KETIK, YOGYAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diproyeksikan meningkatkan kebutuhan daging ayam secara signifikan di Indonesia. Lonjakan permintaan ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri unggas nasional.

Program MBG yang digagas pemerintah mulai memberi dampak nyata terhadap sektor peternakan, khususnya industri unggas. Permintaan daging ayam dan telur diprediksi meningkat tajam seiring implementasi program tersebut.

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), Singgih Januratmoko, menyebut kebutuhan daging ayam berpotensi bertambah hingga 40.000 ton per bulan.

Menurutnya, program ini dapat mendorong peningkatan konsumsi protein hewani sejak usia dini, terutama bagi pelajar di seluruh Indonesia.

Namun, ia mengingatkan kenaikan permintaan ini harus diimbangi dengan kesiapan produksi. Saat ini, pelaku industri masih menghadapi tekanan biaya produksi yang tinggi, sementara harga jual di pasar belum sepenuhnya menguntungkan.

Baca Juga:
LBH Ansor Desak APH Bongkar Dugaan Penyimpangan MBG Probolinggo

“Generasi muda cenderung lebih tertarik pada aspek keuangan atau saham daripada terjun langsung mengelola kandang. Pemerintah perlu melakukan strategi untuk mengatasi permasalahan itu, seperti peningkatan teknologi ataupun mendorong kebijakan harga yang melindungi peternak melalui perubahan regulasi,” ujar Singgih saat berbicara dalam seminar yang digelar di UGM, Kamis, 23 April 2026. 

Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Ali Agus, menegaskan pemerintah terus mendorong peningkatan produksi protein hewani melalui investasi di sektor unggas.

“Kita ingin mendorong peningkatan ketersediaan berbagai macam protein hewani, termasuk daging, mendorong bagaimana investasi di bidang industri peternakan unggas ini semakin meningkat,” katanya.

Selain peningkatan produksi, pemerintah juga fokus memperkuat distribusi agar pasokan dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara merata. Saat ini, produksi unggas masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sehingga perlu strategi pemerataan untuk menghindari ketimpangan pasokan.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia, Achmad Dawami, menegaskan bahwa sektor unggas merupakan penopang utama konsumsi protein nasional, dengan kontribusi mencapai dua pertiga dari total kebutuhan.

Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan agar tidak memicu gejolak harga di pasar.

“Terjadinya perubahan mulai dari pembibitan hingga distribusi akan berdampak langsung ke harga pasokan dan daya saing,” jelasnya.

Dengan lonjakan permintaan akibat MBG, pemerintah dan pelaku industri dituntut memperkuat kolaborasi agar program ini tidak hanya meningkatkan konsumsi, tetapi juga menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan peternak. (*)