KETIK, BLITAR – Diabetes melitus masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Menjawab tantangan itu, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Kabupaten Blitar menghadirkan inovasi layanan terpadu bernama Jejak Dyah Gayatri atau Jejaring Komunitas Diabetes Melitus dengan Edukasi Keluarga dan Pelayanan Terintegrasi, Selasa 19 Mei 2026.

 

Program non-digital yang mulai diterapkan sejak 2023 tersebut lahir dari meningkatnya kasus diabetes beserta komplikasinya, termasuk luka kronis yang berisiko amputasi. Inovasi ini menjadi salah satu langkah rumah sakit dalam memperkuat pelayanan promotif dan preventif bagi pasien diabetes.

 

Berdasarkan data internal rumah sakit, kasus pasien diabetes dengan komplikasi luka di ruang penyakit dalam mengalami peningkatan dalam periode Juli 2022 hingga Juni 2023. Di sisi lain, tingkat kepuasan pasien juga menurun dari 89,1 persen pada 2022 menjadi 86,30 persen pada 2023 atau masih di bawah target minimal 90 persen.

Baca Juga:
Tanam Tebu Perdana Bongkar Ratoon 2026, Kabupaten Blitar Bidik Lampaui Target Nasional

 

Melalui Jejak Dyah Gayatri, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi membangun sistem pendampingan pasien berbasis komunitas dan keluarga. Salah satu bentuknya ialah pembentukan grup WhatsApp yang menjadi media edukasi dan komunikasi antara tenaga kesehatan, pasien, serta keluarga.

 

Dalam grup tersebut, pasien mendapatkan edukasi rutin terkait pola makan, penggunaan insulin, aktivitas fisik, hingga cara merawat kaki diabetes secara mandiri di rumah.

Baca Juga:
Ribuan Warga Padati Perwosi Smash Turney 2026, Semangat Sportivitas dan Pemberdayaan Perempuan Menggema di Kabupaten Blitar

 

Tak hanya itu, program ini juga menghadirkan terapi spa kaki diabetes yang meliputi senam kaki, pembersihan kaki, perawatan kuku, penggunaan lulur, hingga pijat kaki. Terapi tersebut bertujuan membantu melancarkan sirkulasi darah sekaligus mencegah luka gangren yang sering dialami penderita diabetes.

 

Pihak rumah sakit juga melibatkan keluarga pasien secara aktif melalui pelatihan perawatan dasar. Pendekatan ini dinilai penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien menjalani pengobatan dan mengurangi risiko komplikasi.

 

“Inovasi ini menempatkan keluarga sebagai bagian penting dalam pengendalian diabetes. Edukasi yang berkelanjutan diharapkan membuat pasien lebih disiplin menjalani perawatan,” demikian konsep yang diusung dalam program tersebut.

 

Melalui inovasi ini, rumah sakit menargetkan tingkat kepatuhan kontrol pasien diabetes dapat meningkat di atas 80 persen. Selain itu, kepuasan layanan diharapkan menembus angka minimal 90 persen dengan kualitas pelayanan rawat inap yang semakin optimal.

 

Hingga kini, Jejak Dyah Gayatri disebut telah memberikan dampak positif berupa layanan penanganan diabetes yang lebih terintegrasi, peningkatan kepatuhan pasien, hingga penurunan risiko komplikasi penyakit.

 

Dengan kolaborasi antara tenaga medis, pasien, dan keluarga, inovasi tersebut diharapkan mampu menjadi model pelayanan kesehatan yang efektif dalam menghadapi peningkatan penyakit tidak menular di Indonesia.