KETIK, BOGOR – Beberapa hari terakhir, warganet dihebohkan dengan lagu Anisa Bahar berjudul "Gapapa" yang dicover dan liriknya diubah oleh Dj Ica Chellow dan Mala Agatha. Yang menjadi masalah, gubahan lirik lagu tersebut dianggap mengandung nuansa pornografi dan merendahkan martabat perempuan.
Sebelumnya, publik juga dihebohkan ulah Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein yang menciptakan lagu berbahasa Sunda berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat". Banyak pihak menilai, lirik lagu tersebut bias gender, misoginis danmerendahkan martabat perempuan.
Atas berbagai kontroversi tersebut, Om Zein -sapaan akrab Saepul Bahri Binzein telah meminta maaf dan mencabut serta menghapus lagu tersebut.
Menanggapi hal tersebut, dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Rahmi Damayanti, SSi, MSi, menilai bahwa kontroversi tersebut seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat ruang informasi yang mendukung nilai-nilai positif dalam kehidupan keluarga.
Ia mengatakan keluarga tidak hidup terlepas dari pengaruh lingkungan informasi. Berbagai pesan yang hadir melalui media, karya seni, maupun ruang publik setiap hari akan diterima, dimaknai, dan berpotensi membentuk cara pandang anggota keluarga.
"Yang terpenting bukan sekadar polemik sebuah lagu, tetapi bagaimana kita bersama-sama menghadirkan ruang informasi yang ramah keluarga dan menjunjung tinggi martabat setiap manusia," ujarnya, Minggu, 19 Juli 2026.
Rahmi menjelaskan, setiap narasi yang merendahkan seseorang, baik perempuan maupun laki-laki, berpotensi memengaruhi nilai-nilai yang berkembang di lingkungan keluarga. Karena itu, ruang publik perlu menjadi tempat yang mendorong penghormatan terhadap martabat setiap individu.
Ia menilai tingginya perhatian masyarakat terhadap polemik tersebut justru menunjukkan masih adanya kepedulian terhadap nilai-nilai sosial yang berkembang. Respons publik menjadi indikator bahwa masyarakat belum bersikap apatis terhadap informasi maupun karya yang beredar di ruang publik.
Menurutnya, lingkungan informasi yang sehat akan membantu keluarga menanamkan nilai saling menghormati, menghargai, dan menjaga sesama sejak dini.
Sebaliknya, apabila narasi yang merendahkan seseorang terus dianggap sebagai candaan atau sesuatu yang biasa, kondisi itu berpotensi mengikis budaya saling menghormati di tengah masyarakat. Pembahasan mengenai dampak normalisasi narasi seperti ini menjadi aspek penting yang perlu mendapat perhatian lebih luas.
Selain itu, Rahmi menilai upaya membangun ruang publik yang sehat tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga. Kolaborasi media, masyarakat, dan para pembuat karya juga diperlukan agar informasi yang beredar mampu memperkuat nilai-nilai kehidupan keluarga sekaligus menghargai martabat setiap manusia. (*)
.png)