaskan aktivitas usaha pariwisata tetap harus berjalan sesuai ketentuan dan memperhatikan batas kawasan yang telah ditetapkan.

Pemerintah, menurut dia, tidak boleh membiarkan aktivitas apa pun yang terbukti mengganggu keseimbangan alam di sekitar kawasan wisata. Penanganan harus dilakukan apabila ditemukan pelanggaran. Ali menegaskan setiap kegiatan usaha wajib tunduk pada zonasi serta aturan ekologis.

“Kalau untuk lingkungan, itu memang harus ditindak. Resort atau wilayah mereka itu kan ada batas,” kata Ali saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu 29 Juli 2026.

Meski demikian, Ali menilai sejumlah pengelola penginapan wisata di Halmahera Selatan sejauh ini menunjukkan perhatian serius terhadap kelestarian alam. Ia menyebut Kusu Resort, Poroco, Nabuko, dan Sali sebagai kawasan yang dikelola dengan standar kepedulian cukup tinggi.

Menurut Ali, pelaku usaha pariwisata asing cenderung menempatkan kelestarian sebagai bagian utama pengelolaan destinasi.

“Tapi saya lihat selama ini, resort yang berinvestasi di sana sangat menjaga lingkungan. Apalagi resort milik orang Eropa seperti Kusu, Poroco, Nabuko, dan Sali. Mereka sangat jaga. Kalau perusakan lingkungan, selama ini saya tidak pernah mendapat informasi,” ujarnya.

Ali justru mengarahkan perhatian pada praktik pengeboman ikan yang berpotensi merusak ekosistem laut. Persoalan tersebut dinilai menjadi ancaman lebih nyata bagi kawasan wisata bahari dibandingkan aktivitas pengelolaan penginapan. Ia menduga ancaman terbesar justru berasal dari praktik destruktif di laut, sementara ruang kendali pemerintah daerah kini terbatas.

“Yang merusak lingkungan di sana itu mungkin pengeboman. Karena kewenangan kabupaten sudah tidak ada lagi untuk pengawasan yang menyangkut pengeboman dan lain-lain,” tuturnya.

Menurut Ali, keberadaan kawasan tersebut tidak semata-mata menawarkan tempat menginap. Keindahan pesisir, terumbu karang serta aktivitas menikmati panorama bawah air merupakan kekuatan utama yang mendatangkan wisatawan.

Bagi Ali, pesona pesisir bertumpu pula pada pengalaman bawah laut, tak semata fasilitas penginapan.

“Jadi di sana itu kan wisata bahari. Di sana bukan hanya ada hotel saja. Di samping itu ada diving, ada snorkeling, itu yang menjadi daya tarik,” jelasnya.

Ia mengatakan reputasi destinasi bahari Halmahera Selatan telah menjangkau wisatawan mancanegara. Pulau Sali, misalnya, disebut mempunyai posisi cukup kuat dalam jaringan promosi pariwisata di negara-negara Eropa.

Kondisi tersebut membuat persoalan kebersihan dan kelestarian alam mudah mendapat perhatian. Keluhan mengenai sampah maupun gangguan ekosistem bahkan dapat langsung diarahkan kepada pemerintah setempat oleh pengelola serta lembaga pemerhati alam.

Nama kawasan tersebut, menurutnya, telah menembus jaringan wisata internasional sehingga isu kebersihan maupun ekologi cepat mendapat sorotan.

“Karena kita di Halmahera Selatan itu, Pulau Sali di pasar Eropa sangat terkenal. Mereka sering komplain ke pemerintah daerah menyangkut lingkungan dan sampah. Apalagi oleh NGO menyangkut kerusakan lingkungan, kita yang kena sasaran,” pungkas Ali.

 

Tombol Google News

Tags:

Disparbudekraf Halsel Ali Dano Hasan wisata bahari Halmahera Selatan Ancaman Pengeboman Maluku Utara