Sabung Ayam: Tradisi, Kehormatan, dan Kontroversi

Jurnalis: Eko Hardianto
Editor: Rahmat Rifadin

29 Mar 2025 07:00

Thumbnail Sabung Ayam: Tradisi, Kehormatan, dan Kontroversi
Oleh: Eko Hardianto*

Tulisan ini berdasarkan opini sepihak penulis. Izinkan pula penulis meminta pembaca melihatnya dari sisi kebebasan berekspresi. Bagian dari kekayaan intelektual masyarakat bebas Indonesia.

Narasi kali ini berisi perspektif penulis tentang sabung ayam. Hasil observasi penulis selama beberapa minggu ke sejumlah peternakan ayam aduan di Jawa Timur.

Baiklah, langsung saja kita kupas topik sabung ayam. Sabung ayam bagi penulis bukan sekadar pertarungan dua ekor unggas. Ia adalah warisan budaya yang mengakar dalam banyak tradisi masyarakat. Menjadi simbol kehormatan, keberanian, dan ketangguhan. Seperti halnya adu banteng di Spanyol. Atau gulat sumo di Jepang.

Sabung ayam telah menjadi bagian dari identitas suatu bangsa. Menolaknya tanpa memahami konteksnya, sama saja menafikan sejarah dan kearifan lokal yang dijaga turun-temurun.

Baca Juga:
Ketimpangan di Balik Dapur MBG

Di berbagai belahan dunia, sabung ayam memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar hiburan. Di Bali, misalnya, sabung ayam atau tajen bukanlah sekadar pertarungan. Tetapi bagian dari upacara keagamaan.

Dalam ritual Tabuh Rah, darah ayam yang tertumpah diyakini sebagai persembahan kepada roh leluhur. Sebagai penolak bala dan pembersihan energi negatif. Ini bukan sekadar perjudian atau tontonan kasar, melainkan tradisi yang dihormati masyarakat setempat sebagai bagian dari spiritualitas mereka.

Selain makna spiritual, sabung ayam juga menjadi perekat sosial. Dalam banyak komunitas, arena sabung ayam adalah tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai lapisan. Tempat pertemuan para peternak, pedagang, hingga tokoh adat.

Di sinilah hubungan sosial terbentuk, keakraban terjalin, dan nilai-nilai kebersamaan diwariskan dari generasi ke generasi. Arena sabung ayam bukan hanya ajang pertarungan. Tetapi juga ruang interaksi budaya yang mempererat ikatan sosial.

Baca Juga:
Perwali Hiburan Malam dan Bahaya Regulasi yang Kabur

Bagi para peternak, sabung ayam bukanlah sekadar permainan. Tetapi juga bentuk dedikasi terhadap seni pemeliharaan unggas. Ayam aduan dirawat dengan sangat serius. Diberi makanan terbaik, dilatih dengan teknik khusus. Dan dipelihara dengan penuh perhatian. Ini adalah ilmu yang diwariskan turun-temurun. Mencerminkan kepiawaian dalam memilih genetika unggul dan melatih mental serta fisik ayam agar menjadi petarung tangguh.

Jika dirunut lebih dalam, sabung ayam adalah bentuk penghormatan terhadap hewan itu sendiri. Sebuah seni yang menggabungkan kearifan lokal, ketelitian, dan kecintaan terhadap makhluk hidup.

Secara ekonomi, sabung ayam juga memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat. Dalam banyak daerah, seperti Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, dan Blitar, sabung ayam bukan hanya hobi tetapi juga sumber penghidupan.

Peternak ayam aduan menggantungkan hidupnya pada usaha ini. Mulai dari pembibitan, pelatihan, hingga penjualan ayam berkualitas tinggi. Di beberapa negara seperti Filipina, dan Thailand, sabung ayam menjadi industri bernilai miliaran. Mendukung ekonomi lokal dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Tidak adil jika sabung ayam hanya dilihat dari sisi kekerasannya saja tanpa memahami konteks budayanya. Jika ada argumen sabung ayam bentuk eksploitasi hewan, maka kita harus melihat bagaimana olahraga modern pun terdapat unsur kompetisi yang melibatkan pertarungan fisik. Seperti tinju atau seni bela diri campuran (MMA).

Dalam kasus sabung ayam, pertarungan terjadi secara alami karena ayam jantan memang memiliki naluri bertarung yang kuat. Alih-alih melihatnya sebagai tindakan kekejaman, mengapa kita tidak menganggapnya sebagai cara manusia memahami dan mengapresiasi sifat alami hewan?

Sebagai sebuah warisan budaya, sabung ayam seharusnya tidak serta-merta dihapuskan, melainkan diregulasi agar tetap berlangsung dengan cara yang lebih etis dan terkendali. Seperti halnya olahraga tradisional lainnya, sabung ayam bisa dikembangkan menjadi ajang yang lebih terstruktur, dengan aturan yang membatasi kekerasan yang berlebihan.

Taji pisau atau benda tajam lainnya bisa dihilangkan, dan sistem pertandingan bisa dibuat lebih humanis tanpa harus berakhir dengan kematian salah satu ayam. Dengan demikian, tradisi tetap terjaga tanpa mengorbankan nilai kemanusiaan.

Dunia telah berulang kali menyaksikan bagaimana budaya yang dianggap kontroversial pada suatu masa bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih diterima tanpa harus dihilangkan. Jika adu banteng di Spanyol masih dapat dipertahankan dengan reformasi tertentu, mengapa sabung ayam tidak bisa mengalami evolusi yang serupa? Tradisi bukan untuk dimatikan, tetapi untuk diarahkan ke bentuk yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Menghapus sabung ayam sama dengan menghilangkan bagian dari sejarah dan identitas suatu masyarakat. Alih-alih menolaknya mentah-mentah, kita seharusnya belajar memahaminya dari sudut pandang masyarakat yang menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan mereka. Budaya adalah cerminan nilai dan kebijaksanaan suatu bangsa. Menghormati budaya berarti memahami bahwa tidak semua tradisi harus diukur dengan kacamata yang sama. SALAM. (*)

*) Eko Hardianto adalah wartawan Ketik.co.id yang bertugas di Probolinggo

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id

****) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id.
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Baca Sebelumnya

Tips Aman Meninggalkan Rumah Saat Mudik, Nomor 5 Paling Penting

Baca Selanjutnya

4 Rekomendasi Tempat Wisata Liburan Idulfitri One Stop Tourism di Kabupaten Malang

Tags:

Sambung Ayam Eko Hardianto tradisi sabung ayam

Berita lainnya oleh Eko Hardianto

Dualisme LMP Mereda, Gus Nur: Ini Langkah Konkret Rekonsiliasi

18 April 2026 20:34

Dualisme LMP Mereda, Gus Nur: Ini Langkah Konkret Rekonsiliasi

Regenerasi di Tubuh Repdem Probolinggo, Syaiful Islam Calon Kuat

18 April 2026 20:00

Regenerasi di Tubuh Repdem Probolinggo, Syaiful Islam Calon Kuat

Mitos Bisnis yang Menyesatkan

16 April 2026 15:57

Mitos Bisnis yang Menyesatkan

Ketika TEMPO Minta Maaf, Tapi Tidak Mengaku Salah

15 April 2026 18:33

Ketika TEMPO Minta Maaf, Tapi Tidak Mengaku Salah

Kisah PMI Kota Probolinggo, dari Donor Darah hingga Jemput Jenazah

14 April 2026 13:23

Kisah PMI Kota Probolinggo, dari Donor Darah hingga Jemput Jenazah

Nasib Tragis Angkot Probolinggo: Dulu Jadi Raja Jalanan, Kini Tinggal Kenangan

5 April 2026 16:37

Nasib Tragis Angkot Probolinggo: Dulu Jadi Raja Jalanan, Kini Tinggal Kenangan

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Mantan Kepala SMAN 1 Situbondo Dilantik Jadi Kepsek Garuda

Mantan Kepala SMAN 1 Situbondo Dilantik Jadi Kepsek Garuda