KETIK, PACITAN – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi beberapa hari terakhir berdampak pada aktivitas usaha di Kabupaten Pacitan. 

Salah satu sektor yang merasakan langsung dampaknya adalah jasa percetakan yang seluruh proses produksinya bergantung pada pasokan listrik.

Desainer Grafis Astro Printing Pacitan, Edy Kurniawan mengaku mengalami penurunan omzet cukup signifikan akibat pemadaman yang terjadi dalam sepekan terakhir.

"Lumayan terdampak gara-gara tiga kali pemadaman dalam seminggu," kata Edy kepada Ketik.com, Minggu, 21 Juni 2026.

Menurut Edy, dampak paling terasa ketika pemadaman berlangsung hingga sore hari. 

Baca Juga:
Murni Hadi Trauma, Sempat Lumpuh Tiga Bulan usai Apes Lintasi Jalan Rusak Pacitan

Kondisi tersebut membuat sejumlah pesanan pelanggan yang harus segera selesai terpaksa disetop atau dialihkan ke cabang lain agar tidak mengalami keterlambatan.

"Kalau mati listrik sampai sore, otomatis pekerjaan yang buru-buru dilempar ke Astro Cabang Bapangan," ujarnya.

Akibat terganggunya proses produksi, omzet harian usaha percetakan tempatnya bekerja bisa berkurang hingga setengah dari kondisi normal.

"Sekitar 50 persen," ungkapnya.

Baca Juga:
Bos PLN Minta Maaf, Ungkap Dua PLTU Besar Gangguan dan Pasokan Batu Bara Tersendat

Meski tidak menyebutkan nominal kerugian secara rinci, Edy menilai pemadaman berulang membuat pelayanan kepada pelanggan menjadi kurang maksimal. 

Apalagi usaha percetakan sangat bergantung pada mesin digital yang membutuhkan suplai listrik stabil selama proses produksi berlangsung.

"Untuk nominal pastinnya yang tau admin," katanya.

Sementara itu, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) RI menilai pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah daerah belakangan ini tidak bisa hanya dikaitkan dengan pasokan batu bara.

BPKN justru menyoroti tata kelola distribusi energi dan keandalan sistem kelistrikan nasional.

Komisioner BPKN RI, Ir Jailani, mengatakan kebutuhan batu bara PLN pada 2026 diperkirakan mencapai 154 juta ton, sementara pasokan dari perusahaan tambang nasional mencapai 180 hingga 190 juta ton.

"Artinya, pemerintah sudah mengantisipasi kebutuhan batu bara PLN. Persoalannya bukan hanya ketersediaan, tetapi bagaimana distribusi, logistik, stok pembangkit, dan operasional sistem kelistrikan dikelola," kata Jailani.

Menurutnya, pasokan batu bara hanyalah satu bagian dari rantai sistem kelistrikan.

Setelah bahan bakar tersedia, masih ada faktor lain yang menentukan keandalan listrik, mulai dari distribusi, penyimpanan stok, operasional pembangkit, jaringan transmisi hingga distribusi ke pelanggan.

"Dari perspektif konsumen, masyarakat tidak peduli masalahnya ada di tambang, pelabuhan, pembangkit, atau jaringan. Yang penting listrik menyala dan aktivitas tidak terganggu," ujarnya.

Karena itu, BPKN mendorong pemerintah dan PLN memperkuat sistem pemantauan pasokan energi, meningkatkan keandalan logistik pembangkit, memperbaiki manajemen risiko operasional, serta memperkuat koordinasi antarinstansi.

"Ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya sumber daya yang dimiliki, tetapi juga bagaimana sumber daya itu dikelola untuk menjamin pelayanan kepada masyarakat," tegas Jailani.

Ia berharap peristiwa pemadaman listrik menjadi momentum evaluasi untuk membangun sistem kelistrikan yang lebih andal, stabil, dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, PLN UP3 Pacitan sebelumnya menjelaskan bahwa pengaturan operasi sistem dilakukan akibat kendala teknis operasional pembangkit yang berdampak pada distribusi listrik di wilayah Pacitan.

Saat ini, pihaknya terus mengoptimalkan pasokan listrik yang tersedia serta mempercepat proses pemulihan agar pelayanan kepada pelanggan kembali normal.

"Kami sampaikan, sampai saat ini untuk agenda pemadaman hari ini (Minggu, 21 Juni 2026) tidak ada, Bapak/Ibu. Sambil menunggu informasi lebih lanjut, akan kami update secara berkala. Semoga kondisi Ini terus membaik, Terima kasih atas perhatiannya," tulisnya melalui pesan siaran.(*)