KETIK, SITUBONDO – Setelah melaksanakan seleksi ketat, Marta Mila Sughesti, mantan Kelapa SMAN 1 Situbondo dan SMAN 1 Tanggul, Jember, Jawa Timur, kini dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Sekolah Garuda, Kamis 16 April 2026.
Sekolah Garuda sebuah program sekolah unggulan yang digagas pemerintah melalui Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementrian Pendiditan Tinggi untuk mencetak generasi berprestasi dan berdaya saing global.
Marta Mila Sughesti dilantik dan diambil janji sumpah jabatannya dilingkungan Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementrian Pendidikan Tinggi, sebagai Kepala Sekolah Unggulan Garuda. Ini menjadi bukti pengakuan atas pengalaman dan dedikasi panjang dalam dunia pendidikan yang telah dilakukan oleh Marta Mila Sughesti.
Perempuan kelahiran Situbondo ini satu-satunya dari Jawa Timur yang lolos seleksi Kemendikti Saintek. Selama memimpin SMAN 1 Situbondo maupun SMAN 1 Tanggul, Marta dikenal mampu menghadirkan berbagai inovasi pendidikan, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta mendorong prestasi siswa di berbagai bidang.
Baca Juga:
Dari Sekolah Rakyat, Pemalang Kini Bersiap Hadirkan Sekolah GarudaProgram Sekolah Garuda sendiri merupakan inisiatif pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia untuk mengembangkan sekolah unggulan yang berfokus pada penguatan karakter, prestasi akademik, serta kesiapan siswa menghadapi tantangan global.
Dengan pengalaman memimpin dua sekolah besar di Jawa Timur tersebut, kehadiran Marta sebagai kepala sekolah unggulan tersebut diharapkan mampu membawa Sekolah Garuda menjadi lembaga pendidikan yang melahirkan generasi unggul, inovatif, dan berintegritas.
Marta Mila Sughesti mengatakan, proses seleksi yang dijalaninya menjadi pengalaman berharga sekaligus tantangan besar.
“Sebab, di tahap awal seleksi administrasi ada sebanyak 532 pendaftar secara nasional, dari jumlah tersebut 229 peserta dinyatakan lolos,” jelas Marta.
Ratusan peserta itu, sambung Marta, kemudian disaring kembali berdasarkan kemampuan bahasa Inggris dengan standar minimal IELTS 6,5, TOEFL iBT 81,5, PTE 58,5, dan TOEFL ITP 550, hingga terpilih 58 peserta terbaik. Tujuh di antaranya menjadi wakil dari Jawa Timur.
“Pada tahap lanjutan, peserta mengikuti tes substansi selama dua jam, dan dilanjutkan dengan tes psikologi di hari kedua, serta presentasi visi-misi dalam bahasa Inggris di hadapan panelis profesional berbagi expert keilmuan dengan durasi sekitar lima menit,” jelas Marta melalui sambungan selulernya.
Seleksi ini, sambung Marta, bukan hanya menguji kompetensi, tetapi juga kesiapan dalam memimpin sekolah berstandar global. Mulai dari administrasi, tes substansi, hingga presentasi dalam bahasa Inggris menjadi proses pembelajaran yang sangat bermakna.
Lebih lanjut, Marta menambahkan, motivasinya untuk mengikuti seleksi didorong oleh komitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Karena, kepala sekolah memiliki peran strategis sebagai learning leader, agen perubahan, dan penggerak ekosistem pendidikan.
“Saya meyakini kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, tetapi juga kepemimpinan kepala sekolah yang mampu mendorong inovasi, kolaborasi, dan budaya belajar yang kuat,” jelas Marta.
Di tahun pertama, pemerntah membuka empat Sekolah Garuda Unggul di berbagai wilayah Indonesia timur, yakni di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tenggara, dan Belitung Timur.
“Saya ikut seleksi ini dan alhamdulillah lolos. Hari ini saya dilantik di Auditorium Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Gedung D Lantai 2 Jl Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta Pusat. Saya ditempatkan menjadi Kepala Sekolah Garuda di Nusa Tenggara Timur,” pungkasnya.(*)