KETIK, SURABAYA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur membagikan prediksi musim hujan Jawa Timur 2026/2027 melalui akun Instagram resminya @bmkg.iklimjatim, pada 29 September 2026.

Unggahan tersebut memuat informasi mengenai prediksi awal musim hujan, sifat hujan, perbandingan dengan kondisi normal, curah hujan, durasi, hingga puncak musim hujan di Jawa Timur.

Berdasarkan prediksi BMKG, awal musim hujan 2026/2027 di Jawa Timur berlangsung secara bertahap, mulai November 2026 hingga Januari 2027. Sebanyak 68 dari 74 Zona Musim (ZOM) diprediksi memasuki musim hujan pada Desember 2026. Sementara itu, sifat hujan pada musim hujan di sebagian besar ZOM diprediksi berada dalam kategori normal, yakni sebanyak 68 ZOM.

Jika dibandingkan dengan kondisi normalnya, awal musim hujan di Jawa Timur diprediksi mengalami kemunduran pada 70 ZOM. Untuk curah hujan selama musim hujan, sebanyak 39 ZOM diprediksi memiliki curah hujan 1.001–1.500 milimeter. Adapun durasi musim hujan di sebagian besar wilayah diprediksi berlangsung selama 13–15 dasarian, yang mencakup 51 ZOM.

Puncak musim hujan di Jawa Timur diprediksi terjadi pada Februari 2027, dengan 47 ZOM atau sekitar 69,2 persen wilayah. BMKG juga menyebut awal musim hujan tidak terjadi secara serentak di seluruh Jawa Timur. 

Baca Juga:
Pengaruh El Nino, Malang Raya Baru Masuk Musim Hujan pada Desember 2026

Dalam unggahan tersebut, BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur turut memberikan rekomendasi antisipasi bagi sejumlah sektor. Pada sektor sumber daya air, di antaranya mengoptimalkan pemanfaatan air tanah untuk lahan pertanian yang berisiko mengalami kekurangan air, memeriksa dan memperkuat infrastruktur air, serta mengoptimalkan pemanenan air hujan, khususnya pada Januari hingga Maret 2027.

Untuk sektor pangan dan hortikultura, penyesuaian kalender tanam serta penggunaan varietas yang lebih adaptif perlu dilakukan. Sementara pada sektor kebencanaan, mitigasi terhadap kekeringan, gagal panen, ketersediaan air baku, serta kebakaran hutan dan lahan perlu terus dilakukan. Kesiapsiagaan terhadap cuaca ekstrem pada musim hujan, seperti banjir bandang dan longsor, juga perlu ditingkatkan.(*)

Baca Juga:
BMKG: Kalimantan Barat Catat Hotspot Terbanyak, Sejumlah Wilayah Masih Berpotensi Kering