KETIK, SURABAYA – Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus Pembina Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya, Prof Dr KH Moh Ali Aziz, M.Ag, menegaskan bahwa sikap ekspresif atau mengekspresikan diri dalam kehidupan sehari-hari merupakan bagian dari meneladani Rasulullah sekaligus dapat menjadi terapi bagi kesehatan mental.
Hal tersebut disampaikan dalam Kajian Senja yang digelar di Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya pada Rabu, 4 Maret 2026 petang.
Dalam kajian tersebut, Prof Ali Aziz mengajak umat Islam untuk berani mengungkapkan pikiran, perasaan, serta persoalan yang dihadapi secara terbuka dan positif.
Menurutnya, seorang Muslim seharusnya menjadi pribadi yang ekspresif, yakni tidak memendam persoalan yang sedang dihadapi. Sikap tersebut dinilai penting, terutama dalam kehidupan keluarga.
“Muslim itu ekspresif. Seorang Muslim itu senang mengekspresikan diri, senang bertanya. Kalau dalam kehidupan keluarga itu selalu membicarakan masalah dalam keluarga, tidak dipendam, sebab masing-masing tidak tahu tanpa diekspresikan atau disampaikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ekspresi dapat hadir dalam berbagai bentuk, baik melalui ucapan sederhana maupun bentuk perhatian kepada orang lain.
Salah satu contohnya adalah memberikan pujian kepada pasangan.
“Kalau istri memakai bedak atau jilbab lalu kita bilang, ‘Mama, sampean cantik ya’, itu ekspresif. Meski dijawab dengan guyon atau kelakar spontan, itu tetap bentuk ekspresi yang baik,” katanya disambut tawa puluhan anggota Jamaah Tartil Bakda Subuh (JTBS) Masjid Al-Akbar Surabaya yang hadir dalam kajian tersebut.
Prof Ali Aziz juga mencontohkan bahwa sikap ekspresif telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah sering menunjukkan apresiasi kepada orang-orang di sekitarnya, termasuk kepada keluarga.
Ia menuturkan salah satu contoh ketika Rasulullah menyambut istrinya yang menyiapkan makanan dengan doa kebaikan.
“Rasulullah berdoa, ‘Ya Allah, gantilah makanan surga bagi istriku yang telah menyiapkan makanan.’ Jadi Rasulullah itu ekspresif,” jelasnya.
Menurutnya, ungkapan positif kepada sesama tidak hanya membahagiakan manusia, tetapi juga memiliki nilai ibadah.
“Menyenangkan orang melalui kata-kata bukan hanya membuat manusia bahagia, tetapi juga menyenangkan Allah karena ciptaan-Nya dipuji, dan menyenangkan Rasulullah karena umatnya berakhlak baik. Bahkan malaikat pun ikut senang,” katanya.
Dalam kajian tersebut, ia juga menyinggung kebiasaan masyarakat Barat yang sering mengungkapkan rasa sayang kepada pasangan dengan kalimat seperti “I love you”, meskipun usia pernikahan telah berlangsung puluhan tahun.
Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk tidak ragu mengekspresikan perasaan secara positif dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadi, jangan biasa-biasa saja, tapi jadilah Muslim ekspresif. Ekspresif itu seperti ungkapan: ‘buah semangka, buah kedondong, suka atau tidak suka, ya ngomong dong.’ Jangan minder, karena mengatakan sesuatu yang baik bukan berarti saru,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam Al-Qur’an pun terdapat perintah untuk mengungkapkan sesuatu melalui kata “Qul” yang berarti “katakan”, seperti dalam surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
Selain itu, Prof Ali Aziz juga mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud tentang Rasulullah yang pernah memegang tangan sahabatnya, Muadz bin Jabal, sambil menyampaikan rasa sayang dan doa.
Dalam hadits tersebut Rasulullah berkata, “Ya Muadz, demi Allah, aku senang dirimu. Jangan sekali-kali kamu meninggalkan doa ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik’.”
“Cara Nabi itu membuat Muadz senang sampai akhir hayatnya,” tutur Prof Ali Aziz.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah kehidupan modern.
Ia menyebutkan, berdasarkan data yang disampaikan Menteri Kesehatan, sekitar 28 persen masyarakat Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental.
“Artinya, sekitar satu dari sepuluh orang Indonesia menghadapi masalah mental atau gangguan kejiwaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu tanda seseorang mengalami gangguan mental adalah mudah pesimis serta memiliki rasa iri terhadap orang lain.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memperkuat iman serta membiasakan diri mengekspresikan perasaan secara positif.
“Cara menghilangkan sakit hati adalah dengan iman yang kuat dan sikap ekspresif. Misalnya mencurahkan perasaan melalui tulisan atau menyampaikannya secara baik. Ekspresi juga bisa menjadi bagian dari terapi mental,” katanya.(*)
