KETIK, BATU – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu mulai menyiapkan berbagai strategi untuk menyambut masa libur sekolah, yang berlangsung mulai 20 Juni hingga 11 Juli 2026.

Berbeda dengan periode libur Lebaran maupun Natal dan Tahun Baru (Nataru), pelaku perhotelan menilai karakter wisatawan saat libur sekolah memiliki pola yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan khusus untuk menjaga tingkat hunian hotel.

Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, mengatakan pihaknya menaruh harapan besar pada peningkatan kunjungan wisatawan keluarga selama masa libur sekolah.

Namun, ia mengakui periode tersebut memiliki tantangan tersendiri dibandingkan musim liburan besar lainnya.

Menurut Sujud, pada masa libur Idulfitri maupun Nataru, kunjungan wisatawan biasanya diperkuat oleh arus pemudik dari berbagai daerah yang turut berwisata bersama keluarga.

Baca Juga:
Siap-Siap! Respons SE Mendagri, Pemkot Batu Bakal Gelar Nobar Piala Dunia 2026 di Balai Kota

Kondisi tersebut membuat daya beli wisatawan relatif lebih tinggi sehingga hotel dapat mempertahankan tarif kamar pada level yang lebih baik.

“Libur sekolah tentu sangat kami harapkan karena menjadi salah satu momentum peningkatan kunjungan wisatawan. Namun, karakternya berbeda dengan libur Lebaran maupun Nataru. Pada dua periode tersebut biasanya ada tambahan wisatawan dari kalangan pemudik yang daya belinya cukup kuat sehingga tingkat hunian hotel lebih mudah terdongkrak,” ujarnya, Rabu, 17 Juni 2026.

Ia menjelaskan, durasi libur sekolah yang berlangsung hampir tiga pekan juga membuat pola kunjungan wisatawan lebih sulit diprediksi.

Berbeda dengan libur Lebaran atau Nataru yang umumnya memiliki puncak kunjungan dalam rentang waktu tertentu, periode libur sekolah cenderung menyebar sehingga pelaku usaha harus lebih fleksibel dalam menentukan strategi pemasaran.

Baca Juga:
Rapor Merah Musim Ini, Persikoba Siap Gelar Evaluasi Total!

“Libur sekolah berlangsung lebih lama, sekitar 20 hari hingga tiga minggu. Karena itu, kami sulit memprediksi kapan puncak kunjungannya. Kondisi ini membuat hotel tidak bisa mematok tarif terlalu tinggi dan tingkat okupansi juga belum tentu bisa menyamai periode Lebaran maupun Nataru,” katanya.

Untuk menjaga daya tarik wisatawan agar tetap memilih menginap di Kota Batu, PHRI mendorong seluruh hotel menerapkan strategi penyesuaian tarif secara dinamis sesuai kondisi pasar selama masa liburan.

“Kami harus berhati-hati dalam menentukan tarif kamar dari hari ke hari. Tujuannya agar harga tetap kompetitif dan menarik minat wisatawan untuk menginap lebih lama di Kota Batu,” jelasnya.

Selain mengatur strategi tarif, PHRI Kota Batu juga tengah memperkuat kolaborasi antara sektor perhotelan dan pengelola destinasi wisata.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah menghadirkan paket bundling hotel dengan tiket masuk taman rekreasi atau tempat wisata di Kota Batu.

Menurut Sujud, skema tersebut diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi wisatawan sekaligus membuat biaya liburan terasa lebih terjangkau.

“Saat ini kami sedang mendorong kerja sama antara hotel-hotel di Kota Batu dengan berbagai taman rekreasi. Konsepnya berupa bundling antara kamar hotel dan tiket wisata sehingga harga yang diterima wisatawan terasa lebih ramah di kantong,” ungkapnya.

PHRI berharap strategi kolaborasi tersebut dapat meningkatkan minat wisatawan untuk menghabiskan masa libur sekolah di Kota Batu sekaligus menjaga perputaran ekonomi sektor pariwisata selama periode liburan pertengahan tahun.