KETIK, BLITAR – Gerakan Masyarakat Blitar (GMB) menyatakan keberatan atas beroperasinya outlet minuman beralkohol HWG23 di Jalan Gajah Mada, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Organisasi tersebut menilai keberadaan toko yang menjual berbagai jenis minuman beralkohol itu tidak sejalan dengan karakter masyarakat Wlingi yang dikenal religius.
Koordinator GMB, Mariono Setyo Budi atau yang akrab disapa Budi Kempes, mengatakan pihaknya telah menerima sejumlah aspirasi dari tokoh agama maupun warga yang merasa keberadaan outlet tersebut menimbulkan keresahan.
Menurutnya, masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah dengan mengevaluasi keberadaan usaha tersebut sebelum memicu penolakan yang lebih luas.
“Wlingi dikenal sebagai wilayah yang masyarakatnya agamis. Di sekitar lokasi juga terdapat dua masjid yang setiap hari menjadi pusat kegiatan ibadah warga. Karena itu kami menilai keberadaan outlet minuman keras di lokasi tersebut kurang tepat,” ujar Budi, Kamis 9 Juli 2026.
Ia menegaskan, apabila aspirasi masyarakat tidak mendapat perhatian, GMB siap menggelar aksi damai sebagai bentuk penyampaian pendapat kepada pemerintah.
“Kalau outlet itu masih tetap beroperasi tanpa ada respons dari pemerintah, kami siap turun ke jalan. Tujuan kami bukan mencari keributan, tetapi menyuarakan aspirasi masyarakat yang merasa keberatan,” tegasnya.
Budi menjelaskan, dua rumah ibadah yang berada di sekitar lokasi outlet tersebut adalah Masjid Miftahul Jannah dan Masjid Taawun. Kedekatan lokasi usaha dengan tempat ibadah, menurutnya, menjadi salah satu alasan utama munculnya penolakan dari masyarakat.
“Kami berharap pemerintah mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat sekitar. Jangan sampai kebijakan yang diambil justru memicu keresahan di lingkungan yang selama ini dikenal menjaga nilai-nilai keagamaan,” katanya.
Selain menerima aspirasi dari warga, Budi mengaku sejumlah tokoh agama juga telah menyampaikan keberatan secara langsung kepada dirinya. Mereka berharap pemerintah hadir untuk mendengarkan suara masyarakat.
“Banyak pemuka agama yang menghubungi saya. Mereka meminta agar persoalan ini mendapat perhatian serius karena menyangkut kenyamanan lingkungan dan ketenteraman masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu, seorang warga yang tinggal di sekitar lokasi dan meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku merasa terganggu dengan aktivitas di sekitar outlet tersebut. Ia mengklaim beberapa kali melihat orang yang diduga berada di bawah pengaruh minuman beralkohol berada di kawasan itu.
“Kami sebenarnya ingin lingkungan tetap tenang. Saat hendak ke masjid, kadang kami melihat orang-orang yang diduga mabuk keluar masuk dari toko itu. Kondisi seperti ini membuat warga merasa tidak nyaman,” tuturnya.
Warga tersebut berharap pemerintah daerah mempertimbangkan aspirasi masyarakat sebelum persoalan berkembang menjadi polemik yang lebih besar.
“Kami ingin Wlingi tetap menjadi lingkungan yang aman, nyaman, dan sesuai dengan nilai-nilai yang selama ini dijunjung masyarakat. Harapan kami pemerintah bisa mendengarkan suara warga,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola outlet HWG23 belum memberikan keterangan resmi terkait penolakan yang disampaikan Gerakan Masyarakat Blitar maupun warga sekitar.
.png)