KETIK, MALANG – Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA menekankan agar Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) tak hanya melahirkan ilmuwan tapi cendekia dalam kegiatan Lustrum ke-13 UIN Malang pada Jumat, 2 Oktober 2026 di Aula Pertemuan Rektorat UIN Malang.
Dalam ruang pertemuan ini, Prof. Nasaruddin Umar menyampaikan perguruan tinggi Islam itu diukur dari input, output, income dan outcome.
Ia memberikan contoh bagaimana perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Agama RI dapat diukur dari jumlah mahasiswa yang masuk, banyaknya mahasiswa yang berhasil keluar. Kemudian, dengan menghasilkan ribuan sarjana, berapa banyak keuntungan yang didapatkan kampus, serta nilai tambah apa. Sama halnya dalam mencetak penghafal Al-Quran.
"Outcomenya nilai tambahnya, setelah mencetak penghafal Al-Quran terbanyak. Setelah berprestasi terbaik, jangan sampai nanti itu tidak mendatangkan outcome," ujarnya.
Dalam ekonomi, untung dan rugi harus dihitung. Ketika keuntungan masih dalam batas normal, itu akan tetap dianggap rugi dalam ekonomi. Prof. Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa dalam Islam, sebuah perguruan tinggi bukan hanya mengukur income dan outcome, tetapi impact yang diberikan kepada masyarakat.
Baca Juga:
Sampah Menumpuk di Sungai Picu Risiko Banjir, DLH Kota Malang Jadwalkan Pembersihan Jelang Musim HujanIa juga menegaskan bahwa PTKIN tidak seperti perguruan tinggi lainnya yang hanya mencetak ilmuwan, tetapi juga mencetak intelektual yang berarti setiap ilmu yang dimiliki harus bisa diamalkan.
Menurutnya, orang-orang yang berilmu, namun tidak mengamalkan ilmunya akan mendapatkan dosa yang besar. Ia menambahkan, orang-orang yang menunjukkan prestasinya, teori-teorinya, tapi tidak mengamalkannya kepada sesama.
"Besar betapa besar dosanya orang yang hanya bisa mengatakan, hanya bisa mengekspos prestasinya, teori-teorinya, tapi dia sendiri tidak mengamalkannya. Nah, Ilmuwan barat seperti itu, tidak ada urusan dengan personalnya," tutur Prof. Nasaruddin Umar.
Prof. Nasaruddin Umar juga menyampaikan bahwa PTKIN bukan hanya mencetak ilmuwan tapi juga seorang cendekia, yang memang pintar, kemudian mengamalkan kepintarannya, dan setelah itu kepintarannya dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Baca Juga:
Bencana Bisa Datang Kapan Saja, Warga Kota Malang Diimbau Siapkan Tas Siaga"Nah itu kalau ilmuwan itu hanya teori, belum tentu diamalkan. Bagaimana kalau ikatan intelektual Islam? Muncul lagi. Kalau intelektual itu hanya pinter dan mengamalkan diri sendiri, tapi tidak punya dampak dalam masyarakat. Kalau mempunyai dampak dalam masyarakat itu namanya cendekiawan. Nah lahirlah ICMI, Ikatan Cendekiawan Muslim," jelas Prof. Nasaruddin Umar.
"Jadi yang kita akan cetak disini, bukan hanya seorang ilmuwan, bukan hanya seorang intelektual, tapi juga seorang cendekia. Cendekia, pintar, diamalkan kepintarannya, tapi kepintaran itu pun juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," imbuhnya.
Sehingga, best university menurut Prof. Nasaruddin Umar adalah kampus yang bisa bersyukur dan menyadari bahwa kebermanfaatan ini semuanya paralel. Ia menegaskan bahwa rasa syukur akan pencapaian harus memerlukan fasilitas
"Jangan-jangan karena kita gak punya media. Maka tidak kita melakukan ujian terhadap Tuhan. Maka tahmid itu lebih generik dan syukur itu lebih spesifik. Maka tersebut. Alhamdulillahi Rabbil Alamin," ucapnya.(*)