Mengaji dan Niat yang Perlu Diluruskan

Editor: Mustopa

28 Okt 2025 16:45

Thumbnail Mengaji dan Niat yang Perlu Diluruskan
Oleh: Wilda Fizriyani*

Kalau berbicara mengaji atau ikut kajian agama, masyarakat Islam di Indonesia sudah termasuk kelompok yang sangat rajin mengikutinya. Entah itu dari kalangan anak-anak maupun dari orang dewasa. Bahkan, orang-orang berusia lanjut pun masih semangat untuk menghadiri kegiatan-kegiatan tersebut. 

Di balik tingkat keikutsertaan mengaji yang cukup bagus, apakah ilmu-ilmu yang didapat mereka benar-benar diterapkan? Atau jangan-jangan mereka hanya sekadar ikut-ikutan tren dan gaya-gayaan? Hal lebih parah lagi, bisa saja ada yang motivasinya untuk pencitraan saja.

Di Indonesia, ada banyak penceramah yang selalu ramai didatangi umat Islam setiap kajian, seperti Ustadz Hanan Attaki, Ustadz Adi Hidayat, Habib Husein Ja’far Al Hadar dan lain-lainnya. Tak tanggung-tanggung, kehadiran mereka mampu menarik minat anak-anak muda yang biasanya sulit digapai. Sebuah hal yang patut menggembirakan bagi umat Islam di Indonesia.

Keikutsertaan anak-anak muda dalam kajian agama tentu patut diapresiasi. Situasi ini menandakan bahwa ajaran agama yang disampaikan melalui ceramah tidak ditinggalkan sepenuhnya mereka. Secara garis besar, bisalah kita menyimpulkan tingkat anak muda dalam mengaji sudah menunjukkan tren yang bagus.

Baca Juga:
Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Antara Mengikuti Tren dan Mengharapkan Rida Allah Swt

Yang paling dikhawatirkan dari adanya kondisi ini sebenarnya berkaitan dengan motivasi dari peminat kajian. Terkadang ada yang mengikuti kegiatan tersebut karena ingin ikut tren saja. Ini sering kali dikategorikan sebagai fenomena fear of missing out (FOMO).

Selain itu, juga ada yang motivasinya karena ingin validasi diri. Cara ini biasanya ditunjukkan agar individu terlihat saleh/salehah di kalangan pertemanannya. Beberapa ada yang memilih memamerkannya dengan mengunggah di media sosial (medsos), baik itu Instagram, TikTok, Facebook, maupun X.

Jika kita amati, maka akan terlihat adanya budaya FOMO dan pamer guna validasi diri. Ini terlihat biasa bukan? Namun, bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai fenomena tersebut? 

Baca Juga:
Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Mengaji merupakan salah satu kegiatan dari ibadah dalam bentuk membaca, memahami, dan mempelajari Alquran. 

Secara harfiah, ibadah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna sebagai perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah Swt yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itu artinya sebuah ibadah hendaknya semata-mata hanya ingin mendapat keridaan dan pujian dari Allah SWT, bukan dari manusia semata.

Perintah Allah SWT., agar umatnya beribadah dengan niat semata-mata karena-Nya bisa diamati melalui surat Al-Zumar ayat 11. Isi surat ini bisa diamati melalui paparan berikut ini. 

قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ ۝١١

Artinya: 

"Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.’"

Melalui ayat tersebut, terlihat jelas bahwa umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah dengan niat seutuhnya untuk Allah SWT. Tidak boleh ada niat pamer apalagi ikut tren yang tak diketahui motivasi nyatanya. Larangan pamer pun dapat kita pelajari melalui hadits riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini.

من رآى رآى الله به ومن سمَّع سمَّع الله به

 Artinya : 

“Barangsiapa yang beramal ingin dilihat, maka Allah akan tampakkan amalan riya itu dan barangsiapa yang beramal dengan sum’ah, maka Allah akan bongkar pula amalan sum’ah tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Keberadaan hadits larangan pamer ini menunjukkan betapa Allah SWT tidak menginginkan umatnya untuk merasa tinggi hati dibandingkan manusia lain. Dia tidak ingin hamba-Nya menduakan niat yang bukan selain-Nya. Kemurnian niat ibadah terutama dalam mengaji harus tetap diutamakan bagaimanapun keadaannya.

Bukti-bukti larangan pamer juga dapat ditemukan melalui peribahasa yang ada di Indonesia. Sebut saja peribahasanya seperti ini “Ketika tangan kanan melakukan maka tangan kiri tidak perlu tahu”. Ini merupakan peribahasa yang sudah bukan hal asing lagi bagi masyarakat Muslim di Indonesia?

Peribahasa itu mengindikasikan bahwa tindakan kebaikan yang dilakukan manusia sebaiknya tidak perlu diumbar. Tak perlu orang tahu bahwa yang bersangkutan sudah melakukan perbuatan baik termasuk ibadah dalam mengaji.

Penjelasan di atas sudah sepatutnya dapat menjadi pengingat untuk umat Muslim. Hal ini terutama bagi mereka yang niatnya masih sedikit menyimpang. Niat yang belum sesuai ketentuan yang sudah ditekankan Allah Swt dalam aturannya.

Tetaplah Mengaji

Pada umumnya, tidak apa-apa jika kita ikut mengaji karena terdampak karena tren, asalkan niat hati semata-mata karena ingin mendapatkan pahala Allah Swt.

Tidak apa-apa apabila ingin mengunggah aktivitas mengaji di medsos, asalkan ditunjukkan agar orang lain termotivasi untuk melakukan hal serupa. Jangan sampai niat itu hanya untuk dipuji oleh orang lain, apalagi agar dilabeli sebagai manusia saleh/salehah.

*) Wilda Fizriyani merupakan pengajar di Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF)

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.com

****) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Baca Sebelumnya

Staycation di 0 KM Kayutangan, Rasakan Pesona Klasik dan Sejarah di RICHE Heritage Hotel Malang

Baca Selanjutnya

Bupati Asahan Ikut Panen Raya Jagung di Tinggi Raja, Komitmen Kemandirian Pangan Daerah

Tags:

opini Mengaji Wilda Fizriyani

Berita lainnya oleh Mustopa

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

13 April 2026 21:26

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

11 April 2026 13:38

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

10 April 2026 22:10

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

10 April 2026 18:49

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

8 April 2026 00:00

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

7 April 2026 08:00

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar