KETIK, BATU – Pemerintah Kota Batu terus memantapkan langkah untuk meraih predikat Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (KaTa Kreatif) pada subsektor gastronomi.
Komitmen tersebut ditunjukkan melalui penandatanganan Berita Acara Hasil Uji Petik Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) oleh Wali Kota Batu, Nurochman, bersama Tim Penilai Nasional Kementerian Ekonomi Kreatif di Balai Kota Among Tani, Jumat, 31 Juli 2026.
Tahapan ini menjadi bagian dari proses verifikasi kesiapan Kota Batu dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif berbasis kuliner.
Wali Kota Batu, Nurochman, menjelaskan bahwa uji petik tersebut menjadi salah satu tahapan penting untuk mengukur kesiapan Kota Batu dalam mengembangkan subsektor gastronomi yang didukung oleh sektor pertanian, UMKM, dan pariwisata.
“Penilaian ini menjadi salah satu tahapan untuk melihat kesiapan Kota Batu dalam mengembangkan potensi kuliner yang didukung hasil pertanian, pelaku UMKM, serta sektor pariwisata sebagai kekuatan ekonomi kreatif daerah,” ujar Cak Nur, sapaan akrabnya.
Cak Nur menyampaikan apresiasi kepada Tim Penilai Nasional Kementerian Ekonomi Kreatif yang telah melakukan verifikasi lapangan.
Menurutnya, Kota Batu memiliki modal yang kuat untuk berkembang sebagai kota kreatif karena didukung kekayaan hasil pertanian, keragaman kuliner, serta kreativitas masyarakat.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada Tim Penilai Nasional yang telah melakukan verifikasi lapangan. Kota Batu memiliki modal besar untuk berkembang sebagai kota kreatif karena didukung kekayaan hasil pertanian, ragam kuliner, serta kreativitas masyarakat,” imbuh mantan wakil ketua DPRD Kota Batu ini.
Ia optimistis Kota Batu mampu meraih predikat KaTa Kreatif Indonesia pada subsektor gastronomi.
Capaian tersebut, tambah Cak Nur, tidak hanya menjadi sebuah pengakuan, tetapi juga membuka peluang lebih luas untuk mempromosikan kuliner lokal, meningkatkan kunjungan wisatawan, dan memperluas kesempatan usaha bagi masyarakat.
“Kami optimistis Kota Batu dapat meraih predikat Kota Kreatif Indonesia pada subsektor gastronomi. Pengakuan ini bukan sekadar prestasi, tetapi juga menjadi peluang untuk memperkuat promosi kuliner lokal, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta membuka lebih banyak peluang usaha bagi masyarakat,” tuturnya.
Untuk mendukung target tersebut, Pemerintah Kota Batu akan terus mengintegrasikan potensi pertanian, kuliner, UMKM, dan pariwisata agar saling menguatkan.
Dengan sinergi tersebut, hasil pertanian lokal diharapkan tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami akan terus menghubungkan potensi pertanian, kuliner, UMKM, dan pariwisata agar saling mendukung. Dengan demikian, hasil pertanian lokal tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” jelasnya.
Selain itu, politisi PKB ini menegaskan bahwa pemerintah daerah juga menyiapkan strategi jangka panjang melalui penguatan regenerasi petani lewat program Smart and Integrated Farming. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan bahan baku berkualitas sebagai fondasi pengembangan kuliner khas Kota Batu.
“Pemerintah Kota Batu juga terus menyiapkan langkah jangka panjang melalui penguatan regenerasi petani dengan program Smart and Integrated Farming, sehingga ketersediaan bahan baku berkualitas untuk mendukung perkembangan kuliner khas Kota Batu tetap terjaga,” pungkasnya.
