Efisiensi Anggaran Picu Krisis Industri Even Jatim, Omzet Turun 65 Persen dan Ancam Keberlangsungan Usaha

28 April 2026 13:36 28 Apr 2026 13:36

Thumbnail Efisiensi Anggaran Picu Krisis Industri Even Jatim, Omzet Turun 65 Persen dan Ancam Keberlangsungan Usaha

Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto saat menerima Ketua Backstagers Jatim Lukman Sadaya bersama pengurua aliansi pelaku industri even di Graha Kadin Jatim di Surabaya. (Foto: Humas Kadin Jatim)

KETIK, SURABAYA – Aliansi pelaku industri even yang terdiri dari lima asosiasi menyampaikan keluhan kepada Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur terkait tekanan berat yang dialami sektor tersebut akibat kebijakan efisiensi anggaran.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Forum Backstagers Indonesia (FBI) Jatim, Lukman Sadaya, mengatakan pertemuan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus menyampaikan kondisi terkini industri even di daerah.

“Kami dari Backstagers Jatim, Evendo Jatim, Asperapi Jatim, Rental Indonesia dan Even Owners. Jadi ada lima asosiasi di industri even yang hari ini bersilaturahmi dengan Kadin Jatim,” ujarnya saat perkunjung ke Graha Kadin Jatim di Surabaya pada Senin, 27 April, 2026.

Ia mengungkapkan, dampak kebijakan efisiensi anggaran sangat terasa terhadap kinerja industri. Berdasarkan data kuartal pertama, penurunan telah mencapai angka signifikan.

“Kuartal 1 ini penurunannya sampai 65 persen, baik dari kinerja maupun omzet. Ini angka yang sangat besar,” jelasnya.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha pelaku industri even. Lukman menilai, jika situasi tidak membaik, pelaku usaha berpotensi kembali menjual aset seperti yang terjadi saat pandemi Covid-19.

“Jangan sampai di kuartal kedua nanti kami sampai menjual aset lagi seperti saat Covid. Waktu itu banyak yang menyerah dengan industri ini,” tegas Lukman.

Menurutnya, setelah mulai pulih pascapandemi, industri even kini kembali menghadapi tekanan akibat kebijakan efisiensi anggaran.

“Pasca Covid kami mulai punya nafas baru, tapi dengan efisiensi ini nafas kami kembali terengah-engah,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga menyoroti belum jelasnya posisi industri even dalam struktur kebijakan pemerintah. “Kami ini sebenarnya industrinya di mana, induknya siapa, nomenklaturnya belum jelas, termasuk standarisasinya,”ungkapnya.

Padahal, kata dia, industri even memiliki dampak ekonomi yang luas serta bersifat multisektoral. “Satu even melibatkan banyak sektor, mulai pariwisata, perhotelan, transportasi, makanan, UMKM, talent, desain hingga dekorasi. Dampaknya langsung dirasakan puluhan industri terkait,” paparnya.

Dari sisi ketenagakerjaan, industri ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Berdasarkan data tahun 2025, sekitar 1,2 juta tenaga kerja di Jatim menggantungkan hidup pada sektor even dan turunannya.

“Dengan adanya efisiensi ini, banyak teman-teman akhirnya menganggur, terutama yang freelance,” ujarnya.

Pengurangan tenaga kerja juga terjadi di tingkat perusahaan. Jika sebelumnya satu perusahaan memiliki 20 hingga 25 karyawan tetap, kini rata-rata hanya tersisa 2 orang hingga 4 orang.

“Dulu satu perusahaan bisa punya 20 sampai 25 karyawan in-house. Sekarang rata-rata tinggal 2 sampai 4 orang. Penurunannya bisa sampai 60–70 persen,” ungkap Lukman.

Sedangkan, Sekretaris DPD Backstagers Indonesia Jatim, Toufan WH, menegaskan bahwa industri even tidak bisa dipandang sebagai sektor informal semata.

“Kami ini bukan hanya tenaga informal, tapi tenaga ahli. Even juga bukan pemborosan, tapi punya dampak ekonomi besar dengan multiplier effect yang luas,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPD Industri Even Indonesia, Eko Febri, menyoroti ketidakjelasan klasifikasi usaha yang berdampak pada aspek administratif.

“KBLI sampai sekarang kami masih bingung mau menginduk ke mana dengan aturan yang baru. Di aplikasi procurement, kategori kami juga masih bias,” ujarnya, Ia menekankan pentingnya kejelasan roadmap industri even ke depan

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, menilai industri even atau MICE memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

“MICE ini jangan dimasukkan ke anggaran yang diefisiensi, karena mendukung semua sektor, termasuk UMKM,” tegasnya. Ia menyebut, pengurangan anggaran saat ini mencapai sekitar 60 persen di berbagai level pemerintahan.

Ia juga mendorong pelaku industri even untuk lebih adaptif terhadap perkembangan global dan kebijakan nasional.

“Teman-teman harus mengikuti perkembangan global dan nasional. Pemerintah fokus ke pangan, energi, green economy, dan pengembangan SDM, termasuk digital dan kreativitas di MICE,” jelasnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya peningkatan profesionalisme di industri even, khususnya dalam penyusunan proposal kegiatan yang lebih terukur.

“Ketika mengajukan proposal, harus disertai jaminan akan ada transaksi sekian dan dampak turunannya. Jadi lebih profesional untuk meyakinkan pemerintah,” tambahnya.

Sebagai tindak lanjut, Kadin Jatim akan menyusun pernyataan resmi guna mendorong perhatian pemerintah terhadap industri even.

“Kami akan mengeluarkan statement untuk menjelaskan bahwa MICE ini masih sangat dibutuhkan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selain menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, industri MICE juga memiliki efek berantai yang luas terhadap berbagai sektor lainnya.

“Kalau bicara tenaga kerja, jumlahnya banyak. Industri turunannya juga sangat banyak. Ini yang perlu kita sampaikan ke pemerintah, pentingnya MICE untuk pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Info Surabaya Berita Surabaya Jawa timur Even Jatim Dewan Perwakilan Daerah Kota Surabaya Forum Backstagers Indonesia Lukman Sadaya Adik Dwi Putranto Kadin Jatim