Saat Dunia Batuk, Dompet Ikut Demam karena Biaya Hidup Makin Mahal

29 April 2026 15:11 29 Apr 2026 15:11

Mustopa

Editor
Thumbnail Saat Dunia Batuk, Dompet Ikut Demam karena Biaya Hidup Makin Mahal

Oleh: Dhiva Asoka Ardiyanti*

Belakangan, berita ekonomi global terasa seolah-olah alarm telah berbunyi di banyak tempat. Mereka meliputi ketegangan geopolitik, lonjakan harga minyak, munculnya kembali inflasi, menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil, dan suku bunga yang tidak akan turun dalam waktu dekat. 

Bagi sebagian orang, ini adalah masalah yang kompleks dan mungkin bahkan abstrak, tetapi dampaknya dirasakan saat mengisi bahan bakar, saat berbelanja, saat membayar tagihan, dan bahkan saat makan di luar.

Sering kali lupa, tetapi ekonomi global ada di mana-mana, dan efek sehari-hari ini nyata. Tetapi ketika berbagai bagian dunia sedang dalam keadaan panas, efeknya akan ada di mana-mana, dan orang-orang biasa akan merasakannya.

Konflik global, yang berlangsung ribuan mil jauhnya, mempengaruhi harga energi, dan pada akhirnya akan meningkatkan biaya hidup. Orang akan merasakan efeknya secara global.

Ketegangan global yang meningkat, dan terutama konflik di Timur Tengah, mempengaruhi seluruh dunia. Konflik ini mempengaruhi harga minyak. Orang akan merasakan efeknya saat harga minyak naik.

Mereka juga akan merasakan efeknya saat harga minyak bergerak. Seluruh dunia juga akan merasakan efek pasokan minyak dari perdagangan, dan harga minyak serta gas akan mempengaruhi orang-orang.

Minyak berfungsi sebagai sumber kehidupan bagi ekonomi. Banyak sektor bergantung pada berbagai bentuk transportasi atau energi untuk produksi dan distribusi. Ketika harga minyak meningkat, biaya produksi dan pengiriman juga meningkat.

Akhirnya, biaya tambahan tersebut diteruskan kepada konsumen saat mereka membeli barang dan jasa. Untuk alasan ini, perang yang kita libatkan diri di dalamnya, atau bahkan yang tidak melibatkan kita, dapat mempengaruhi ekonomi, atau perang bahkan bisa membawa medan perang ke meja makan konsumen.

Inflasi adalah kenaikan bertahap dalam harga barang dan jasa. Bagi orang rata-rata, inflasi memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dari sekadar angka indikator ekonomi tertentu. Pertimbangkan ini. Dengan inflasi, jumlah uang tetap tidak memungkinkan orang rata-rata untuk membeli keranjang barang yang sama seperti sebelumnya. 

Pikirkan tentang total pengeluaran bulanan. Itu membengkak. Biaya perjalanan, makanan dan jasa, bahkan pengeluaran untuk tabungan semuanya meningkat. Ini membuat menabung hampir mustahil.

Yang paling terdampak adalah komunitas termiskin dan unit komunitas terkecil. Berbeda dengan unit komunitas besar, mereka memiliki kemampuan yang lebih sedikit untuk menyerap, menahan, atau merespons kenaikan biaya hidup. Mereka harus bertahan dengan penghasilan tetap, pilihan terbatas dari pengeluaran yang sangat terbatas. 

Situasi ini harus dicarikan solusi oleh keluarga. Faktor global mempengaruhi mata uang negara. Ekonomi global menyediakan mata uang ekonomi bagi para investor. Negara berkembang menjadi kurang stabil dan bahkan berpotensi menjadi sumber ekonomi global. Mata uang yang lebih lemah membuat ekonomi lokal menjadi kurang stabil dan harga barang menjadi lebih tinggi.

Sekarang, kita dapat melihat pentingnya Bank Indonesia. Bank Indonesia tidak hanya fokus pada angka-angka tentang suku bunga. Bank Indonesia menjaga kepercayaan terhadap rupiah.

Keputusan untuk menetapkan BI-Rate pada 4,75 persen menunjukkan bahwa bank sentral menggunakan pendekatan hati-hati terhadap tujuan yang jelas yaitu menstabilkan rupiah dan mengendalikan inflasi dalam situasi global yang tetap tidak pasti.

Namun, keputusan tersebut membawa masalah sekunder. Sebuah ekonomi dapat didorong untuk berkembang dengan cepat dengan membuat kredit menjadi lebih murah. Ini menimbulkan tekanan yang lebih besar terhadap inflasi dan nilai mata uang. 

Jika bank memilih untuk mempertahankan suku bunga tersebut, akan ada keseimbangan yang lebih baik antara inflasi dan nilai mata uang, tetapi dengan biaya beban yang lebih besar pada ekonomi dan pendapatan. Inilah dilema sulit yang sedang dihadapi bank, menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kestabilan harga.

Ini adalah dilema yang serupa dengan yang dihadapi banyak ekonomi. Tekanan dari kenaikan biaya bahan bakar dan makanan, serta ketegangan di dunia mencegah pengelola ekonomi untuk menerapkan kebijakan yang melonggarkan kendali terhadap ekonomi. Dalam skenario ini, pertumbuhan ekonomi yang mendesak bukanlah jawaban langsung.

Bagi masyarakat umum, ini berarti bahwa biaya hidup akan terus meningkat. Jika harga minyak naik, maka biaya untuk menampilkan produk impor juga akan naik. Karena harga mata uang tidak mencerminkan keseimbangan yang baik, biaya hidup tetap meningkat. Dalam keadaan ini, mereka yang menjalankan bisnis akan dipaksa untuk meningkatkan biaya produk mereka agar tetap bertahan.

Tampaknya Indonesia tidak berada dalam posisi yang buruk. Ekonomi didukung secara utama oleh kebutuhan internal negara. Kehati-hatian akan diperlukan jika ketegangan dunia terus berlanjut dan jika biaya produksi serta konsumsi terus meningkat.

Saya pikir masalah ini menunjukkan bahwa menabung saat ini tidak cukup untuk masyarakat, dan saya setuju dengan itu. Meskipun menabung penting, itu tidak bisa menjadi satu-satunya jawaban atas situasi ini. Dalam menghadapi tekanan ekonomi global yang tinggi, beban tidak boleh sepenuhnya ditanggung oleh masyarakat. 

Pemerintah dan otoritas ekonomi harus lebih aktif dalam menyelesaikan masalah ini. Untuk melindungi masyarakat dari tekanan ekonomi global yang tinggi, prioritas haruslah stabilitas harga, perlindungan daya beli masyarakat, subsidi terhadap barang tertentu, dan penguatan mata uang.

Dalam situasi ekonomi global saat ini, masyarakat harus menggunakan uang dengan lebih sadar. Prioritas pengeluaran harus bergeser dari keinginan konsumtif ke kebutuhan pokok. Dana darurat harus disimpan, sebaiknya secara bertahap. 

Setiap orang sebaiknya menghindari penggunaan alat utang. Untuk mengendalikan pengeluaran pribadi, cukup dengan membandingkan harga yang tersedia. Setiap keputusan kecil yang diambil masyarakat dapat menentukan keseluruhan ekonomi mikro.

Dalam ekonomi global, untuk menyampaikan berita kembali kepada masyarakat, penting untuk memahami kebenaran bahwa ekonomi global adalah bagian dari masyarakat. Konflik di satu wilayah kecil dapat mempengaruhi ekonomi dunia karena minyak. 

Dampak ekonomi di satu wilayah dapat mempengaruhi seluruh aspek barang yang dibeli orang. Oleh karena itu, dalam ekonomi global, kita harus mengurangi rasa sakit masyarakat dan memastikan bahwa menabung bukan satu-satunya jawaban.

Sebaiknya semua orang peduli terhadap keadaan dunia yang tidak dapat diprediksi. Bagi pemerintah, ini adalah saat upaya yang lebih tinggi untuk melindungi daya beli warga. Bagi Bank Indonesia, ini adalah saat memelihara kredibilitas moneter dan secara hati-hati menjalankan kebijakan moneter. 

Bagi masyarakat, ini adalah saat tantangan yang lebih besar untuk memperkuat keuangan pribadi. Situasi global yang semakin memburuk adalah pengingat keras bahwa ini tidak sepenuhnya bersifat pribadi mengapa kita harus membantu menjaga jalannya ekonomi. Dalam ekonomi global, melemahnya daya beli adalah masalah kelangsungan hidup.

*) Dhiva Asoka Ardiyanti merupakan mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)
Tombol Google News

Tags:

opini Dhiva Asoka Ardiyanti Ekonomi