KETIK, BATU – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sekaligus Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Sudaryono menjawab keluhan peternak sapi perah Kota Batu terkait kebutuhan penambahan bibit sapi perah dalam Rembug Paripurna Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di Graha Pancasila Balai Kota Among Tani, Kota Batu, pada Sabtu, 19 September 2026.

Keluhan tersebut disampaikan Muhammad Munir, peternak sapi perah Kota Batu, yang mengungkapkan kondisi harga susu dan sapi lokal saat ini. Menurutnya, kenaikan harga susu telah memberikan dampak yang menggairahkan bagi peternak.

“Sebelumnya kami sampaikan terima kasih juga berkah dari MBG ini, sekarang ini harga susu ini sudah naik Pak, bisa Rp8.000 lebih,” ujar Munir dalam forum tersebut.

Ia juga menyebut harga sapi lokal kini dapat mencapai Rp40 juta. Kondisi tersebut dinilainya memberikan dorongan sekaligus daya tarik bagi peternak untuk mengembangkan usaha peternakan sapi perah.

“Dan itu juga diikuti sekarang dengan harga sapi lokal di bidang sapi lokal itu sekarang bisa tembus Rp40 juta. Nah ini sesuatu yang menggairahkan juga menggiurkan bagi peternak kita,” katanya.

Baca Juga:
Buka Rembug KTNA di Kota Batu, Sudaryono Sebut KTNA Sahabat Dekat Prabowo

Namun, Munir menilai peningkatan kebutuhan susu perlu diikuti dengan penambahan bibit sapi perah.

Ia berharap pemerintah dapat memperbesar ketersediaan bibit, terutama melalui pengadaan sapi perah impor dengan kualitas yang lebih baik.

“Sehubungan dengan kebutuhan susu yang begitu besar, mungkin bibit sapi perah ini sekiranya itu bisa ditambah. Kalau yang lebih bagus itu mungkin bibit sapi perah impor,” ungkapnya.

Penambahan bibit dari peternakan lokal, tambah dia, tidak otomatis meningkatkan jumlah populasi sapi perah. Ia menggambarkan perpindahan sapi antardaerah hanya membuat populasi berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.

Baca Juga:
Rembug KTNA Nasional 2026, Wali Kota Batu Cak Nur Tegaskan Swasembada Pangan Wajib Sejahterakan Petani

“Karena kalau penambahan bibit sapi perah ini dari lokal, itu bukan bertambah tapi sapinya saja yang berwisata,” ujarnya.

Munir berharap kebutuhan bibit sapi perah impor dapat diperbesar untuk menjawab kebutuhan produksi susu yang semakin besar.

“Makanya harapan kami nanti penambahan bibit sapi impor ini bisa berbanyak, juga bisa diperbesar,” kata Munir.

Menanggapi keluhan tersebut, Sudaryono menyampaikan rencana penerbitan surat edaran pada Oktober. Ia mengatakan telah berkomunikasi dengan asosiasi terkait kebijakan mengenai susu yang digunakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kira-kira nanti di Oktober saya sudah siapkan surat edaran, saya sudah bicara dengan asosiasi terkait,” ujar Mas Dar, sapaanya.

Melalui surat edaran tersebut, Sudaryono menyampaikan bahwa seluruh dapur MBG nantinya hanya diperbolehkan mengambil susu dengan kandungan susu segar minimal 80 persen.

Ketentuan itu berbeda dengan edaran sebelumnya yang menetapkan kandungan susu segar sebesar 20 persen, sementara sisanya diisi susu bubuk.

“Jadi ini akan kita keluarkan surat edaran di mana seluruh dapur MBG itu hanya boleh mengambil susu yang kandungan susu segar minimal 80 persen,” jelasnya.

Mas Dar mengatakan perubahan ketentuan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat lebih besar bagi peternak susu di Indonesia. Menurutnya, anggaran besar dalam program MBG semestinya turut memberikan dampak terhadap peternak susu lokal.

“Nah kita gak mau, jangan sampai program MBG yang triliunan ini itu kemudian bikin kaya orang lain, harus membuat kaya peternak susu se-Indonesia,” tegas Sudaryono.

Ia menilai persyaratan kandungan susu segar minimal 80 persen dapat mendorong aktivitas peternak susu lokal di sejumlah daerah. Ia menyebut Kota Batu, Pasuruan, Boyolali, Banyumas, serta Blitar sebagai wilayah yang diharapkan ikut merasakan dampaknya.

“Dengan syarat 80 persen susu segar ini insya Allah akan menggeliatkan lagi peternak-peternak susu lokal,” tambah dia.

Menurut Sudaryono, langkah tersebut juga sejalan dengan target Presiden Prabowo Subianto terkait kemandirian Indonesia dalam memenuhi kebutuhan susu dan daging.

“Karena Presiden Prabowo ingin kita ini swasembada susu dan swasembada daging,” pungkasnya. (*)