Idul Kurban dan Visi Kemanusian: Meneguhkan Kepedulian di Tengah Krisis Sosial

25 Mei 2026 13:16 25 Mei 2026 13:16

Mustopa

Editor
Thumbnail Idul Kurban dan Visi Kemanusian: Meneguhkan Kepedulian di Tengah Krisis Sosial

Oleh: Lukman AR*

“Sebagian harta yang kita miliki ada hak orang lain di dalamnya” mungkin tidak semua orang memahami arti dari kalimat itu. Kalimat yang syarat akan makna kemanusian dan pengorbanan.

Kurban adalah simbol bahwa sebagian dari rezeki, tenaga, pikiran, dan waktu yang kita miliki harus diarahkan untuk kemaslahatan bersama.

Idul kurban bukan sekadar perayaan keagamaan tahunan yang ditandai dengan penyembelihan hewan kurban.

Lebih dari itu, Idul kurban adalah momentum spiritual dan sosial untuk meneguhkan kembali makna kepedulian, pengorbanan, serta solidaritas kemanusiaan. 

Di tengah kehidupan masyarakat yang masih diwarnai berbagai krisis sosial, seperti kemiskinan, kesenjangan ekonomi, individualisme, dan melemahnya rasa empati, Idul kurban hadir sebagai pengingat bahwa ibadah tidak boleh berhenti pada ritual semata, tetapi harus melahirkan manfaat nyata bagi sesama.

Bahwa memaknai iduladha atau idul qurban bukan sekedar perayaan atau penyembelihan, memaknai idul adha adalah momentum pengorbanan hamba kepada sang mencipta, sebagai manifestasi keimanan dan ketaqwaan hamba kepada Allah Swt.

Dalam dua sisi iduladha adalah bentuk “pengorbanan” sisi kedua adalah “kemanusian”. Kita urai satu persatu: “Pengorbanan” adalah bentuk ketaatan, kebaktian seorang anak kepada orang tua. Dimana seorang ayah sekaligus Nabi, diutus Allah untuk menyembelih putranya sendiri yang telah dinanti-nanti berpuluh-puluh tahun. 

Idul kurban juga mengajarkan pentingnya membangun visi kemanusiaan. Visi ini menempatkan manusia sebagai makhluk yang harus saling menjaga, bukan saling menjatuhkan. 

Dalam masyarakat yang sering terpecah oleh perbedaan ekonomi, politik, agama, maupun budaya, semangat qurban mengajak kita untuk kembali pada nilai dasar kemanusiaan: bahwa penderitaan orang lain adalah tanggung jawab moral bersama. Kepedulian tidak boleh dibatasi oleh identitas, status sosial, atau kelompok tertentu.

Pengorbanan

Cerita ini mengisahkan seorang Nabi Ibrahim, seorang nabi yang diutus Allah untuk menyebarkan agama tauhid di tengah masyarakat yang menyembah berhala, dikaruniai seorang putra setelah sekian lama menanti. 

Putra tersebut yang diberi nama Ismail, lahir dari istri kedua Nabi Ibrahim yaitu Siti Hajar. Seorang hamba sahaya perempuan yang diberikan istri pertama Ibrahim, Siti Sarah, karena tidak kunjung diberikan keturunan darinya.

Suatu malam, Nabi Ibrahim mendapat mimpi berulang kali di mana ia diperintahkan Allah untuk menyembelih Ismail sebagai bentuk kurban. Mimpi tersebut membuat Nabi Ibrahim dilanda kebingungan dan keraguan. Bagaimana mungkin ia harus mengorbankan putranya yang sangat ia cintai?

Nabi Ibrahim bimbang antara keraguan dan ketaatannya kepada Allah. Ia menceritakan mimpinya kepada Ismail, dan putranya yang penuh keyakinan itu justru mendukung ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah.

Dengan hati yang teguh dan penuh keikhlasan, Nabi Ibrahim membawa Ismail ke sebuah lembah yang berada di Mina untuk melaksanakan perintah Allah. Ismail yang telah siap untuk dikorbankan, dibaringkan di atas tanah, dan pisau tajam telah dipegang oleh Nabi Ibrahim.

Keajaiban muncul pada saat Nabi Ibrahim hendak menyembelih Ismail, berkali-kali pisau tidak melukai leher Ismail. Tepat saat Nabi Ibrahim hendak mengorban Ismail, Allah menurunkan wahyu untuk menghentikan tindakan tersebut dan sebagai gantinya, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih seekor domba jantan yang telah disediakan Allah di dekatnya.

Peristiwa kurban ini menjadi bukti nyata ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah Swt, dan kesediaannya untuk mengorbankan apapun demi menjalankan perintah-Nya. Kisah ini juga menjadi simbol pengorbanan dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah.

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam peristiwa kurban mengajarkan banyak hikmah penting bagi umat Islam, di antaranya:

Ketaatan kepada Allah Swt: Perintah untuk menyembelih Ismail merupakan ujian ketaatan bagi Nabi Ibrahim. Kesediaannya untuk mengikuti perintah Allah, meskipun sangat berat, menjadi contoh teladan bagi umat Islam untuk selalu taat kepada Allah dalam segala situasi.

Kesabaran dan Keikhlasan: Dalam menghadapi ujian berat ini, Nabi Ibrahim dan Ismail menunjukkan kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa. Mereka yakin bahwa Allah SWT memiliki rencana terbaik bagi hamba-Nya.

Pengorbanan: Peristiwa Qurban melambangkan pengorbanan yang dilakukan umat Islam dalam beribadah kepada Allah. Pengorbanan ini bukan hanya tentang harta benda, tetapi juga tentang waktu, tenaga, dan bahkan jiwa raga.

Kasih Sayang: Meskipun Nabi Ibrahim sangat menyayangi Ismail, ia rela mengorbankannya demi mengikuti perintah Allah. Hal ini menunjukkan bahwa kasih sayang kepada Allah harus selalu diutamakan di atas kasih sayang kepada makhluk lainnya.

Kemanusiaan

Tak sepantasnya hamba yang taat kepada Allah, menyimpan atau tidak mau mengorbankan hartanya untuk sesama manusia. Apa yang kita miliki ini adalah titipan.

Bahwa Momentum iduladha atau juga disebut hari raya qurban adalah momentum berbagi, dimana hubungan antar umat manusia menunjukkan rasa kasih sayang antar sesama. Momentum bagi kaum fakir, miskin atau kaum yang kurang mampu, bisa menikmati daging kurban. 

Kemanusiaan dalam berkurban mencakup berbagai aspek, di antaranya rasa empati dan kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan, serta pengorbanan untuk meringankan beban mereka.

Kurban merupakan bentuk solidaritas sosial dan sarana untuk mempererat hubungan antar manusia. Daging kurban yang dibagikan kepada fakir miskin dan kaum duafa menjadi simbol kebahagiaan dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

Misi Kemanusian

Kurban memiliki misi kemanusiaan yang luas, yaitu membantu mereka yang termarginalkan dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Menghapus sifat Serakah

Berqurban juga bertujuan untuk menghapus sifat serakah dan mendorong sikap berbagi dalam diri manusia.

Menyentuh hati

Ibadah kurban dapat menyentuh hati dan membangkitkan rasa belas kasih kepada sesama, sehingga mendorong untuk terus berbagi dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

Berkurban bukan hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga tentang menumbuhkan rasa kemanusiaan, empati, dan kepedulian terhadap sesama. 

Kurban menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar manusia, meningkatkan rasa syukur, dan membantu meringankan beban mereka yang membutuhkan. Ibadah qurban mengajarkan tentang pentingnya berbagi, pengorbanan, dan solidaritas sosial dalam masyarakat.

Hikmah berkurban meliputi mendekatkan diri kepada Allah Swt, mensucikan harta, meningkatkan ketakwaan, menjadi sarana pendidikan, dan berbagi kebahagiaan dengan sesame.

*) Lukman AR merupakan ASN UIN KHAS Jember

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)
Tombol Google News

Tags:

opini IdulAdha Lukman AR Idul Qurban