KETIK, PACITAN – Perjuangan para guru di pelosok tak selalu mudah.
Luh Anik Saptorini (49), guru asal RT 1 RW 8, Lingkungan Ngawu, Dusun Purwosari, Desa Purwoasri, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, adalah salah satu di antaranya.
Luh Anik bukanlah guru baru. Sejak 2005, ia telah mengabdikan diri sebagai guru honorer di SDN Kebonagung dengan akses yang relatif mudah.
Selama 18 tahun, ia menjalani rutinitas mengajar dengan fasilitas yang cukup memadai dan lingkungan yang lebih dekat dengan keramaian.
Hingga pada 2022, setelah lolos seleksi, ia diangkat menjadi PPPK penuh waktu di SDN 3 Gunungsari, Kecamatan Arjosari.
Baca Juga:
Curi Perhatian, Raffi Ahmad Diserbu Ajakan Selfie saat Dampingi Wapres Gibran di PacitanPenempatan barunya justru membawanya ke wilayah terpencil yang membuka lembar kehidupan baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Perjalanan menuju sekolah menjadi ujian tersendiri bagi Anik.
Setiap hari, sarjana PGSD itu menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer.
Waktu tempuhnya sekitar 34 menit dalam kondisi normal, namun medan yang dilalui jauh dari kata mudah.
Baca Juga:
Santri Tremas Pacitan Pamer AI, Wapres Gibran: Jangan Sampai Kalah Sama RobotJalan bergeronjal membelah hutan, dengan jurang di sisi jalan, menjadi rute yang harus ia tempuh setiap hari.
Motor yang ditumpanginya harus melawan medan ekstrem, pun sering kali kendaraannya dalam kondisi yang tidak bersahabat.
Alami 6 Kali Kecelakaan hingga 1 Kali Masuk IGD
Luh Anik mengaku telah mengalami beberapa kali kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya selama perjalanan mengajar.
Salah satu yang paling diingatnya terjadi saat hujan mengguyur yang memicu jalan menuju sekolah menjadi licin.
Saat itu, gas motor tiba-tiba macet di tanjakan.
Motor melaju tak terkendali hingga hampir terjun ke jurang sedalam 30 meter.
Benturan keras membuatnya terluka hingga harus dilarikan ke IGD RSUD setempat.
"Itu kecelakaan yang keempat. Jadi mau tidak mau setelah saya diangkat jadi guru di SDN 3 Bangunsari ya saya paksakan. Saya jatuh ada sebanyak enam kali. Yang masuk IGD satu kali," kenangnya saat diwawancarai Ketik.com, Sabtu, 2 Mei 2026.
Tak hanya Anik. Ternyata, cerita serupa juga dialami seluruh guru di sekolah tersebut.
Tak ada satu pun kendaraan yang benar-benar dalam kondisi normal akibat sering terjatuh di medan ekstrem.
“Kalau dilihat ya motor-motor teman-teman itu sampai capek beli spion. Jadi ada yang spionnya hanya satu sisi, kadang juga nggak ada sama sekali. Terus motor aslinya warnanya biru, tapi salah satu body motornya warnanya hijau. Itu biasa. Jadi tidak ada motor yang normal satu sekolahan. Tidak ada motor yang normal karena saking seringnya dipakai jatuh,” ungkapnya.
Saat Anik pertama datang ke sekolah itu, ia mengaku terkejut melihat kondisinya.
Jumlah siswa dan pegawai bahkan tak genap hitungan jari.
Siswa datang dengan berpakaian lusuh tanpa mengenakan sepatu adalah hal lumrah.
Tampak begitu akrab dengan keterbatasan.
"Aku kan 18 tahun di SD negeri wilayah perkotaan baru pindah ke SD terpencil ya kaget," ungkapnya.
Fasilitas sekolah pun sangat kurang.
Listrik di sekolah belum tersedia secara mandiri. Sekolah hanya menumpang aliran dari rumah warga dengan daya yang terbagi.
“Kalau mau ngecas laptop atau HP harus gantian. Pakai printer juga tidak bisa bersamaan,” tuturnya.
Kondisi itu membuat peralatan elektronik cepat rusak dan kegiatan belajar mengajar sering terhambat.
"Warga disini saja yang pakai penanak nasi juga minim, karena ya nggak kuat listriknya disitu karena hanya satu tiang listrik dipakai dalam jumlah banyak," lanjutnya.
Sisihkan Gaji untuk Pasang Listrik dan Bangun Sekolah
Di tengah minimnya siswa yang membuat dana BOS juga terbatas, para tenaga pendidik pun tidak hanya bertahan, tetapi juga berinisiatif memperbaiki keadaan.
Mereka sepakat menyisihkan sebagian gaji dan tunjangan sertifikasi untuk kebutuhan sekolah.
“Akhirnya kita sepakat untuk menyisihkan gaji kita sedikit untuk pasang listrik disitu. Kita juga sering iuran untuk beli semen, dan material. Jadi kita yang belikan material-nya, warga yang memperbaiki jalan,” katanya.
Bagi Luh Anik, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan hidup yang ia pilih sejak lama.
Ia tumbuh di keluarga pendidik, menjadikannya terbiasa dengan nilai pengabdian.
“Saat ini banyak teman-teman yang mengeluh dengan sekolah yang jauh atau capek mengajar. Intinya, apapun yang kita dapat, kita wajib bersyukur. Jadilah guru yang amanah, bagaimanapun kondisinya,” ujarnya.
Ia percaya, setiap usaha yang dilakukan dengan ikhlas akan menemukan balasannya.
“Anak didik adalah amanah dari orang tua. Kewajiban kita adalah memintarkan mereka. Kita jalani dengan ikhlas, insyaallah ada balasannya. Allah tidak tidur,” tutupnya.(*)